Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Menemani


__ADS_3

Kisya terbangun karena suara gaduh di bawah. Matanya begitu berat untuk sekedar membuka. Agak perih dan memang sangat sembab. Wanita itu bangun dan beranjak turun dari tempat tidurnya dan bergegas untuk mandi. Kisya mandi dan mengenakan pakaian. Dia berjalan perlahan dan dari lantai atas Kisya menatap pemandangan yang membuat mulutnya tersenyum dengan manis.


Kisya berjalan dengan perlahan. Mendekati arah kebisingan. Ternyata semuanya berawal dari dapur. Hati Kisya begitu hangat ketika melihat Mama Murni dan Lintang sedang asik memasak. Dengan Baby Vano yang sedang asik mengajak ngacak tepung terigu. Membuat Kisya tersenyum dengan riang. Rasanya beban dihatinya sedikit berkurang. Apalagi dia melihat si bayi sudah penuh dengan tepung terigu.


Mama Murni sendiri tidak memperhatikan Baby Vano karena dia sedang memasak bersama Lintang. Mama pikir Baby Vano anteng dan baik-baik saja. Karena itu Mama Murni terus asik memasak. Tanpa menghiraukan Baby Vano yang sudah berbalut dengan tepung terigu. Ya tinggal di goreng hahaha.


Kisya mendekati Baby lucunya. Dan mengarahkan camera ponsel dan memotret kegiatan sang batita kesayangan.



"Ya ampun anak Mommy sungguh menggemaskan, kamu itu lucu sekali, mainan apa sampai penuh seperti ini nak?" Kisya tersenyum dan mencubit pelan pipi gembil anak tampannya. Sedang Baby Vano hanya tersenyum dengan riang gembira. Dia pikir tepung terigu itu adalah bedak Baby yang biasa Kisya balurkan di seluruh tubuhnya. Namanya juga anak kecil mana tahu perbedaan tepung terigu dan bedak bayi. Karena yang dia lihat warnanya putih dan sama-sama bisa di taburkan.


Sehingga bayi itu menaburkan semua tepung terigu ke wajah, kepala dan seluruh tubuhnya.


"Andai Daddy kamu lihat keadaan kamu sekarang dede, dia pasti sangat senang ya, Daddy baru berangkat tadi pagi ke Belanda sayang, dede tadi masih bobo ya, jadi tidak bertemu dengan Daddy deh." ucap Kisya sambil tersenyum kepada sang buah hati. Baby Vano tersenyum dan berceloteh dengan bahasa bayi-nya.


"Eh Kikis kamu dah bangun?" Tanya Lintang sambil menyimpan hasil masakannya di meja makan.


"Iya nih, semalaman aku gak bisa tidur Lin, cemas Banget." Kisya berkata dengan tatapan yang kosong. Dia masih sesak nafas ketika mengingat bahwa suaminya sudah berangkat ke Belanda. Dan belum memberi kabar sama sekali. Mungkin saja Jino memang belum sampai di tempat tujuan. Kisya sendiri tidak tahu berapa jam jarak tempuh yang harus di lalui dari Indonesia ke Belanda.


Karena itu Kisya akan bersabar sampai sang suami menghubungi dirinya. Karena itu Kisya selalu mengantongi ponselnya. Agar kelak pas Jino menghubungi, Kisya bisa langsung mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"Mata kamu bengkak seperti itu, sini akun kompres, aku tahu kamu pasti nangis, jadi aku langsung nyimpen sendok di lemari es. Untuk mengompres mata sembab kamu." ucap Lintang dengan senyum manisnya. Lalu Lintang duduk di lantai bersama Kisya dan membantu mengomores mata kisya yang bengkak.


"Makasi Lintang!" Kisya tersenyum. Dia begitu senang dengan kedatangan lintang untuk menemani dirinya. Sekitar 10 menit Lintang membantu Kisya mengompres matanya. Dan kini mereka langsung bersiap untuk makan. Kisya juga sudah mulai lapar. Kisya makan terlebih dahulu. Bersama dengan yang lainnya. Sedang Baby Vano di biarkan saja nermain tepung terigu sampai Kisya dan yang lain selesai makan.


Selesai menyantap makanannya. Kisya lalu membawa Baby Vano ke halaman belakang. Dan menceburkan Baby Vano ke kolam renang. Kisya mengajari Baby Vano berenang lagi. Sekalian membasuh semua tepung yang mengotori seluruh tubuhnya. Kini kolam renangnya menjadi kotor.


Baby Vano terlihat Senang bermain air. Lintang hanya tersenyum melihat Kisya mengajari Baby Vano berenang. Baby Vano terlihat menggigil karena kedinginan. Lalu Kisya dengan segera memeluk sang buah hati dan membawanya ke dalam kamar untuk berendam air hangat dan menyabuni seluruh tubuh sang bayi.


Lagi-lagi Baby Vano terlihat senang. Mereka sungguh sangat bahagia. Sesaat Kisya melupakan rasa gelisahnya karena ditinggal tugas oleh sang suami. Baby Vano adalah anak yang sangat Kisya sayangi. Bahkan melebihi kasih sayangnya terhadap Jino. Kisya tidak mau di anggap ibu tiri yang kejam. Karena sesungguhnya memang dia begitu menyayangi Baby Vano setulus hati.


Setelah bermain dan mandi. Si Baby lucu itu alhirnya lelah dan tertidur dengan lelap. Baby Vano tidur di samping Baby Cery.


"Mereka tidur tanpa beban apapun." ucap Kisya menatap kedua bayi di hadapannya.


"Iya betul sekali, aku juga ingin segera hamil Lintang, tapi tadi pas mandi, aku malah keluar plek, ah sebalnya aku!" Kisya merasa sangat kecewa karena dia masih datang bulan walau kali ini datang bulannya hanya plek saja. Kisya ingin segera hamil. dia berharap pleknya tidak berkelanjutan. Kisya sudah siap merawat anak-anaknya. Apalagi Kisya sangat suka Baby Cery. Kisya sangat ingin memiliki Baby secantik Baby Cery.


"Sabar saja, siapa tau bulan depan sudah isi!" ucap Lintang menyemangati sang sahabat.


"Menantuku ini sangat cantik, aku akan menyayangi dia sepenuh hati," ucap Kisya sambil mengecup Beby Cery.


"Baiklah, aku akan melepas Baby Cery bersamamu, tetapi setelah menikah mereka harus tinggal bersamaku!" ucap Lintang.

__ADS_1


"Eh ko begitu?" Kisya terkekeh dengan keinginan Lintang.


"Iya, aku ga bisa jauh dari Baby Cery," ucap Lintang dengan senyuman manjanya.


"Tapi aku juga sama, gak bisa jauh dari Baby Vano, lalu gimana dong?"


"Ah aku pusing." ucap Lintang.


"Aku juga," kisya terkekeh. Lalu mereka tertawa dengan gembira. Mereka seolah melepas beban dan penat dihati masing-masing. Mereka menertawakan bayi mereka yang masih kecil, yang sudah mereka perebutkan tempat tinggalnya. Padahal mereka masih bayi. Dan rencana pernikahan masih dua puluh tahun lagi. Mereka masih tertawa dengan rencana konyol mereka.


🌺🌺🌺


Di sisi lain Jino masih berada dalam pesawat dan beberapa saat lagi dia akan segera sampai di tempat tujuan. Dia ingin cepat sampai. Dia sudah sangat geram dengan semua tingkah Jacob. Jino harus segera memberi pelajaran pada pria tua tidak tahu diri itu. Sudah di beri kepercayaan malah menikam dari belakang. Sepanjang jalan Jino terus memperhatikan layar tablet miliknya. Dia melihat hasil laporan dari orang kepercayaannya di Belanda.


"Dasar pria tua berengsek, gara-gara ulahmu aku harus pergi meninggalkan istri dan anaku, aku harus memberi kamu pelajaran agar kamu tau siapa aku yang sebenarnya!" Jino merasa sangat geram di buatnya. Wajahnya merah padam menahan semua amarah. Suhu tubuhnya seolah terbakar dan ingin segera melenyapkan orang yang  bernama Jacob itu.


🌺🌺🌺


Bersambung.


Hai sayang, jangan lupa ya tekan jempol dan love nya ya, biar aku tambah semangat untuk menulis.

__ADS_1


Terimakasih banyak, salam sayang dariku. Lee / Evangelin Harvey.


__ADS_2