Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Terjaga


__ADS_3

Tanpa menunggu lama Kisya sudah terlelap dan di buai oleh mimpi. Kisya terlelap sambil memeluk Jino dengan erat. Jino yang masih bersembunyi di dada Kisya merasakan sangat sesak. Kisya mendekap dan menghimpit wajah Jino sampai Jino sulit bernafas.


"Hah hah."


Jino Ter-engah-engah menarik nafas panjang. Setelah bebas dari pelukma Kisya yang erat.


"Gadis ini membuatku hampir mati."


Ucap Jino sambil menatap Kisya yang sedang asik terbuai mimpi. Jino melihat betapa sejuknya wajah Kisya ketika tertidur. Wajahnya begitu polos dan seperti tanpa dosa.


"Cantik sekali." Gumam Jino sambil menatap wajah cantik Kisya. Kulit putih Kisya yang tanpa noda membuat Jino menjadi sangat takut untuk menyentuhnya. Takut membuat noda di tubuh yang terlihat polos itu. Jino lalu beranjak dan melihat ke bagian bawah Kisya.


"Gadis ceroboh, mana boleh masuk ke kamar pria dengan menggunakan rok sependek ini."


Jino menelan Saliva sambil melihat betis dan paha Kisya yang ter-umbar jelas. Jino lalu bangun dan menarik selimut dan menutupi tubuh Kisya dengan selimut itu. Lalu menyelimuti baby Vano juga.


Jino bangun dan duduk di sofa. Seolah menonton Kisya dan bayinya sedang bermain di alam mimpi. Waktu sudah menunjukan angka 3 pagi. Namun Jino sama sekali tidak bisa tidur. Jino Masi bertarung dengan hawa nafsunya. Di satu sisi Jino ingin sekali mendekap, memeluk Kisya serta membuat kisya tak berdaya dalam cintanya. Dengan kata lain jiwa laki-lakinya ingin sekali meneguk manisnya tubuh gadis yang ada di hadapannya.


Jiwa jahatnya ingin sekali terpuaskan. Namun dengan sekuat tenaga Jino melawan semua hawa setan yang sudah mengelilingi pikiranya. Jino terduduk sambil memerangi jiwa jahatnya. Terlihat Kisya memeluk baby Vano. Jino segera bangun takut baby Vano kesulitan bernafas.Tetapi aneh nya Kisya memeluk baby Vano dengan lembut walaupun sedang tidur lelap.


Jino duduk di samping baby Vano menatap inten kedua mahluk yang tidak mirip sama sekali. Baby Vano sangat tidak mirip dengan kisya. Baby Vano lebih mirip denganya. Hidup memang kadang tak adil. Ia memilih keberuntungan tanpa mendengarkan permohonan para hamba.


Jino bahkan tidak pernah berdo'a.

__ADS_1


Berharap semua indah saja tidak pernah terbesit. Dunia begitu baik, Seolah dia bekukan satu kalimat abadi dalam hatinya.


"Aku mendapatkanmu dengan paksaan , Tanpa seorang pun aku merasa cukup, Tak berguna semua orang, Saat kamu adalah milikku. Tak seorangpun pendosa merasakan indahnya menjadi aku." Jino terus menatap kedua mahluk yang paling dia kasihi itu.


Jino mengelus lembut pipi tebal seperti bapau itu. Seorang bayi kecil yang terlihat begitu lemah dan rapuh. Tetapi sangat berharga dalam hatinya.


"Kalian berdua adalah hidupku, tidak tau aku harus berkata apa, tetapi malam ini adalah malam terindah karena kita bertiga bisa bersama, aku akan melindungi kalian setidaknya malam ini, entah lah untuk besok dan selanjutnya, bahkan mungkin ini adalah malam terkahir kita bersama, setelah resepsi tiba maka aku akan hidup dalam bayangan cintamu selamanya.".


Jino mengela nafas berat mengingat bahwa sebentar lagi dunia akan mengenal Kisya sebagai nyonya georjeffan.


Jino mengecup kening buah hatinya yang tertidur dengan pulas . Diapun merebahkan tubuh lelahnya di samping manusia kecil yang sangat menakjubkan. Baby Vano mungkin. Merasa sangat nyaman karena tertidur di tengah-tengah kedua orang tuanya. Dengan susah payah Jino memejamkan matanya. Tetapi tiba-tiba saja.


Bugg.


"Ada apa dengan mommy mu nak, tidurnya bertenaga sekali, padahal waktu di wisma dia sangat imut, kenapa malam ini tiba-tiba tidurnya aneh?..


Gumam Jino sambil menggendong baby Vano ke bok bayi. Jino menidurkan buah hatinya di dalam bok bayi karena takut ketiban Kisya. Lalu Jino duduk di sudut tempat tidurnya sambil memandangi Kisya yang kembali berulah karena malah menindih selimut nya ,dan membuat paha putih nya ter-umbar kemana-mana.


"Yatuhan , cepatlah pagi ."


Gumam Jino menghela nafas berat karena melihat Kisya begitu seksi.


Dengan berat Jino menelan Saliva. Lalu dengan perlahan Jino menarik selimut yang Kisya tindih. Dan menutupi bagian tubuh Kisya yang terbuka. Jino benar-benar mengantuk tetapi dia tak bisa tidur di samping Kisya. Jino lalu berjalan menuju ke sofa. Dan merebahkan dirinya di atas sofa itu. Jino mencoba memejamkan matanya tetapi teramat berat.

__ADS_1


Sesekali Jino memandangi kisya dan lagi-lagi entah kenapa malam itu tidur kisya sangat bertingkah. Jino terkekeh betapa lucunya gadis itu. Kisya tidur begitu gelisah. Dia mulai miring ke kiri dan kekanan dengan sangat lucu di mata jino. Jino terduduk kembali dan mendekati gadis itu. Jino duduk di samping Kisya dan kembali menatap cara tidur kisya yang beda dari kemaren.


"Dia tidak mau diam, apa aku harus memeluknya supaya diam."


Ucap Jino dengan senyuman manisnya. Dengan hati yang berdebar Jino mencoba memeluk tubuh mungil itu. Jino memang merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Karena memang itu akan membuat dia semakin ber-aura dan tak bisa tidur. Tetapi dia juga merasa tidak nyaman harus terus melihat bagian bawah Kisya yang selalu terbuka.


Helaan nafas berat dia lontarkan, Jino perlahan memeluk gadis yang kini sedang terlelap itu. Jino memejamkan matanya dan merasakan bahwa darahnya begitu naik dan jantungnya seraya mau meledak. Pikiranya melayang entah kemana, dan Jino sedang berusaha bertarung dengan hawa nafsunya. Jino ingin sekali melahap habis gadis yang sedang dia peluk ini. Akan tetapi rasa cintanya menjadi pagar dan melindungi hatinya dari bisikan jahat nafsunya.


Jino merasakan kenyamanan dalam pelukan itu. Walau memang kejahatan hatinya masih mendominasi. Jino memejamkan mata namun tak bisa. Jino melihat wajah Kisya begitu cantik. Lalu Jino menyentuh lembut bibir kisya dengan jemarinya. Bibir yang sangat cantik dan penuh dengan madu.


Seolah Jino ingin sekali merasakan manisnya bibir itu. "Aku ingin mengecup bibir indah ini."


Ucap Jino dengan suara seraknya. Eh tetapi tiba-tiba Kisya membuka Matanya.


Jino terkejut, lalu mendorong Kisya karena malu. Kisya hampir jatuh karena di dorong oleh Jino . Lalu dengan sigap Jino menarik tubuh Kisya kembali . Dan tanpa sengaja.


Cup.


Bibir mereka bersentuhan .


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2