Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Sebulan Berpisah


__ADS_3

Kisya sampai di rumah bunda Nisya. Dia merebahkan diri di sofa ruang TV-nya. Sedang bunda Nisya bergegas memasak sesuatu untuk Kisya.


Kisya lalu menerima panggilan telepon dari Lintang.


"Kiss, lagi ngapain say?" ucap Lintang di telepon.


"Baru pulang Lin," jawab Kisya pelan.


"Wow yang baru balik bulan madu, ya. Manis banget pastinya," kata Lintang.


"Ahh... Emhh..."


Kisya tidak bisa menjawab. Dia bingung harus menjawab apa,"


"Kalo ada tanda-tanda, oleh-oleh, beri kabar ya!" kata Lintang.


"Tanda-tanda oleh-oleh. Apa maksud kamu Lintang, sayang?" Kisya terkekeh.


"Ya apa lagi dong, oleh-oleh honeymoon ya bayi ha ha ha," Lintang terkekeh.


Deg.


Kisya tidak bisa menjawab. Pikirannya benar-benar kalut. Dia memang kemaren sedang di Korea. Apa iya dia sedang berbulan madu dengan Jino. Kenyataan yang dia tolak.


"Oke Lin aku mau istirahat dulu ya!'


ucap Kisya pelan.


"Oke sist... Miss you,"


"Miss you to, Lintang sayang," Lalu Kisya pun menutup teleponnya. Kisya masih bingung dengan keadaan. Lalu bunda pun datang.

__ADS_1


"Ada apa sayang?" tanya bunda lembut.


"Bun, Baby Vano itu," ucapan Kisya terhenti.


"Iya. Vano bayi yang kamu lahirkan sayang. Anak kamu dan Jino," ucap bunda pelan. Bunda mengingatkan, agar kisya tidak melupakan hal itu.


Deg.


Hati Kisya serasa di remas.


"Bunda. Aku kehilangan banyak waktu. Jino menodaiku sudah 2 tahun yang lalu. Sekarang Baby Vano saja sudah mau 2 tahun. Selama ini apa yang Kikis lakukan bunda, Kikis agak bingung, apa iya Kikis mencinta Jino, kenapa bayangan Kikis bersama Jino selalu datang," ucap Kisya dengan air matanya yang menetes.


"Kamu sakit sayang. Kamu shok berat. Kamu mencoba bunuh diri karena terpukul mendengar kamu hamil. Dan kamu koma selama 8 bulan. Saat kamu siuman kamu kehilangan ingatan kamu. Dan melupakan masa lalumu yang menyedihkan. Kamu hendak menikah dengan Jeff tetapi Jeff telah di panggil Tuhan terlebih dahulu. Sehingga Jino bertekad untuk bertanggung jawab. Kisya sayang... Percayalah sama bunda kalo Jino sudah berubah. Jino dan kamu kalian sudah saling mencintai. Sekarang lupakan masa lalu dan maapkanlah Jino!" tutur Bunda Nisya dengan mata berkaca-kaca.


"Bunda berbicara seperti itu karena tidak merasakan menjadi aku. Bunda enggak tau sakitnya, ketika harga diri kita di lecehkan. Rasanya hancur bunda," kisya berteriak dan menangis dengan tersedu.


"Iya sayang maap, maapkan bunda. Terserah kamu mau bagaimana pun.Tapi Baby Vano tidak bersalah sayang. Dia anakmu dia cucu bunda. Kalo ayah masih ada. Pasti dia akan sangat bahagia memiliki cucu setampan Baby Vano," ucap bunda dengan air mata yang menetes.


"Aku takut bunda, aku masih takut sama Jino. Wajah Baby Vano sangat mirip sekali dengan Jino. Kikis engga mau ketemu Jino dulu bunda, tapi Kikis rindu bayi itu," ucap Kisya tersedu.


Kisya masih terisak dalam pelukan bundanya. Merasakan rasa sakit mengingat masa lalu yang menjadi kenangan buruknya. Selalu teringat bagaimana Jino memperlakukannya. Bagaimana Jino menyiksanya bagaimana Jino tak menghiraukan jerit tangisan dan permohonannya. Ingatan-ingatan itu selalu tergambar di pikirannya. Membuat Kisya semakin takut untuk bertemu Jino.


Sebulan kemudian.


Waktu berlalu tanpa terasa sebulan sudah kisya pergi dari rumah Jino. Mereka sama sekali tidak ada komunikasi. Kisya mematikan handphone lamanya. Kisya membeli ponsel baru dan itu membuat Jino sama sekali tidak bisa mengubungi Kisya.


"Sayang makan dulu!" kata bunda Nisya kepada Kisya.


"Nanti saja bun, kisya masih banyak tugas," jawab Kisya.


"Apa-apaan, kamu tidak boleh menunda makan demi tugas kuliah yang tidak ada habisnya. Dengarkan bunda ayo makan sekarang, kalo tidak nanti bunda marah!" kata bunda Nisya kepada sang buah hati kesayangannya.

__ADS_1


"Kikis tidak merasa lapar bunda," kata Kisya.


"Sayang, ayo makan nak!" bujuk bunda Nisya.


"Baby Vano apakah dia sudah makan bunda?" ucap kisya pelan sambil menatap sang bunda dengan tatapan yang berkaca-kaca.


"Apa Kikis merindukan Baby Vano?" tanya Bunda Nisya dengan peluh. Bunda sungguh tidak tega melihat kisya seperti itu.


"Iya Kikis rindu bayi itu! Kikis harus bagaimana?" Sekali lagi kisya menangis karena menahan kerinduan untuk sang buah hati. Tanpa terasa satu bulan sudah mereka terpisah. Tanpa komunikasi sama sekali.


" Ayo kita temui cucu Bunda, kita ke rumah Jino!" bujuk bunda Nisya.


"Tidak bunda!" kata kisya menggelengkan kepalanya.


Dan ketika itu Bunda Nisya tidak bisa berbuat apapun. Padahal Bunda Nisya sangat berharap Kisya mau bertemu dengan Jino dan Baby Vano. Bunda Nisya bahkan mendapat kabar kalo Jino sakit. Jino benar-benar lemah. Tetapi bahkan Jino tidak mau berobat ke Dokter.


"Kis,"


"Iya Bunda,"


"Jino sakit,"


"Huh, jangan sebut dia hadapan Kikis bunda," sela Kisya sambil menatap wajah Bundanya.


"Baiklah, kalo memang itu maumu," kata Bunda Nisya. Dia tidak bisa berbuat apapun. Untuk membujuk kisya kembali kepada Jino. Kisya masih dengan keras hatinya. Bertahan dengan rasa egoisnya. Kisya yang dulu lemah lembut kini berubah menjadi Kisya yang pendendam dan keras hati. Sehingga dia membutakan mata dan hatinya untuk semua kenangannya bersama dengan Jino.


Sesaat Kisya terdiam. Bayangannya berkumpul dan tertawa bahagia bersama sang suami kini muncul kembali. Dan kini batinnya sedang bertempur keras antara rasa cintanya dan rasa egoisnya.


Helaan napas berat Kisya lontarkan. Wanita itu memejamkan matanya. Dan kini Jino datang kembali dalam bayangannya. Dimana pun dia berada. Jino bahkan selalu hadir. Itu membuat Kisya semakin lemah dan serasa ingin memaapkan suaminya.


"Jino breng**k, kenapa kamu selalu hadir dalam setiap aku menghela nafas, aku harus melupakanmu, melupakan semua perbuatan jahatmu padaku," batin Kisya bergejolak ketika setiap dia melangkah, selalu ada bayangan kebersamaannya bersama dengan sang suami. air matanya menetes secara tiba-tiba. entah ini rasa rindu atau rasa benci. yang pasti kali ini Jino bagaikan hantu. Selalu berada dalam pikiran Kisya.

__ADS_1


"Kis, kenapa menangis?" Bunda Nisya merasa cemas melihat putri kesayangannya menitikan air matanya. Kisya kini hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sendiri kebingungan dengan apa yang dia rasakan.


Bersambung.


__ADS_2