Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Ijab kabul


__ADS_3

Jino dengan jantungnya yang berdebar merasa sangat tidak sabar menunggu Kikis datang. Dia sudah beberapa kali merubah posisi duduknya. Jino terlihat gelisah. Ada sebuah ketakutan dalam dirinya yang tak bisa dia ungkapkan. Dia takut kisya mengingat semuanya sebelum akad nikah terjadi. Jino takut Kisya kabur. Bagaimana ceritanya kalo Kisya sampai lari dari pernikahan.


Pasti dirinya akan sangat sakit hati dan menyedihkan di mata orang. Hatinya pasti akan hancur lebur ketika itu sampai terjadi.


Itu adalah ketakutan Jino yang terbesar. Sebisa mungkin Jino menarik nafas dan mengatur degup jantungnya. Dia sangat ingin melihat kisya dengan segera. Detik demi detik terasa begitu lamban baginya. Pandangan mata Jino tak berpaling sedetikpun dari jam dinding yang terpajang besar itu.


Tiba-tiba saja suasa hening menjadi sangat riuh. Ketika saat itu sang pengantin perempuan yang di tunggu datang dengan menggunakan kebaya putih modern. Mata Jino seolah sangat silau melihat seseorang bidadari berjalan ke arahnya. Jino menelan saliva dengan cepat.


"Yatuhan, cantik sekali calon istriku!" Ucap Jino dalam hatinya. Sambil terus memperhatikan langkah Kisya yang begitu elegan. Kisya berjalan perlahan. Karena bajunya yang yang sangat indah telah mempengaruhi posisi jalannya sehingga lebih pelan. Dia laksana seorang bidadari yang turun dari khayangan. Sungguh tak bisa di ungkapkan kecantikan Kisya saat ini.


"Ya ampun, ternyata pengantin perempuannya begitu cantik, wah mereka sangat cocok!" Ucap salah satu tamu undangan.


Kisya berjalan sambil tersenyum manis menatap satu persatu tamu undangan yang memuji kecantikanya. Kini kisya sudah duduk di samping jino. Jantung jino semakin bergetar ketika kisya duduk tepat disebelahnya. Kisya tidak menatap jino sama sekali. Karena kisya juga merasa sangat gugup dibuatnya.


Ini adalah pernikahan yang pertama untuk keduanya. Sehingga mereka sangat berdebar tak karuan. Kisya memang pernah dinikahi oleh Jeff dahulu, tetapi dahulu kondisi Kisya tidak seperti ini. Bahkan dulu Kisya tidak sadarkan diri karena koma. Tapi sekarang Kisya akan menikah dan sedang sadar. Sehingga gadis itu merasa sangat gugup di buatnya.


Kegugupan Jino pun begitu terlihat. Jino yang orang tau sebagai duda beranak satu. Padahal sesungguhnya jino adalah seorang pria yang belum pernah menikah sama sekali. Sebuah insiden memulai hubungan mereka. Membuahkan sebuah bayi yang lucu. Dan sekarang waktunya mereka bersatu. Mereka akan segera menyatu dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci.


Baby vano di gendong oleh sang bunda yang kini duduk di belakang Jino dan kisya.

__ADS_1


"Lihat cucuku, Daddy sm Mommy kamu akan segera bersatu, kamu tidak akan merasa kekurangan kasih sayang lagi nak, oma doakan semoga kamu cepat punya adik." Ucap Bunda Nisya sambil mengecup kening sang cucu tercinta. Baby Vano menjerit kegirangan ketika Bunda Nisya mengecup lembut kening sang bayi.


Kini penghulu sudah duduk di hadapan Jino dan Kisya. Sepasang kekasih itu terlihat gugup dan pucat. Kisya sudah tidak memiliki seorang ayah. Dan tidak ada yang bisa menjadi wali nikahnya. Sehingga wali nikah akan di wakilkan kepada seorang ustad sebagai pelimpahan wali hakim. Dan akhirnya semuanya sudah siap.


Semua tamu undangan yang tadinya berisik kini terdiam dan suasana menjadi sangat sepi. Jantung Jino semakin berdebar di buatnya. Akhirnya Penghulu mulai membimbing jino mengucapkan ijab kabul.


"Saya terima nikahnya Nakisya Allana Putri binti Andi Darmawan. Dengan maskawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian dibayar tunai." Ucap Jino dengan lantang dan menggema. Mengucapkan ijab kabulnya.


"Bagaimana saksi?" Ucap Pak penghulu.


"Sah."


"Sah."


Ucapan itu terdengar begitu merdu. Ketika para saksi mengatakan bahwa kini Jino sudah sah menjadi suaminya Kisya. Kisya meneteskan air matanya. Sebuah rasa haru yang kini menyelimuti dadanya. Dia merasakan sebuah perasaan yang aneh. Perasaan senang namun juga sedih. Kisya menunduk dan menangis dalam diam.


Jino merasakan sebuah perasaan senang tak terkira. Mata Jino sudah berkaca saking dia merasakan perasaan senang yang tak bisa dia bendung. Hampir menangis karena haru.


"Silahkan, mau memasangkan cincin?" Pak penghulu berkata dengan senyuman. Pak penghulu ini adalah orang yang menikahkan Kisya setahun lalu. Dan tau kejadian tentang Jino dan Kisya. Sehingga Pak penghulu senang akhirnya Jino bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Kisya.

__ADS_1


Jino akhirnya mengambil kotak cincin yang di berikan oleh Mama Murni. Jino membuka kotak tersebut. Dan mengambil satu cincin untuk di pasangkan kepada jari manisnya Kisya. Jino meraih jemari Kisya yang lentik dan cantik. Kini penuh dengan riasan hena. Jino menatap Kisya dengan tatapan penuh cinta. Lalu Jino memasangkan cincin itu dengan penuh kasih sayang.


Air mata kisya kembali menetes ketika kini jemarinya sudah di beri tanda. Kini giliran Kisya yang memasangkan cincin di jari manis sang suami. Kisya agak bergetar saat dia memasangkan cincin tersebut. Tetapi akhirnya dia bisa melakukanya.


"Butuh perjalanan panjang untuk sampai disini." Ucap Jino pelan sambil mengecup kening Kisya Dengan lembut. Kisya masih menangis dengan rasa harunya. Begitupula dengan Jino yang sebisa mungkin menahan supaya tidak menangis. Bagaimana Jino tidak ingin menangis ketika dia menyadari dari awal begitu banyak liku kehidupan mempermainkan mereka. Mengingat perbuatanya yang bejad dan membuat istrinya menjadi trauma berat.


Kini Jino akan menebus semua dosa yang dia perbuat kepada Kisya seumur hidupnya. Jino berjanji akan selalu membahagiakan Kisya selamanya. Setelah Jino mengecup kening Kisya kini Kisya mengecup punggung tangan Jino dengan lembut. Sebuah air mata menetes dan jatuh di punggung tangan Jino.


Jino menatap mata indah sang istri yang kini telah basah dengan air mata haru. Namun mata itu masih terlihat begitu indah. Kisya pun tanpa sengaja menatap mata Jino.


Deg.


Jantung mereka berdua berbedar begitu kencang. Mereka saling menatap untuk pertama kali sebagai sepasang suami istri. Kisya dengan segera memalingkan wajahnya. Karena jantungnya begitu berdebar ketika Jino menatapnya seperti itu. Kini mereka berdua bersiap untuk sungkem dan bersalaman kepada kedua orang tua mereka serta kepada kerabat dekat mereka.


Jino memeluk erat sang Papa. Papa Geovandra meneteskan air mata suka cita. Dia begitu bahagia menikahkan Jino. Putra kesayanganya kini sudah memiliki seorang istri.


"Terimakasih untuk semuanya Pa!" Jino memeluk sang Papa Dengan haru biru yang menyelimuti.


"Putraku, semoga kamu bahagia nak, jadilah suami yang setia yang selalu menjaga dan melindungi istrimu seumur hidup kamu nak!" Papa terus memeluk Jino dengan penuh kasih sayang. Jino sudah menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun tak bisa ia tahan. Air mata itu akhirnya menetes pula. Dengan segera Jino mengusap air mata itu agar tidak terlihat oleh orang lain.

__ADS_1


"Iya pa, Jino berjanji!"


Bersambung🌺


__ADS_2