
Kisya lalu pergi meninggalkan Rania sendiri. Rania mengepalkan tangannya dengan aura kekesalan yang sudah merasuk dalam jiwanya. Dia tidak berhasil meracuni pikiran Kisya. Dia bahkan tidak berhasil membuat Jino tergoda oleh wanita lain. Dia harus memutar otak supaya Jino dan Kisya berpisah. Dia tidak mau Kisya bahagia di balik semua luka dan derita yang dia rasa.
Dia merasa sangat iri karena Kisya bisa bahagia bersama Jino, sedang dia menderita karen kehilangan Jeff. Rania merasa sangat kesal dan marahnya sudah memuncak. Pikirannya buntu saat ini. Dia tidak bisa berfikir apapun. karena otaknya sudah di penuhi dengan kebencian. Kasihan sekali rania, dia bahkan tidak bisa menikmati hidupnya karena terlalu banyak mendendam dan membenci karena hal yang sepele.
Di sisi lain, Kisya berjalan dengan sebuah kelegaan. Tubuh Kisya masih bergetar karena rasa marahnya yang membludak. Dia sendiri merasa bingung, dia sampai bisa berkata seperti itu kepada orang lain. Karena selama ini Kisya selalu baik hati ramah dan tidak sombong. Tetapi entah kenapa Kisya kali ini bisa jadi orang yang keras dan mengancam orang seperti itu.
Mungkin itu yang di namakan naluri seorang istri dan naluri seorang Ibu yang ingin mempertahankan semua hak miliknya. Mempertahankan keluarganya dari godaan syetan yang terkutuk. Anehnya dia merasa lega bisa berkata seperti itu kepada Rania. Dia sudah geram pada temannya itu. Selalu mengganggu dirinya. Karena itu, mau tidak mau Kisya harus berkata-kata kasar supaya Rania tahu. Bahwa dirinya tidak selemah yang Rania pikirkan.
Gadis polos dan hati yang bersih itu kini menjadi seorang wanita yang harus berusaha mengamankan aset hatinya dari nenek sihir yang bisa saja mencuri aset hatinya sewaktu-waktu. Jino dan Baby Vano adalah aset dalam hatinya yang tidak bisa teegantikan. Karena itu, sekuat tenaga dia akan menjanya dengan baik sehingga tidak akan ada peluang pencuri masuk dan menganmbil mereka.
Setelah bergelut dengan pikirannya. Tanpa dia sadari bahwa dia sudah sampai di kelas. Kisya lalu masuk ke dalam kelas dan mulai belajar. Kisya berusaha menghilangkan semua rasa cemas dan kesalnya. Dia hanya ingin fokus belajar saja.
Butuh waktu lima jam sampai akhirnya Kisya bisa pulang ke rumah. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan si buah hati kesayangannya. Kisya bergegas untuk segera pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba saja dia melihat Lintang. Dengan segera Kisya menghampiri sang sahabat.
"Lintang." Kisya berteriak.
Lintang menoleh,"Hai, sini Kis!" ucap Lintang dengan wajah senang.
"Mau pulang sekarang?" tanya Kisya.
"Hmm makan dulu saja yuk!" ajak Lintang. Dan Kisya tidak bisa menolak jika itu ajakan sang sahabat. Akhirnya Kisya mengangguk dan berkata iya. Mereka menuju ke cafe tempat biasa mereka makan. Mereka memesan banyak makanan dan mereka berdua makan dengan lahapnya. Lintang menceritakan betapa dia sibuk karena Baby Cery sudah mulai berguling ke kiri dan ke kanan. Membuat dirinya kesulitan untuk sekedar pergi ke kamar mandi karena Baby Cery tidak bisa di tinggalkan.
__ADS_1
Kisya begitu senang mendengar Lintang menceritakan Baby Cery. Kisya sudah sangat jatuh hati kepada bayinya itu. Bayi yang sudah dia pinang untuk sang putra sulungnya. Baby Cery memang sangat menggemaskan. Karena itu Kisya begitu senang dan suka kepada bayi itu.
Kisya berharap suatu saat dia bisa mengandung bayi cantik seperti Baby Cery. Karena tidak di pungkiri bahwa dirinya sudah sangat menginginkan seorang bayi tumbuh di dalam rahimnya. Sayangnya Kisya masih saja belum bisa mengandung.
"Kapan aku bisa memiliki bayi secantik ini?" Kisya menatap layar ponsel milik Lintang. Dia dengan sungguh menatap bayi cantik itu. Lintang tersenyum dengan manis, seraya berkata," Suatu saat nanti pasti akan tiba waktunya, dimana seorang bayi cantik lahir dari rahimmu!"
"Amin, semoga saja ya Lintang, aku sudah tidak sabar!" Kisya tersenyum dengan manis. Dia begitu bahagia bisa melihat wajah cantik Lintang versi bayi. Karena Baby Cery sangat mirip dengan Lintang.
"Tunggu saja, pasti akan dapat!" Lintang menorehkan senyum manisnya kepada sang sahabat. Beberapa saat kemudian mereka lalu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing
Kisya kini sudah sampai di mansion-nya. Dia begitu merindukan Baby gantengnya itu. Kisya mengendap-endap masuk ke dalam mansion-nya untuk mengejutkan sang bayi unyu.
Degg.
Hati Kisya terasa remuk dan tercabik mendengar sang Mama berkata seperti itu. Pasalnya dia tidak menyangka kalau sang suami ternyata sedang terluka di luar sana. Sedang dia selalu merengek dengan manja tanpa tahu kondisi suaminya. Kisya masih dia mematung dengan tubuh yang bergetar.
Mama Murni tidak tahu kalau Kisya sudah pulang. Karena itu Mama Murni berkata seperti itu di telepon kepada Jino.
"Syukurlah kalau kamu sudah mendingan, Mama khawatir, saat melihat Papa kamu, tiba-tiba saja pucat setelah menerima telepon dari sekretaris kamu nak "
"Mama jangan khawatir, sekarang semua sudah sangat baik, dan juga semua berjalan dengan sangat lancar. Jino tinggal menghuhungi Rosaline untuk persetujuan pengalihan saham, itu saja, sedang sisanya sudah kami bereskan!" ucap Jino di balik telepon.
__ADS_1
"Terus, apa Rosaline sudah bisa di hubungi?"
"Dia sangat sibuk sampai lupa membaca pesan, dia memang seperti itu, namanya juga model Ma, kalau dia tidak bisa di hubungi, jino akan datang ke Australia untuk meminta persetujuan darinya!"
"Iya nak, semoga saja Rosaline setuju ya, pasalnya dia juga sudah terlalu banyak menderita karena Jacob, Mama doakan semua baik-baik saja ya nak!"
"Iya terimakasi banyak Ma, Mama harus rahasiakan perihal penembakan Jino kepada Kisya, takutnya Kisya cemas Ma!"
"Iya, Mama sudah rahasikan itu semua, Mama juga tidak mau Kisya cemas, kasihan dia begitu merindukan kamu, sekarang kalau dia tahu kamu sampai tertembak, dia pasti akan sangat bersedih!" ucap Mama Murni.
"Baik terimakasi Ma, kalau begitu Jino tutup dulu teleponnya, Jino masih banyak pekerjaan Ma!" ucap Jino.
"Iya nak, selamat bekerja, dan berhati-hatilah!" Mama Murni lalu menutup sambungan telepon tersebut. Dia masih belum menyadari bahwa sedari tadi Kisya mendengar semua percakapan Mama Murni dan sang suami. Tubuh Kisya sudah bergetar. Air matanya sudah menetes tanpa bisa dia bendung lagi.
Kisya benar-benar tidak tahu kalau suaminya di sana dalam bahaya. Sedang dia disini selalu merajuk pada sang suami dengan kemanjaannya. Kisya begitu takut Jino kenapa-napa. Kisya terus mengisak dalam diam. Mama Murni berbalik dan terkejut melihat menantunya sudah berderai air mata.
"Kikis?"
🌺🌺🌺
Bersambung.
__ADS_1