
Bunda Nisya masih dalam pikiranya yang kalut. Beribu pertanyaan dalam hatinya dia lontarkan. Entah kenapa hawa dingin itu menusuk ke dadanya. Dia tidak menyangka bahwa Kisya akan jatuh cinta kepada Jino. Padahal melihat jauh ke belakang bahwa Kisya sangat mencintai Jeff. Tetapi sekarang semuanya berubah.
Kisya menjadi berubah setelah bangun dari koma. Setelah ingatan kejadian menyakitkannya hilang, Kisya berubah 180 derajat. Dia merasa sangat bahagia ketika tau putrinya sembuh walaupun hilang ingatan. Karena dengan hilangnya ingatan kelam Kisya maka Kisya akan bisa hidup dengan senyuman. Melupakan semua kejadian buruk yang menimpanya. Melupakan semua mimpi buruk dalam hidupnya. Bunda Nisya senang akan itu semua.
Tetapi dia sekarang melupakan bahwa Jino adalah pemuda itu. pemuda yang telah menodainya. Dan sekarang malah jatuh cinta pada pemuda brengsek yang telah mengambil kesuciannya. Itu sungguh tidak masuk di akal sang bunda. Dia tidak tau harus bagaimana. Dia sadar dengan benar bahwa memang Kisya tidak boleh terlalu stres atau terlalu banyak berfikir.
Karena itulah bunda Nisya memberikan ruang waktu supaya Jino dan Kisya bisa bersama. Tentunya hanya sementara. Setelah Kisya sembuh dan pulang. Maka Kisya Takan bisa lagi bisa bertemu dengan Jino. Rasa sesak terasa sangat nyata di dadanya. Kisya adalah putri satu-satunya dan tidak mungkin bunda Nisya akan membiarkan ksiya menderita.
Tetapi untuk membiarkan Jino bersama dengan Kisya pun hal yang tidak bisa dia terima sama sekali. Walau Jino berkata bahwa dia sudah berubah namun bunda Nisya tidak mempercayai Jino sama sekali. Karena manusia tidak bisa berubah secepat itu, menurut dia. Pikiran bunda Nisya berlayar jauh selama dalam perjalanan ke rumah sakit. Rasa bingung hinggap padanya membuat dirinya merasa tak karuan.
Tanpa terasa kini dia telah sampai di rumah sakit. Terlihat Jeff dan yang lain masih menunggu Kisya di ruang tunggu dan tidak masuk ke ruang instalasi gawat darurat.
"Bunda." Jeff menyambut bunda Nisya. Bunda Nisya tersenyum dan duduk bergabung dengan yang lainya.
"Bang Jino belum keluar ,Jeff jadi tidak bisa masuk ." Ucap Jeff kesal.
__ADS_1
Bunda Nisya masih terdiam.
"Apa tidak sebaiknya kita pindahkan Kisya ke kamar rawat saja bunda, agar kita semua bisa masuk dan merawat Kisya."
"Dokter bilang Kisya sudah boleh pulang, jika cairan intra Venanya sudah habis satu labu."
"Itu kapan, pastinya subuh bunda, masa iya kita akan pulang subuh." Ucap Jeff.
"Iya juga Jeff, kita tidak akan mungkin pulang subuh, tentunya pulang pagi, baiklah bunda akan bicara dengan dokter agar bisa memindahkan Kisya dengan segera ke ruangan rawat." Ucap bunda Nisya sambil beranjak dari duduknya. Bunda Nisya berdiri dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan instalasi gawat darurat. Memang pada kenyataan bahwa tidak semua orang boleh masuk ke ruang itu .
Bunda Nisya berjalan masuk ke dalam ruangan instalasi gawat darurat dan dari kejauhan terlihat Jino sedang Menggenggam tangan Kisya dengan lembut dan penuh cinta. Lalu sesekali Jino mengecup lembut punggung tangan Kisya. Wajah semu merah terpancar di faras cantik sang buah hati. Bunda hafal betul mimik muka Kisya .
Saat ini Kisya sangat bahagia bersama dengan Jino di sampingnya. Bunda Nisya terus berjalan menuju ke tempat tidur kesakitan putrinya. Dan sampailah dia di belakang Jino dan berdiri di sana tanpa kata, dan itu sedikit lama. Bunda Nisya memperhatikan Jino dan Kisya sesaat. Sedang Jino dan Kisya masih tidak menyadari kedatangan bunda Nisya.
Sekali lagi Jino mengecup punggung tangan Kisya dengan penuh cinta dan Kisya tersenyum sesaat. Kisya tersenyum sangat manis. Tiba-tiba saja hati bunda Nisya seolah berdetak tak karuan. Bagaimana pun Kisya sudah menikah. Takkan dia biarkan Jino berani mengecup putrinya seperti itu lagi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu pada adik iparmu sendiri?" Bunda Nisya berkata sambil menatap Jino penuh kemarahan. Saat itu bunda Nisya menutup mata bahwa mereka sedang jatuh cinta dan sedang di buai indahnya asmara. Yang bunda Nisya tau mereka itu sedang berselingkuh dan agama melarang sebuah perselingkuhan.
Mendengar ucapan sang bunda, Jino dengan segera melepaskan genggaman tangan Kisya. Jino menelan Saliva dan mereka berdua sangat terkejut.
"Bu, bunda." Kisya tersentak. Bunda Nisya masih mematung dengan kemarahannya.
"Bagaimana bisa ini terjadi padamu Kis?" Ucap bunda Nisya dalam hatinya sambil menatap sang buah hati. Bunda Nisya masih mempertanyakan kenapa dan bagaimana Kisya bisa mencintai Jino yang notabene adalah pemuda yang sudah merenggut seluruh hidupnya. Pemuda yang sudah menghancurkan seluruh kebahagiaanya. Dan kini Kisya terlihat dengan buangan asmara tersenyum manis pada pemuda itu.
Hal yang sangat tidak masuk di akal dan pikiran bunda Nisya. Sesekali bunda Nisya menelan Saliva dengan sangat berat. Dia masih bingung dengan hawa cinta yang ada di hadapannya. Bunda Nisya menatap sang putri dengan kening yang mengerut. Dan sama sekali tidak menatap Jino. Betul , memang bunda Nisya masih merasakan sebuah aura kemarahan dalam hatinya atas perbuatannya jino satu tahun yang lalu.
Baginya kejadian itu sangat perih dan tidak bisa dengan mudah dia lupakan begitu saja. Walau kini terlihat aura cinta di dada jino tetapi itu tidak bisa cukup meyakinkan hatinya untuk bisa memaafkan perbuatan Jino setahun lalu. Dia masih merasakan sebuah kesakitan yang sama yang dia rasa saat itu. Saat dimana dia melihat putrinya seperti mayat hidup dan ketika bangun putrinya menjadi orang gila. Hal itu membuat dirinya tak bisa memaafkan Jino dengan begitu mudah.
Jino berdiri dan melihat ke arah bunda Nisya. Namun bunda Nisya tak mau menatap Jino sama sekali. Wajah bunda Nisya saat ini terlihat marah karena mengingat semua perbuatan Jino pada Kisya.
Bersambung❤️
__ADS_1