Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
L A N G K A H


__ADS_3

Kisya berjalan pelan menuju ke pintu keluar. Tanganya seolah berat untuk membukanya handle pintu. Air matanya tak henti menetes. Dadanya sesak dan tak bisa bernafas lega. Tanganya sudah menyentuh handle pintu dan.


Cekrek.


Kisya membuka kunci pintu itu. Jino berlari ke arah Kisya dan langsung memeluk tubuh ramping gadis yang sangat dia sayangi. Jino memeluk tubuh Kisya dari belakang . Kisya semakin berat dan menangis dalam diam. Betapa dia tak sanggup untuk mengakhiri malam ini.


"Sayang, jangan tinggalkan aku !...


Ucap Jino dengan mata terpejam merasakan aroma rambut Kisya yang wangi khas strawberry. Kisya melepaskan pelukan Jino dan berbalik kini menghadap ke arah Jino. Kedua mata yang jatuh cinta ini saling memandang penuh rasa kepedihan. Kisya menarik dasi Jino sehingga kepala Jino menjadi lebih. rendah, kedua kaki Kisya jingjit dan.


Cup.


Sebuah kecupan hangat Kisya lontarkan pada kekasih hatinya. Tak butuh waktu lama Jino langsung membalas kecupan itu dengan begitu lenbut. Mata mereka terpejam hanya helaan yang terdengar. Kedua nafas saling berpadu dan mereka bertukar Saliva. Jino mengecup Kisya dengan lembut seolah bibir itu adalah sebuah ekstrim.


Kisya mulai kesulitan bernafas dan Jino melepaskan tautan mereka.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu jika seberat ini?...


Ucap Kisya dengan suara yang halus.


Jino kembali mengecup kening kisya.


"Aku tak sanggup."


Ucap Jino dengan suara seraknya. Lalu memeluk tubuh itu dengan erat. Kisya hanya bisa merasakan hangatnya pelukan pria kekar itu.


"Jika Tuhan mengijinkan maka kita akan tetap bersama."

__ADS_1


Ucap Kisya sambil menitikkan air matanya. Jino kembali menatap wajah cantik kisya. Mata jino sudah memerah. Dan tangan Jino membantu  Kisya menyeka air matanya. Kisya lalu berbalik dan membuka pintu.


Cekrek.


Pintu itu terbuka. Sebuah pintu yang akan memutuskan mimpi mereka berdua. Hati mereka terasa sangat panas terbakar. Sepertinya mereka tak sanggup untuk bernafas wajar. Langkah kaki Kisya mulai meninggalkan kamar itu. Kamar yang penuh dengan ucapan manis penuh cinta. Jino hanya bisa menghela nafas berat ketika Kisya mulai pergi menjauhinya.


Kisya menutup pintu itu. Seolah tertutup semua pintu harapan akan cinta mereka. Jino bersandar di pintu dan menitikan air matanya.


"Kamu telah pergi, tinggalkan harap yang tak terucap, dan mungkin takkan kembali, tapi aku berjanji akan selalu menjaga buah hati kita, sayang, aku akan selalu mencintaimu dalam hatiku!..


Jino tak kuasa lagi membendung air matanya. Dia sudah merasakan sesak sedari semalam. Dia tak bisa membiarkan kisya melihat kelamahanya. Jino berusaha menahan tangis di depan Kisya. Tetapi setelah kisya keluar kamarnya , seolah tak berdaya dia menahan semuanya.


Dia lemah dan rapuh karena cintanya yang takkan mungkin terwujud . Dada nya semakin sesak dan air matanya tak bisa dia hindari lagi. Rasa sakit dihatinya karena tak bisa bersama dengan gadis yang dia cintai.


Di sisi lain. Kisya masih berjalan pelan dengan tatapan mata yang kosong. Tatapan tanpa arti yang pasti. Dia merasakan dadanya begitu sesak dan berasa tertindih beban yang amat berat. Wajahnya pucat dan tak berwarna semu lagi. Dirinya menganggap semua ini adalah mimpi yang indah namun begitu menyakitkan.


Sepasang mata sedari tadi memperhatikan saat Kisya berjalan keluar dari kamar Jino . Mata itu memperhatikan raut wajah Jino dan raut wajah Kisya. Namun dia tak bisa menghampiri keduanya dan hanya bisa bersembunyi di balik warna hitam malam. Kisya tidak menyadari ada yang memperhatikan dia sedari tadi. Kisya membuka pintu kamarnya dan masuk.


Helaan nafas berat dia rasakan. Air matanya tak tertahan. Dirinya begitu tersakiti oleh keadaan. Tubuhnya bergetar dan tangisnya pun pecah .Kisya menjatuhkan tubuhnya terududuk di lantai kamar mandi dengan shower yang menghujani seluruh tubuhnya. Kisya tidak bisa lagi membedakan mana air mata dan mana air dari shower .


Kisya terus menangis. Bahkan kini tubuhnya sudah mengigil karena kedinginan. Namun rasa dingin itu tidak sebanding dengan rasa sakit dalam hatinya.


"Aku membenci semua ini, aku membenci diriku yang telah berubah. Aku membenci telah mencintainya , aku membenci karena hati ini sudah menyakiti seseorang yang sangat mencintaiku, aku membenci keadaanku yang tak berdaya, tuhan tolong bantu aku membenci dirinya pula!.. Tangis Kisya tak terbendung dan sangat melirih.


Tubuhnya seraya membeku. Bibirnya sudah membiru. Air dingin itu terus menghujani tubuhnya. Dia tak lagi merasakan panas atau dingin . Karena yang dia rasakan saat ini adalah rasa sakit karena keadaan . Kisya terus menangis tanpa henti. Dia tak sanggup untuk menahan beban yang begitu berat. Dia hanya bisa terisak dalam pilu.


 

__ADS_1


Jeff mencoba membuka kedua matanya yang terasa berat. Dia melihat ke sekeliling dan ternyata dia berada di sebuah kamar yang asing baginya. Dia melihat ke sampingnya ada seorang wanita tengah terlelap dalam tidurnya. Jeff menelan Saliva. Dan mencoba bangkit dari tempat tidur itu. Namun tangan gadis itu menariknya.


"Aku harus pulang !...ucap Jeff pelan .


"Jangan sekarang, bisakah kita sarapan dulu!..


Ucap gadis itu pelan.


Gadis itu begitu cantik. Bahkan sorot matanya pun sangat menarik.


"Tidak bisa Rania, hari ini Kisya ada di rumah dan aku malah meninggalkan dia."


Ucap Jeff pelan. Gadis itu terdiam dan mulai beranjak bangun.


"Aku hanya ingin kamu menemaniku!..


"Bukankah aku sudah menemanimu semalaman!... Ucap Jeff pelan.


"Tetapi kita hanya tidur, kita bahkan tidak melakukan apapun."


"Kau hanya bilang padaku bahwa aku cukup menemanimu saja, dan aku setuju, kemari dan berikan padaku semua photo itu!..


Ucap Jeff pelan.


Rania terdiam dan air matanya menetes. Dia mengambil tas yang dia simpan di meja. Lalu mengambil sebuah plasdist dan memberikannya pada Jeff. Jeff tersenyum tipis dan langsung mengambilnya dengan segera.


"Aku pergi, terimakasi telah menyukaiku!... Ucap Jeff lalu pergi meninggalkan kamar hotel itu. Sedangkan gadis itu terduduk dengan air mata yang membuatnya pilu.

__ADS_1


Jeff langsung tancap gas dan pulang menuju ke mansionnya. Terlihat Susana masih sepi. Dan dengan segera Jeff masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk mandi. Dia harus menghilangkan bau tubuh Rania . Karena dia sangat tidak menyukai gadis itu.


Bersambung❤️


__ADS_2