
Jino yang kesal terus terdiam. Dia berfikir keras sampai tengah malam. Udara malam sudah mulai dingin. Akhirnya dia mematikan televisi dan mulai naik ke lantai atas. Dia berjalan menuju ke kamarnya. Terlihat wanita kesayangannya itu telah tertidur dengan lelap. Kisya begitu cantik, dengan segera Jino merebahkan tubuhnya di samping kekasih hati.
Jino mengelus lembut rambut kekasih hatinya. Dan mengecup kening wanita itu dengan penuh kemesraan. Hatinya selalu berdetak saat melihat pantulan kecantikan sang istri. Setiap hari Jino merasakan debaran itu, dan setiap hari Jino merasakan jatuh cinta kepada istrinya. Rasa sayangnya semakin hari semakin besar. Dia menatap istrinya yang seksi. Yang selalu mengenakan pakaian yang seksi, itulah Kisya.
"Wanita ini, selalu saja mengenakan pakaian pendek, padahal sudah bersuami." Ucap Jino sambil menutupi kaki jengjang sang istri. Jino tersenyum dengan tipis. Istrinya itu memang sangat cantik dan seksi. Tubuhnya ramping dan kulitnya sangat putih. Jino menjadi sangar tegang saat melihat kemolekan sang istri.
"Ah bagaimana ini, kamu tidur terus sayang, padahal super hero ku mau minta beraksi." Jino tersenyum sambil mengelus lembut rambut hitam yang lembut seperti sutra itu. Jino mengecup kening sang istri dan memeluknya dengan dekapan yang penuh dengan kasih sayang. Dia begitu mencintai wanita itu. Wanita yang suaranya bisa menenangkanya dalam badai. Wanita yang sikapnya begitu lembut selembut awan. Wanita yang kepolosanya membuat dirinya begitu gemas dan takluk.
Wanita yang kini hanya miliknya seorang dan wanita yang akan menjadi ibu dari beberapa anaknya kelak.
"Jika suatu saat kita punya bayi lagi, aku ingin bayi perempuan yang sangat mirif dengan kamu sayang, kamu begitu cantik dan kecantikan dirimu melebihi rembulan malam. Ah aku tidak sabar ingin melihat dirimu versi bayi sayang, pasti sangat menggemaskan!" Ucap Jino sambil terus memeluk sang kekasih hati belahan jiwanya.
"Emh.. " Kisya meleguh.
"Sayang, kamu bagun?" Jino tersenyum mendengar leguhan sang istri.
"Sayang." ucap Kisya sambil menatap sang suami. Perlahan Kisya menggosok matanya.
"Iya sayang, apa kamu lapar ?" Tanya Jino lembut. Jino tau bahwa Kisya belum makan sedari siang. Mama Murni bilang Kisya memasak dengan semangat sampai paket itu datang.
"Aku tidak lapar sayang." Kisya berkata pelan.
"Tapi kamu belum makan sayang, aku tidak mau kamu sampai sakit." Ucap Jino dengan penuh perhatian. Pria itu sungguh mencintai istrinya dengan segenap jiwanya. Sehingga rasa khawatir selalu singgah dalam hatinya. Takut istrinya lelah, takit istrinya sakit, takut ini, takut itu, takut segala hal yang menggangu ketenangan istrinya.
"Aku tidak mau apapun sayang!" Ucap Kisya pelan.
"Tapi kamu belum makan sayang!" Jino mulai memaksa.
"Aku tidak perlu makan ko sayang, untuk saat ini, ada kamu cukup." ucap Kisya dengan peluh.
"Hah, aku kan tidak bisa di makan sayang?" Jino tersenyum menggoda istrinya.
__ADS_1
"Benarkah, aku pikir kamu enak sayang." Kisya tersenyum manja.
"Ehh... Kalo itu memang benar, aku sangat enak dan lezat." Jino tersenyum manis.
"Selezat apa coba?" Kisya tersenyum.
Dan dengan segera pria itu mengecup bibir mungil sang istri dengan sangat lembut. Malam itu mereka saling memiliki satu sama lain. Berawal dari sebuah ciuman dan diakhiri dengan sebuah kepuasan. Mereka bersatu dalam irama cinta yang menggebu. Setelah itu mereka tertidur dengan pulas.
Pagi pun telah tiba. Jino dan Kisya segera bangun dan hendak bersiap untuk aktivitas mereka. Jino menggedong sang istri dan mulai mandi bersama. Alasanya agar lebih cepat, tetapi ternyata Jino punya tugas lain di dalam sana.
Setelah selesai mandi mereka lalu turun ke lantai bawah terlihat Mama dan Papa serta bayi mereka sudah menunggu mereka dengan manis di meja makan. Dengan segera mereka bergabung. Kisya menggendong sang buah hati dan mengecupnya sebagai ucapan selamat pagi. Balita itu mulai mengoceh dan tertawa saat Kisya mendudukannya di pangkuan.
Kisya menyuapi Baby Vano dengan penuh kasih sayang. Jino sungguh terpana melihat Kisya dan anaknya. Jino semakin jatuh cinta kepada istrinya itu. Kisya tidak membedakan kasih sayangnya kepada Baby Vano. Padahal Kisya tahunya itu adalah anak tirinya. Seadainya Kisya tahu bahwa Baby vano adalah buah hati yang dia kandung dan dia lahirkan. Akan seperti apa, apa akan lebih sayang atau seperti biasanya.
Karena sekarang saja Kisya begitu sayang terjadap Baby Vano. Darah memang lebih kental daripada air. Hubungan ibu dan anak memang takan bisa di pisahkan. Jino melihat istrinya begitu keibuan. Semakin hari Kisya semakin dewasa. Jino terkesan. Cinta Jino semakin dalam dan semakin posesif.
"Kamu begitu sempurna dimataku, ada kamu cukup bagiku, aku tidak butuh wanita manapun." ucap Jino dalam hatinya sambil tak henti menatap sang istri yang sedang menyuapi buah hati mereka.
"Oh iya, kamu juga belum makan, aku makan bareng kamu saja!" Ucap Jino dengan senyumannya.
"Aku kan nyuapin anak kita dulu, kalo Baby Vano sudah makan, baru aku akan makan!" Tutur Kisya.
"Yasudah aku tunggu!" ucap Jino.
Mama dan Papa terseyum melihat betapa harmonis anak dan menantu mereka. Betapa Papa bersyukur Kisya menjadi menantunya. Karena kisya begitu baik dan sangat pintar memasak.
"Kis, apa hari ini kamu akan berangkat ke kampus?" Tanya Papa.
"Iya pa, tapi Kisya berangkat sama supir." ucap Kisya.
"Hati hati ya sayang!" ucap Mama Murni.
__ADS_1
"Iya Ma, Pa." Kisya tersenyum.
"Eh sayang, nanti kamu akan di jaga oleh James ya, dia sekarang akan mengikuti kamu kemanapun, ini demi keselamatan kamu sayang!" ucap Jino.
"James?" Kisya mengerutkan keningnya.
"Iya sayang, dia penjaga kamu!"
"Emhh , yasudah asalkan jangan terlalu mencolok saja, sayang!"
"Tidak ko, dia akan menjaga kamu tidak terlalu dekat." Tutur Jino.
"Iya sayang."
"Tapi sayang, nanti pulang kuliah ke kantor dulu ya!" ucap Jino.
"Iya, nanti aku pulang ke kantor kamu sayang." Jawab Kisya dengan senyuman yang begitu manis. Jino dan Kisya lalu memulai sarapan mereka. Sedang Baby Vano sudah mulai berlari kesana dan kemari bermain dengan bibi. Jino berharap tidak akan ada lagi kejadian buruk yang menimpa sang istri. Kecemasan Jino itu sungguh besar. Semakin besar rasa cemas Jino semakin besar pula rasa ingin tahunya terjadap si pelaku.
Jino masih belum menemukan pertunjuk dan barang bukti. Jino yakin seseorang yang sangat kuat telah membantu si pelaku untuk mengamankan barang bukti. Tapi siapa dia? Jino semakin penasaran.
🌺 Bersambung 🌺
**Hallo sayang siapa yang rindu Dengan novel my baby? Alhamdulillah sekarang sudah di cetak ya.. kalian bisa pesan buku novel my Baby jika kalian mau.
saya buka pesan order.
kalian bisa hubungi no admin ya ini no nya 087779966421 silakan japri admin untuk memesan buku my baby**.
__ADS_1