Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
K A B A R


__ADS_3

Setelah mengantarkan Kisya pulang ke mansionya, Jino sesaat menunggu supir datang dan akhirnya supir pun datang. Lalu pak supir melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Jino terdiam Sepanjangan perjalanan. Sesaat dia melihat buah hatinya yang tengah tertidur dengan lelap. Jino menghela nafas berat karena mengingat ucapan Kisya waktu di apartemenya.


Kisya mengucapkan kata perpisahan. Sebuah kata yang membuat hatinya tercabik karena rasa sakit yang bertubi-tubi. Helaan nafas Berta Jino lontarjan dengan sangat susah. Rasanya Jino tak bisa lagi untuk bernafas lega setelah mendengar keputusan wanita yang sangat dia cintai.


Kini sampailah Jino di parkiran apartemenya. Jino berjalan perlahan menuju apartemen miliknya sambil menggandeng baby Vano. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Jino masuk dan menidurkan baby Vano di keranjang bayi yang ada di ruang tv . Lalu Jino duduk sambil bersandar di kursi. Dia menutup matanya seolah sedang berfikir keras.  Namun ternyata bukan.


Jino menutup matanya karena merasa sangat kecewa dengan ucapan Kisya tadi. Kata-kata berpisah yang selalu terngiang di kepalanya membuat semuanya terasa sesak. Tiba-tiba suara dering telepon seluler nya memecahkan khayalannya. Jino melihat itu adalah panggilan dari sang Papa.


Jino mengangkat telepon itu dan.


"Hallo."


"Iya nak, ini Papa, kamu di mana?"


"Pa, Jino baru sampai di apartemen, ada apa pa?"


Ucap Jino dengan nada datarnya.


"Ada sesuatu yang penting yang harus kita bahas." Ucap Papa.


"Apa itu pa?"


"Ini semua tentang Kisya dan Jeff."


"Ada apa dengan mereka?"


"Jeff memutuskan mempercepat resepsi pernikahan."


Deg.


Ucapan sang Papa sontak membuat jantung Jino seraya berhenti berdetak.


"Benarkah?... Jino bergetar.


"Iya , dan seepetinya Kisya sudah mengetahui kalo Jeff adalah suaminya."

__ADS_1


Deg.


Deg.


Deg.


Semakin berdebar jantung Jino. Tubuhnya bergetar dan nafasnya sesak. Pikiran Jino melayang entah kemana. Ponselnya bahkan terjatuh. Tubuh bergetarnya terasa begitu lemas ketika mendengar Kisya sudah mengetahui tentang pernikahanya bersama dengan adiknya Jeff .


"Hallo Jino, nak kamu masih disana?...


Papa terus mengajak Jino berbicara. Ponsel Jino masih ada di bawah sofa. Jino sendiri menegang mendengar ucapan sang Papa. "Apa yang terjadi apakah Kisya sudah mengingat semuanya?" Batin Jino seolah berteriak.


"Jika saja Kisya sudah mengetahui semuanya, Kisya telah mengingat semuanya, apa yang akan terjadi, Kisya pasti akan mengingat semua perbuatanya. Lalu bagaimana dengan nasib cintanya?" Jino terus berbicara dalam hatinya.  Dia merasa sangat bimbang dengan keadaan seperti ini. Sesekali Jino menelan Saliva.


Rasa takut dan gugup kini menghampiri tubuh dan pikirannya. Dia merasa sangat takut akan kehilangan Kisya. Dia sudah teramat sangat mencintai wanita itu. Memang semua adalah kesalahan. Berawal dari ketidak mampuannya menahan semua gejolak dalam hatinya. Dan membuat Kisya menderita .


"Apa yang akan terjadi padaku dan anak kita sayang, ketika kamu tau bahwa aku yang telah merubah kehidupanmu yang indah menjadi hancur." Jino berkata dalam hatinya dan pikirannya begitu kacau. Jantungnya berdetak tak karuan. Jino memejamkan matanya dan menghela nafas sangat berat.


Beban pikirannya bertambah. Rasa cintanya yang besar terhadap Kisya mungkin kini hanya akan menjadi bayangan saja. Dia harus menanggung beban besar mencintai wanita dengan bertepuk sebelah tangan. Wanita yang pasti akan sangat membencinya. Helaan nafas berat dia lontarkan. Dia tak tau harus bagaimana lagi. Dengan tubuh yang bergetar dia mencoba mengambil kembali ponselnya yang terjatuh.


"Jino , hallo , apa kamu masih disana?" Papa Geovandra terus memanggil sang putra kesayangannya.


"Kemana saja , papa pikir sudah terputus ?" Papa mengela nafas lega.


"Jino tadi hanya mengambil minum pa, Jino merasa kehausan, kan Jino baru saja sampai." Dia berbohong pada sang papa untuk menyembunyikan kekalutan dalam hatinya. Pikiranya yang kacau saat ini akan coba dia sembunyikan.


"Iya nak, sampai mana kita tadi?"


"Sepertinya Kisya sudah mengetahui sesuatu." Ucap Jino pelan.


"Iya sepertinya begitu, karena tadi Jeff bilang Kisya syok dan bunda memanggil dokter."


"A apa, Kisya syok lagi?" Pria itu begitu gugup mendengar kata-kata syok. Berarti benar sekali Kisya sudah mengetahui semuanya. Mengetahui tentang kejadian yang menimpanya setahun kebelakang. Tiba-tiba hati Jino sangat sakit seolah teriris sembilu.


"Iya, Jeff berlari dari kantor dan segera ke rumahnya Kisya, Jeff bilang Kisya syok lagi, terus Papa mencoba menghubunginya dan ternyata Jeff bilang dia akan mempercepat resepsi pernikahan karena Kisya sudah tau tentang pernikahanya." Tutur Papa dengan lugas.

__ADS_1


"Begitulah." Jino berkata degan tubuh yang masih bergetar. Tenaganya seolah hilang dan hatinya seolah hancur tanpa sebab. Rasa sesak di dadanya bertambah sudah. Tumpukan kesakitan telah masuk ke rongga paru-parunya dan membuat dirinya sulit untuk bernafas dengan lega.


"Kamu baik-baik saja nak?" Papa terdengar sedang mencemaskan putranya.


"Tentu saja Pa."


"Tentu saja apa?" Tanya Papa.


"Tentu saja aku tidak baik-baik saja pa, kalo Kisya sudah mengingat semuanya pasti Kisya akan membenciku seumur hidupnya." Jino berkata dengan tubuh yang bergetar.


"Iya itu pasti akan terjadi, nanti malam Papa akan mengadakan makan malam bersama keluarga Kisya, Papa dengar ibu Nisya sudah kembali dari Singapura, kamu harus datang nak!" Papa seolah memberikan sebuah perintah. Dan perintah itu seperti dua mata pisau yang tajam untuk jino. Dia harus bisa menghadapi kenyataan bahwa Kisya akan membunuhnya dengan sebuah kebencian.


"Bukankah kalian akan membahas tentang pernikahan, untuk apa aku hadir?" Jino sedikit mengelak. Papa Geovandra tidak berfikir kalo Jino akan terasa sangat sakit ketika wanita yang sangat dia kasihi tengah mempersiapkan sebuah resepsi pernikahan. Jino pasti akan sangat canggung dan hatinya remuk. Ditambah lagi mungkin Kisya akan mengamuk jika melihat Jino kembali. Itu jika ingatan kita sudah kembali. Pikiran jino menerawang jauh.


"Kamu harus datang nak!"


"Tapi."


"Kamu harus datang dan memastikan apakah Kisya sudah mengingat semuanya atau tidak?" Ucap papa.


"Jino takut pa." Tubuh Jino masih bergetar.


"Kamu harus kuat mengahadapi kenyataan!" Ucap papa Geovandra menguatkan putranya. Sedang Jino masih terdiam dalam ketakutan yang tak berujung.


Bersambung❤️


Catatan kecil author ❤️


Hai sahabat, ada kiriman gambar dari sahabat Jino dan Kisya.


ini bang Jino dan baby Vano versi Mbah Dewi Azizah.


Ayo kirimkan bang Jino versi kalian juga ya, nanti Lee pajang satu persatu.


yang belum masuk grup FB Jino dan Kisya ayo cepetan gabung.😍

__ADS_1


Lee ingin tau seperti apa bang Jino dalam pikiran kalian🤭🤭🤭



__ADS_2