
Kisya kini sudah terbaring di dalam sebuah kamar hotel yang sangat mewah. Dia terbangun dengan lemas. Wajahnya pucat seketika. Ketika melihat bahwa dia berada dalam sebuah kamar yang tidak dia kenal.
"Aku ada di mana?" Kisya mengucek matanya dan mencoba beranjak bangun dari posisi tidurnya. Kisya bangun dan mencoba untuk keluar dari kamar tersebut. Sayangnya kamar itu terkunci begitu rapat. Sehingga Kisya tidak bisa keluar untuk kabur.
"Buka, tolong keluarkan aku dari sini!" Kisya berteriak. Namun tidak ada satupun yang menyaut. Sepertinya tubuh Kisya melemas. Dia kini hanya bisa menangis ketakutan. Dia yakin bahwa dirinya sedang di culik. Kisya terus menangis tanpa henti.
Dia terisak dalam kamar yang sepi. Dinding ruangan seolah menjadi saksi. Dan kerlip lampu memantau seluruh kelukaan hati wanita itu. Kisya tidak menyangka dia akan merasakan sebuah ketakutan seperti ini. Dia sendiri dalam kebisuan ruangan. Tak bisa bernafas dengan lega walau udara tercium begitu segar.
"Hik... Hiks, sayang tolong aku, Daddy tolong Mommy, Dad." Wanita itu menangis dalam hati yang perih penuh dengan luka sembilu yang membuatnya begitu tersiksa. Kisya ketakutan berada di tempat yang asing. Dia melihat ada telepon di samping tempat tidurnya.
Kisya dengan segera berlari menuju ke arah telepon itu. Lalu menggunakan telepon itu dengan secepatnya. Sayangnya telepon itu hanya bisa tersambung ke sekitar hotel saja.
Tuut tuut tuut.
Kisya mencoba menelepon petugas hotel untuk meminta bantuan. Tetapi tidak ada yang menjawab. Sekali lagi Kisya mencoba untuk menelepon cust cervise.
Tuut tuut tuut.
Masih saja tidak ada respon. Dia terus berusaha menekan nomor tersebut. Sampai akhirnya tersambung.
"Hallo," ucap seorang wanita di seberang telepon.
"Hallo nona, tolong keluarkan aku dari kamar ini," Kisya mengisak saat berkata pada petugas hotel tersebut.
"Annyeonghaseyo, mueos-eul wonhasibnikka?
"Hallo ada perlu apa nona?" ucap petugas hotel itu.
"Kamu bicara apa?" Kisya terkejut dan semakin menangis dengan kencang." Please speak in english! " (tolong bicaralah dalam bahasa inggris!")
Kisya masih menangis ketakutan.
"Yes miss, what's the need, why are you crying?"
(iya nona, ada perlu apa, kenapa anda menangis?")
"Please get me out of this room, I'm locked!"
__ADS_1
("Tolong keluarkan aku dari kamar ini, aku terkunci!") Saat ini Kisya memohon kepada cust cervise. Agar membukakan pintu kamarnya.
"Miss, sorry, which room number are you in?"
("Nona maaf anda berada di kamar nomor berapa?")
"I don't even know what room number I'm in,"
(Aku bahkan tidak tahu, aku berada di kamar nomor berapa)
"Alright miss you better calm down, I'll check through this telephone network! "
(Baiklah nona sebaiknya anda tenang dulu, saya akan cek lewat jaringan telepon ini) lalu petugas itu langsung melakukan pengecekan. Sedang Kisya masih menangis sesegukan. Dia sungguh ingin keluar dari kamar itu dan ingin segera pulang. Dia Berharap petugas hotel itu bisa membantu dia keluar sebelum penculiknya datang.
"Miss, sorry but just now your husband already took the key and was about to come to your room,"
(Nona, maaf tetapi barusan suami anda sudah mengambil kunci dan hendak datang ke kamar anda)
ucap petugas hotel.
"Oh tidak, dia bukan suamiku, tolong aku tolong!" Kisya menangis dengan sangat nyaring. Tangisannya meledak dan air matanya sudah mengalir begitu deras. Hatinya seolah tercabik dan begitu sakit. Keputus asaan kini telah melanda jiwanya. Hatinya terkoyak merasakan sebuah aura kecemasan.
(sabarlah nona, tunggu suami anda sampai, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya ya, selamat siang.)
" No, no, don't hang up the phone!"
(Tidak, tidak jangan tutup sambungan teleponnya)
Namun sayangnya petuga itu telah memutuskan sambungan telepon tersebut.
Kini Kisya terduduk dengan ketidak berdayaan. Air matanya tidak berhenti menangis. Bahkan Kisya begitu geram karena penculik itu mengaku sebagai suaminya kepada petugas hotel. Kisya hanya bisa terisak dalam kekalutan kecemasan dan keputus asaan.
Suara pintu terbuka.
Degg.
Kisya merasakan sebuah ketakutan yang teramat sangat. mendengar suara pintu itu terbuka. Terdengar langkah kaki seseorang masuk dan mendekati dirinya. Kisya terduduk memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di atas lutut. Dia tidak berani menatap orang yang datang ke menghampirinya.
__ADS_1
Kisya masih membenamkan wajahnya di atas lututnya. Jantungnya berdebar begitu kencang. Semua perasaan kini bergumpuk di dadanya. Membuat dirinya sesak dan seolah kesulitan bernafas.
"Sayang." Seseorang memanggil Kisya. Suara yang tidak asing di telinganya.
Degg.
Jantung Kisya seolah sedang lari maraton. Dia segera melihat ke arah suara tadi. Suara yang sangat dia rindukan selama ini. Setelah berpisah sebulan lebih. Suara itu masih terdengar khas di telinganya.
"Sayang, kakak!" Tangis Kisya tak terelakan lagi. Kisya bangkit dengan segera dan berhambur memeluk sang suami tercinta. Jino tersenyum dengan manis menyambut pelukan dari sang istri yang sangat dia rindukan.
"Hik.. hiks.. Dad, akhirnya kamu datang juga!" Kisya menangis dengan sesegukan. Rasa rindunya tertumpah dan malah membuat dia semakin menangis karena rasa haru. Sang suami memejamkan mata sambil memeluk tubuh mungil sang istri. Tubuh yang sangat dia rindukan. Wangi yang khas yang selalu membuat dirinya merindu.
Jino mencium rambut Kisya dengan aroma yang sangat dia rindu. Aroma tubuhnya begitu memabukan. Jino merasa dirinya sudah kecanduan dengan bau khas itu.
"Mom, aku sangat rindu kamu," Jino mengecup kening Kisya dengan lembut. Dan Kisya masih saja menangis dalam pelukan sang suami.
"Sudah jangan menangis lagi, maafkan aku ya, ini hanya sebuah kejutan kecil, aku pikir tidak akan membuatmu setakut ini."
"Bagaimana aku tidak takut Dad, jika ternyata aku sedang berada di tempat yang asing, aku langsung berfikir bahwa aku sedang diculik!" Kisya masih terisak.
"Rencananya tidak seperti ini, Daddy hanya berencana datang sebelum Mommy terbangun, dan saat Mom bangun, Mommy akan melihat Daddy ada di samping Mommy. Tetapi ternyata mommy bangun jauh sebelum Daddy sampai." tutur Jino sambil terus memeluk erat tubuh sang istri. Mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Rencana jahat, kamu menakutiku Dad, kamu jahat!" Kisya masih terisak. Jino tersenyum dengan wajah yang begitu tampan.
"Maaf Mom, maaf ok!"
Kisya lalu mengangguk. Dia meyeka air matanya. Jino sendiri membantu sang istri menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Mommy rindu Dad!" Kisya menatap Jino dengan mata redupnya. Mata yang basah sisa tangisan. Mata elang Jino terus memandangi wajah cantik sang istri.
"Ini bukan mimpi kan, kita bertemu?" Jino lalu mengecup sang istri tapat di keningnya. Dan Kisya hanya bisa menutup matanya merasakan sebuah kehangatan di balik kecupan sang suami.
🌺🌺🌺
Bersambung
Ini akun IG ku ya sayang.. follow oke
__ADS_1