Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Katering


__ADS_3

Suara ponsel berdering begitu keras. Mama Murni segera mengambil ponsel yang dia simpan di dalam tas hermesnya.


"Hallo." Ucap Mama Murni pelan. Mama Murni segera menjauhi Rania dan yang lain.


"Hallo Nyonya Geovandra ini saya dari hotel Plaza, saya ingin memastikan kembali. Katering yang telah anda pesan sudah pasti untuk dua ribu orang apa bertambah?" Sebuah pertanyaan yang begitu sesak untuk di jawab oleh Mama Murni. Katering bahkan sudah tersedia. Tapi pengantinnya menghilang. Air mata Mama Murni menetes tanpa ia sadari. Rasa sesal dalam dadanya kini berubah menjadi getaran kuat yang membuat tubuhnya melemah.


Isakan tangis tak terelakan lagi. Dari kejauhan Papa Geovandra melihat sang istri terlihat tagang dan pucat. Dengan segera Papa Geovandra menghampiri sang istri. Lalu dia mengambil ponsel yang Mama Murni genggam.


"Hallo Nyonya, hallo , apa anda masih mendengarkan saya Nyonya?" Pria itu bertanya terus menerus karena Mama Murni tidak menjawab apapun.


"Iya Pak hallo , saya Geovandra." Ucap Papa mejawab telepon tersebut.


"Oh yaampun, saya pikir tadi Nyonya yang menjawab, hanya mau mengkonfirmasi kembali untuk acara resepsi pernikahannya Pak."


"Oh iya, bagaimana Pak?" Ucap Papa pelan dengan suara yang berat. Papa sendiri merasa sangat sesak di buatnya.


"Semua pesanan Bapak dan Ibu telah siap, saya yakin acara akan berlangsung sangat meriah, waktu sudah semakin dekat, dua hari tidak akan terasa pak."


"Iya betul pak, acaranya dua hari lagi." Ucap Papa datar.


"Saya ingin mengkonfirmasi untuk kateringnya , apa sudah deal untuk dua ribu orang, atau ada tambahan lagi." Ucap pria itu membuat Papa Geovandra diam seribu bahasa.


Akan ada dua ribu undangan yang hadir dalam pesta resepsi pernikahan Jeff dan Kisya. Papa bingung dan menegang. Tidak mungkin dia nembatalkan semuanya. Bahkan undangan sudah tersebar ke seluruh pelosok kota. Semua rekan bisnisnya bahkan sudah mulai mengirimkan kado dan ampau. Padahal pesta resepsinya belum.


Sesaat semua hening. Baik Papa ataupun Mama hanya bisa saling memandang dengan wajah kebingungan. Tiba-tiba saja Papa melihat Jino baru naik ke permukaan. Jino berjalan ke arah Papa dan Mama. Wajah Jino terlihat lelah. Sepetinya usahanya tidak menghasilkan sesuatu yang baik.


Papa menatap Jino dan tersenyum.


"Minumlah, kamu terlihat lelah!" Ucap sang Papa menatap Jino. Jino mengangguk dan mengambil minuman yang Mama Murni berikan.


"Hallo, hallo Pak." Pria di balik telpon masih meminta jawaban dari Papa Geovandra. Papa lalu menghela nafas dan membuangnya sembarang.


"Iya Pak maaf, barusan anak saya datang, jadi sampai di mana tadi?"


Ucap Papa.

__ADS_1


"Kateringnya Pak, apa bapak mau tambah atau sudah cukup untuk untuk dua ribu orang?"


"Hmmm, saya pikir sudah cukup saja!" Jawab Papa lugas.


"Baiklah kalo begitu pak, terimakasi banyak atas waktunya Pak, selamat siang." Ucap pria itu sambil menutup teleponya.


"Iya pak sama-sama, selamat siang."


Papa Geovandra lalu duduk di samping Jino yang kini sudah duduk dengan melurukan kakinya. Wajah lelah Jino tampak jelas. Papa lalu menatap Mama Murni dan Mama Murni pun mengangguk.


"Jino." Ucap Mama Murni.


"Iya Ma, ada apa?" Ucap Jino sambil menatap sang Mama.


"Bagaimana dengan Jeff?" Tanya Mama.


"Belum ada hasil Ma, besok hari ketiga, kita akan cari sampai hari ketujuh Ma!" Ucap Jino.


"Tapi sudah tidak ada waktu, bahkan katering sudah siap semuanya, Jeff belum pulang." Mama Murni meneteskan air matanya. Jino hanya menatap sang Mama dengan tatapan iba. Dirinya bahkan sudah berusaha mencari keberadaan Jeff sekuat tenaganya. Tetapi belum membuahkan hasil yang maksimal.


" Semuanya sudah siap, undangan sudah tersebar, tetapi malah yang ada adalah upacara pemakaman." Ucap Papa Geovandra.


"Baiklah, tidak ada upacara pemakaman Ma, tetapi upacara pernikahan tidak bisa di elakan lagi, kita tidak bisa menarik kembali undangan." Ucap Papa dengan suara yang rendah. Mama Murni menghentikan tangisnya dan menatap sang suami tercinta.


"Jeff akan pulang Pa!" Ucap sang istri sanbil menatap wajah suaminya.


"Jika saat itu tiba , kita pasti akan menyambutnya dengan sukacita, tetapi jika ternyata pas hari H Jeff tidak kunjung pulang, kita mau apa Ma?" Tanya Papa sambil menatap mata basah Mama Murni.


Mama Murni terdiam dalam kebingungannya. Dia nenundukan wajah dan merasa sangat pusing tak bisa menjawab pertanyaan sang suami. Tuan Geovandra menatap sang istri dengan intens. Melihat sebuah kebingungan yang tak kunjung habis. Sedang Papa merasa dirinya sudah mendapatkan jalan keluar. Rania datang menghampiri Jino dan keluarganya.


"Bagaimana kak, apa sudah ada yang menemukan kak Jeff?" Ucap Rania dengan mata yang berkaca-kaca. Jino sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tanpa bisa menjawab apapun. Setidaknya Jino sudah berusaha yang terbaik untuk mencari keberadaan sang adik. Walaupun hasilnya nihil.


Rania terdiam melihat jawaban Jino. Rasa sesak dalam dadanya semakin menumpuk. Tubuhnya seolah lemas tak bertumpu. Rania duduk di samping Jino dan menatap jauh ke arah danau. Jino berpindah menjauhi Rania. Jino memang tidak pernah bisa dekat dengan orang yang baru dia kenal.


Jino hendak pergi menyelam lagi setelah beristirahat sebentar.

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya Papa sambil menatap punggung Jino yang menjauh.


"Menyelam lagi Pa." Tangkas Jino.


"Kamu bahkan belum makan siang nak!" Ucap Papa merasa kasihan melihat Jino kelelahan.


"Nanti saja Pa!" Ucap Jino sambil kembali berjalan menuju ke danau.


"Pada saatnya tiba, tiada usaha yang berbuah pahit." Ucap Papa Geovandra dalam hatinya. Dia menatap sang putra dengan tatapan penuh harap. Besok hari ketiga pencarian. Semoga saja cepat membuahkan hasil.


"Ma, ayo kita ke rumah sakit melihat keadaan Kisya!" Ajak Papa.


"Baiklah Pa, tapi bisakan kita membawa bayi ke ruang perawatan, sudah dua hari Baby Vano kita abaikan." Ucap Mama Murni dengan mata yang merah.


"Sepertinya tidak bisa Ma, rumah sakit tidak baik untuk bayi, Papa takut Baby Vano tertular penyakit." Ucap Papa.


"Tapi Kisya akan sangat senang jika kita membawa Baby Vano."


"Tidak bisa Ma, kesehatan Baby Vano sangat penting, dia adalah penerus keluarga kita, harta kita yang sangat berharga.," Ucap Papa dengan wajah yang serius.


Rania mendengar ucapan tuan dan nyonya Geovandra. Dia lalu mengelus perutnya. Dan memejamkan mata seolah dirinya sedang menyentuh seorang bayi mungil.


Bersambung 🌺


Ahemm lihat unyu banget kan pake baju renang😍


yang no 1



yang no 2



Yang no 3

__ADS_1



y


__ADS_2