
Mereka berjalan dengan cepat menuju ke lobi. Jino menghubungi petugas hotel.
Meido Jo wa watashi o tasuketekudasai
( Nona maap bisa tolong bantu saya)
Ucap Jino dengan wajah yang sangat cemas.
Ā mochiron, sensei, watashi wa anata no tame ni nanigadekiru?
(Oh tentu saja tuan ,apa yang bisa saya bantu? )
Darekaga watashitachi o byōin ni tsureteitte kuremasu ka, watashitachi no akachan wa byōkidesu
(Bisakah seseorang mengantar kami ke rumah sakit, bayi kami sakit)
Mochiron, chottomatte, sensei, watashi wa untenshu ni renraku shimasu
(Tentu saja, tunggu sebentar tuan, saya akan menghubungi supir)
Dōmo arigatōgozaimasu
(Terimakasih banyak nona)
Jino duduk dengan gelisah menunggu kedatangan supir hotel.
Baby Vano merintih kedinginan. Seluruh tubuhnya membiru.
Kisya terus menangis melihat baby Vano merintih. Air mata nya tak berhenti menetes. Tubuhnya kaku dan tidak bisa berbuat apa apa selain menangis.
Sebuah rasa takut menusuk ke sanubarinya. Kisya merasa sangat sedih melihat bayi kecil itu membiru. Sesaat kemudian supir hotel datang dan langsung mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat. Sepanjang. Jalan Jino dan kisya merasa sangat cemas.
"Kamu gak boleh sakit sayang , Daddy tidak mau kamu sakit, anak Daddy harus kuat nak!..
Ucap Jino dengan raut muka yang begitu cemas. Air mata Jino menetes tak terbendung . Sebuah ketakutan yang dia rasakan saat ini hampir sama dengan ketakutan yang dia rasakan saat dulu menggendong Kisya menuju rumah sakit .
Kisya menangis dengan diam. Menatap Jino yang begitu pucat dengan wajah kecemasanya.
"Daddy cuma punya kamu dalam hidup ini, tanpa kamu semuanya akan sia sia !..
Tangis Jino begitu melirih. Jino menangis dengan ketakutanya. Air mata yang tak terbendung membuatnya semakin pilu . Kisya menangis dan merasakan perih. Kisya lalu memeluk Jino.
"Jangan berkata begitu kak, baby Vano pasti akan baik baik saja!..
Ucap Kisya dengan air mata yang terus menetes membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
Sesaat Jino menatap Kisya yang sedang menangis. Jino semakin menagis melihat Kisya.
"Andai kamu tau siapa bayi yang aku peluk, andai kamu tau darah daging siapa bayi ini, andai kamu tau ini adalah anak kita, kamu pasti tak akan kuat untuk menahan rasa cemas dan ketakutan. Kisya ini anak kita, dan dia sakit, kalo saja kamu tau hal yang sebenarnya , kamu pasti akan menangis lebih dari ini!..
Ucap Jino dalam hatinya sambil menatap Kisya dengan mata yang basah.
Jino terus meneteskan air mata. Begitu pula dengan Kisya. Bayi Vano sedikit hangat di dalam mobil dengan pelukan sang ayah dan beberapa selimut tebal yang membungkusnya.
"Kak.. yakin baby Vano tidak akan apa-apa!..
"Kis.. ini adalah kali kedua aku menggendong seseorang dengan kecemasan dan rasa takut yang membuat hatiku tak tahan menahan sakit."
Ucap Jino dengan tangisan nya sambil terus mengecup kening sang buah hati.
"Kali kedua?..
Kisya merasa bingung dengan ucapan Jino. Sesaat kisya terdiam dan berhenti menangis. Memikirkan tentang apa yang di ucapkan oleh Jino.
"Iya, saat itu seperti ini juga, saat aku yang bodoh telah mencelakakan mommy nya Vano, aku mengendongnya seperti ini dan membawanya ke rumah sakit, dengan beribu ketakutan yang hampir membunuhku. Aku sangat sangat takut saat itu, aku berharap mommy Vano bisa hidup dan selamat, tidak peduli dengan hukuman yang aku dapatkan , aku takut dia tidak bangun lagi, seperti saat ini aku takut Vano tidak bisa bertahan, karena kalo saja Vano tidak bisa bertahan untuk apa lagi aku hidup. "
Air mata Jino terus mengalir.
"Vano tidak akan apa apa kak tidak akan!
Kisya menangis dengan tersedu.
"Saat itu aku seperti orang gila berlari tanpa memikirkan apapun, karena dalam pikiranku aku hanya ingin dia selamat. Dan aku sangat menyesal telah begitu bodoh melukai dia , membuat dia seperti itu. Dan sekarang aku dengan bodoh nya mengulangi kesalahan yang sama,pergi dari pesta dengan membawa bayi kecil dengan suhu yang sangat dingin, aku bukan ayah yang baik, aku bodoh, aku telah membuat darah dagingku sendiri menderita, maapkan Daddy baby Vano, i love you so. Much baby..
Jino terus menangis tanpa henti. Begitu pula dengan Kisya. Kisya tidak tau harus menghibur Jino sepeti apa. Karena dirinya pun sangat ketakutan . Takut jika sesuatu terjadi pada bayi kesayanganya. Tidak akan bisa dia bayangkan jika itu terjadi. Dia pasti akan menjerit dan menangis meraung-raung. Supir hotel terus melaju kecepatan dengan sangat cepat. Jino memeluk baby Vano dengan erat dan menatapnya penuh kasih sayang.
Sesekali Jino mengecup kening dan pipi bayi tampanya. Namun baby Vano Masi tertidur dengan suara menggigil.
"Dede nanti sembuh ya, nanti kita pulang saja ke rumah, Dede sepertinya tidak cocok berada di tempat yang dingin"
Ucap Jino menatap putranya dengan mata yang basah.
Saat itu waktu menunjukan pukul 22:30 waktu Jepang.
Sā, dōshite kon'na ni nagai nodesu ka, itsu todoku nodeshou ka?
__ADS_1
(Pak kenapa lama sekali, kapan sampainya?)
Ucap Jino dengan lantang penuh kecemasan.
Mamonaku, shinbō shite kudasai!
(Sebentar lagi sampai tuan, mohon bersabar!)
Ucap supir itu sambil terus memacu dengan kecepatan tinggi.
Dono kurai nagaku, sensei, watashi wa watashi no kodomo o shinpai shite iru"
(berapa lama lagi pak, saya khawatir dengan anak saya)
Ucap Jino penuh dengan kecemasan.
Yaku 5-bu de watashitachi wa sugu ni tsukudeshou, sensei
(sekitar 5 menit lagi kita akan segera sampai tuan)
Ucap supir itu.
Dan Jino kini hanya bisa menunggu dengan kecemasanya. Jino menatap tajam ke arah sang buah hati dan mengecup kembali kening buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
Kisya lalu mengelus kening Vano dengan sangat lembut .
Jino lalu menatap Kisya dengan mata sendunya. Dan Kisya hanya bisa menatap Jino penuh rasa cemas. Mereka berdua tersiksa dengan kecemasan yang teramat sangat.
"Kis, jika Vano adalah anakmu , apa kamu akan sedih melihatnya seperti ini?..
Ucap Jino pelan sambil menatap Kisya dengan penuh rasa sedih.
"Kak, mau dia anaku atau bukan, yang aku tau saat ini aku sangat ketakutan terjadi sesuatu padanya"
Ucap Kisya dengan deraian air matanya.
Lalu Kisya memeluk Jino dengan perlahan. Dan mereka menangis bersama. Membagi sebuah rasa yang mencekik Mereka, sebuah rasa yang bernama kekhawatiran.
"Dia anak kita Kis"
Ucap Jino dengan suara seraknya namun sangat pelan.
Bersambung
hai readers sayang jangan lupa kasi bintang kasi hati dan jempol ya, jika kalian suka dengan Jino dan Kisya.
terimakasih banyak sudah membaca sampai sejauh ini. walaupun Masi banyak typo dan banyak kekurangan lainya kalian Masi setia menunggu Jino dan Kisya.
__ADS_1
salam sayang untuk semuanya.