Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Salah Faham


__ADS_3

Kisya terdiam mendengar ucapan Jino pada Lintang. Kisya merasa terkejut Jino ingin menunda kehamilanya. Mood Kisya yang bagus karena kehamilan Lintang kini berubah sangat jelek karena ucapan sang suami. Setiap perempuan pasti ingin memiliki seorang anak, apalagi perempuan yang sudah menikah. Begitupula dengan Kisya. Dia ingin melahirkan buah hatinya sendiri. Kisya tidak mengerti bahwa apa yang Jino ucapkan adalah demi kebaikanya sendiri.


Kisya juga belum tau bahwa Baby Vano adalah anak kandungnya bersama Jino. Karena itu Kisya ingin sekali hamil seperti Lintang. Jino tidak menyadari ucapanya barusan membuat mood Kisya berubah drastis. Jino dan Lintang masih bercakap. Sedang Kisya hanya terdiam dalam rasa yang tidak menyenangkan. Sebuah rasa kesal terhadap sang suami karena ingin menunda kehamilanya.


"Lihat saja, aku akan hamil suatu hari nanti, tetapi aku akan memberimu pelajaran dulu sebelum itu!" Ucap Kisya dalam hatinya. Baru kali ini dia begitu geram terhadap ucapan sang suami. Entah kenapa ucapan Jino saat itu membuat hatinya nyelekit dan terasa sakit. Wajah bahagia dengan sinar penuh cinta itu kini hilang sudah, kini berubah menjadi muka lesu tanpa semangat.


Jino dan Lintang masih berbicara dengan asik. Melupakan Kisya yang ada di sebelahnya yang sedang mode kesal. Kisya melangkah keluar ruangan. Dengan wajah suram. Dia kesal dan amat geram.


"Sayang mau kemana?" Tanya Jino sambil menoleh kepada Kisya.


"Aku mau ke kantin, beli makanan buat Lintang, kalian ngbrol saja dulu!" Ucap Kisya sambil terus membuka knop pintu dan langsung melangkah keluar dan menutup pintu kembali. Jino melihat pintu sudah tertutup rapat. Jino lalu memberikan wajah kesal kepada Lintang.


"Ya ampun kenapa wajahmu kak?" Ucap Lintang.


"Itu gara-gara kamu, hampir saja aku keceplosan kalo Kikis baru 6 bulan paska operasi sesar, jangan bahas kehamilan dulu lah!" Ucap Jino.


"Iya aku salah kak, aku lupa kalo Kisya baru saja melahirkan bayi, aku lupa bahwa Baby Vano adalah darah daging kalian!" Ucap Lintang manyun.


"Oke oke, jangan lupakan itu ya, aku tau kamu tidak sengaja ko." Sahut Jino.


"Iya karena aku bahagia, jadi aku melupakan semuanya, ah aku keterlaluan." Lintang menyesali perbuatanya.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak mau Kikis berada dalam bahaya. Dokter mengatakan sangat bahaya jika Kisya hamil lagi dengan jarak yang sedekat ini, aku juga membaca beberapa artikel kehamilan. Dan itu memang benar, aku tidak mau menyakiti istriku, dia sudah menjadi istriku itu sudah luar biasa untuku, aku tak mau dia menderita karena mengandung lagi!" Ucap Jino dengan tatapan pilu. Jino begitu mencintai Kisya sangat dalam.


Sehingga Jino tak sanggup jika melihat hal yang dapat membahayakan tubuh kisya. Jino akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi dan memperlakukan Kisya penuh kasih sayang. Baginya saat ini kisya adalah kehidupannya. Jiwanya, dunianya, mimpinya, dan semua tentang dirinya. Kisya ibarat nyawa untuk Jino. Dan nyawanya hanya ada satu. Tidak bisa di ganti dengan apapun.

__ADS_1


Karena itu Jino tak mau nyawanya sampai menderita. Hanya itu maksud dan tujuan Jino berkata ingin menunda kehamilan Kisya. Lintang mengerti dengan semua penjelasan jino. Dia begitu sesak ketika Jino berkata seperti itu. Lintang belum sepenuhnya melupakan Jino. Namanya mantan pasti baperlah.


Tetapi dengan kehadiran sebuah janin dalam perut Lintang. Kini seolah menambah kekuatan Lintang untuk terbebas dari cinta masalalunya. Berkata memang mudah. Tetapi menjalani untuk melupakan itu sangat sulit. Janin yang kini tumbuh sehat di rahim Lintang. Kini menjadi pagar yang kuat ketika Lintang merindukan Jino. Karena kini tujuan hidup Lintang adalah janin itu dan suaminya Boy. Sekuat tenaga Lintang akan melupakan Jino seluruhnya dari hatinya.


Kini Lintang dan Jino bisa bersama dengan ikatan persaudaraan itu sudah sebuah nilai Fantastik untuk Lintang. Kalian bisa merasakan bagaimana dulu sakitnya menjadi Lintang. Dia harus berkorban demi sahabat dan melupakan kekasih yang amat dia cintai. Sekuat hati Lintang mengobati diri sendiri. Sekuat hati pula Lintang melupakan.


Walau belum sepenuhnya Lintang bisa melupakan Jino, tetapi setidaknya Lintang sudah memiliki Boy dan jabang bayi mereka sebagai tujuan hidup yang sesungguhnya.


"Kakak tau tidak?" Ucap Lintang.


" Apa?" Jawab Jino.


"Sangat sulit melupakanmu." Lintang berkata dengan pilu.


"Maaf, maafkan aku!" Hanya itu yang bisa Jino ucapkan. Jino mengakui semua keslahanya terhadap Lintang. Dan matanya mulai memerah. Lintang meneteskan air matanya.


"Aku tau, terlalu besar dosaku padamu, aku bahkan memberikan sebuah janji palsu untukmu, maafkan aku, kini aku benar-benar telah berpaling dan mencintai Kisya." Jino menatap mata Lintang dengan sendu.


"Itu harus kak, kamu harus mencintai Kisyaku setulus hatimu, aku sangat menyayangi dia. Kisya adalah satu satunya sahabat sejatiku, dia adalah adiku, maka sedikit saja kamu melukainya maka aku akan membunuhmu!" Ucap Lintang dengan tetesan air matanya.


"Aku berjanji tidak akan pernah melukainya, tapi kamu juga harus hidup bahagia, apalagi kamu sekarang sedang mengandung, kamu tidak boleh menangis seperti ini!" Jino mengelus lembut kening Lintang. Jino tahu dengan jelas betapa bersihnya hati Lintang. Dan kini tahu bahwa persahabatan Lintang dan Kisya tidak ada duanya.


"Aku akan bahagia, aku akan mempunyai banyak anak, bahkan Boy ingin memenuhi rumah kita dengan anak-anak!" Ucap Lintang dengan senyuman manisnya.


"Iya bagus juga idenya Boy, kamu kan kesepian, tidak punya sodara, jadi kalian harus membuat anak yang banyak agar bisa tampil, jika ada turnamen kesebelasan sepak bola antar RT." Jino terkekeh.

__ADS_1


"Ya ampun kak Jino, tidak sebanyak itu juga kali, itu kan terlalu banyak, ah kau mengejeku !" Ucap Lintang dengan mulut yang manyun.


"Lah kan itu lebih bagus, jadi Mami Papi kamu pasti akan sangat senang karena kamu memberi mereka cucu kesebelasan." Jino masih mode mengejek.


"Aku tidak mau dengar!" Ucap Lintang manyun.


"Apa mau lebih dari itu?" Tanya Jino.


"Ah ,kak kamu nakal, kamu membuatku mual." Rengek Lintang.


"Lah, apa hubungannya coba dengan rasa mualmu itu?" Jino masih terkekeh. Lintangpun tertawa pada akhirnya. Walau memang agak pelan karena lemas.


"Kapan suamimu datang?" Tanya Jino.


"Dia seperinya sedang sibuk, tapi aku sudah menghubungi Mami dan Papi, mereka pasti sedang di perjalanan." Ucap Lintang.


"Kapan kamu menghubungi mereka?"


"Aku mengirim pesan." Ucap Lintang.


"Oh yasudah."


"Ka, bantu aku untuk bangun!" Lalu Jino meraih bahu Lintang dan membantu Lintang untuk bangun. Jino membenarkan ikatan rambut Lintang yang sangat berantakan.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka dengan tiba-tiba. Sosok mata merah menatap tajam saat Jino sedang membantu Lintang menbenarkan rambut Lintang. Seperti ada aura kecemburun disana.


🌺 Bersambung 🌺


__ADS_2