
Papa Geovandra pamit terlebih dahulu meninggalkan hotel. Mereka memang sudah memesan hotel itu untuk tiga hari kedepan. Papa harus memantau pencarian Jeff. Karena ini sudah hari ke 5 Jeff hilang. Mama Murni dan Bunda Nisya hanya menunggu di hotel saja. Mama Murni sebenarnya ingin ikut ke lokasi. Namun Papa melarangnya. Papa menyarankan agar Mama menikmati liburan mereka di sana. Dan Mama Murni terpaksa meng iyakan.
Padahal gejolak hati seorang Ibu bahkan semakin memuncak. Mama Murni sangat tidak sabar menunggu kabar baik, dan sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kabar terburuk sekalipun. Yang terpenting bagi Mama Murni adalah kepastian tentang putra kesayanganya. Apa masih hidup ataukah sudah meninggal.
Bagi seorang Ibu merasakan sebuah kesakitan yang teramat sangat mengingat hal itu. Mama Murni menatap punggung sang suami yang telah berjalan pergi meninggalkan dirinya. Untuk menuju ke lokasi danau itu.
"Bu sabar ya, kita tunggu di sini saja, menjaga cucu kita!" Bunda Nisya menatap Ibu Murni dengan penuh iba. Mama Murni terlihat begitu gelisah. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun dia harus mencoba untuk selalu bersabar dengan apapun yang terjadi.
"Iya Bu." Mama Murni terduduk dengan wajah yang menekuk.
Berharap ada sebuah keajaiban dalam kehidupanya. Dan berharap semua ini hanyalah mimpi buruk untuk dirinya. Sehingga dia bisa terbangun dan kembali ke dunia realita dimana putranya Jeff masih ada disampingnya. Helaan nafas Mama Murni lontarkan. Terlihat hatinya begitu sakit dan perih.
"Sebaiknya kita makan dulu Bu Murni, Baby Vano juga sudah anteng dengan susunya, tuh." Ucap Bunda Nisya sambil menunjuk cucu kesayanganya yang sedang anteng memegang susunya sendiri. Baby Vano tidur di atas stroler. Begitu lucu dan menggemaskan. Membuat Bunda Nisya tak henti tersenyum karena takjup dengan perkembangan sang cucu setiap harinya.
"Bagaimana hati ibu ketika Rasya di vonis tak bisa bertahan?" Pertanyaan Mama Murni membuat Bunda Nisya berubah sayup. Wajahnya yang tadi
Ceria kini menjadi pucat pasi. Dia teringat pada putra bunsunya yang kini masih terbaring lemah tak berdaya di sebuah rumah sakit yang ada di Singapura.
"Hatiku sakit seolah saya ingin menjerit dan memohon pada tuhan, bahwa saya ingin menggantikan segala kesakitan putraku Rasya, apa lagi saat Rasya di vonis tak bisa bertahan tanpa alat, itu sebuah pukulan untukku, saya tak bisa tidur untuk waktu yang lama, aku takut ada berita buruk yang terdengar."
__ADS_1
Ucap Bunda Nisya dengan nada yang bergetar karena menahan tangis
"Hati kita sama sakitnya Bu." Ucap Mama Murni dengan pilu. Kini tatapan mereka sama kosongnya. Kedua wanita paruh baya itu merasakan sebuah terpaan badai dalam sanubarinya. Kesakitan yang mereka rasakan adalah kesakitan seorang ibu yang terluka karena kasih sayangnya terhadap sang putra.
"Bagi saya, Rasya sudah bernafas saja, itu sebuah mukzizat, saya tidak akan melepaskan alat bantu pernafasan Rasya, saya akan selalu menbantu dia untuk bernafas. Saya tidak perduli dengan berapa uang yang akan saya keluarkan saat ini, bahkan jika saya harus menjual perusahaan saya demi biaya berobat Rasya, saya tidak perduli, saya hanya perduli Rasya, saya hanya ingin Rasya bernafas, itu saja!" Tetesan air mata kini sudah tak terbendung lagi. Jatuh tanpa dia sadari.
Mama Murni menatap Bunda Nisya dengan kepedihan yang sama pula.
"Dunia saya serasa roboh ketika tau Jeff hilang, saya saat ini hanya ingin sebuah kepastian, apakah Jeff masih hidup , ataukah memang sudah pergi meninggalkan kami!" Mama murni ikut meneteskan air matanya. Hatinya begitu pedih dan pilu. Ini adalah hari ke lima sang putra dinyatakan hilang. Dan tersisa dua hari lagi. Bahkan setelah tujuh hari, jika Jeff masih tidak bisa ditemukan, maka semua Tim SAR akan berhenti mencari keberadaan Jeff.
Mengingat hal itu, hati Mama Murni terasa teriris pisau yang tajam. Hatinya seolah hancur tak berbentuk lagi. Semuanya sudah hancur. Jeff adalah penerus satu-satunya. Bahkan dia tak bisa memiki penerus dalam kehidupannya. Kesakitan yang dia rasakan saat ini sungguh tak terkira. Kedua Ibu ini adalah bukti dari kejamnya takdir tuhan yang menerpa.
Lalu Mama Murni mencoba untuk menggendong Baby Vano. Berharap Baby Vano berhenti menangis dan tertidur. Namun setelah Mama Murni menggendong sang bayi. Bahkan Bayi itu malah bertambah kencang teriakannya.
"Ya ampun sayang, kamu kenapa?" Mama Murni mencoba untuk menenangkan cucu kecilnya yang mengamuk.
"Apa susunya habis?" Tanya Bunda Nisya dengan cemas. Mama Murni lalu menggeleng," susunya masih ada, entahlah kenapa bayi ini menangis dengan sekencang itu?" Mama Murni mulai panik karena sang cucu tidak mau diam, dan malah Makin kencang menjerit dan berteriak.
"Lalu dia kenapa?" Bunda Nisya cemas.
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu bu, mungkin saja ada yang sakit?"
Mana Murni mengendong dan mengayun sang bayi tampan itu
"Apa kita hubungi Jino saja?" Ucap Bunda Nisya.
"Entahlah Bu, Jino dan Kisya mungkin sedang kelelahan atau bahkan mereka sedang tidak mau di ganggu, mereka kan pengantin baru." Mama Murni berkata sambil mengayun cucunya yang masih mengamuk.
"Iya juga sih, tapi bagaimana ini, bahkan Baby Vano tidak mau diam, dia masih menangis saja." Bunda Nisya menatap sang bayi dengan kecemasanya.
"Apa ada hewan yang menggigit mungkin, ya?"
"Saya juga kurang tau, ayo kita periksa!" Bunda Nisya lalu mengajak mama Murni untuk masuk ke kamarnya dan memerika seluruh tubuh Baby Vano. Mereka membuka baju batik tampan itu, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Baby Vano telah digigit oleh binatang.
"Bagaimana ini, Baby Vano bahkan tidak mau diam, apa kita mesti datang ke kamar Jino supaya Baby Vano diam?"
"Entahlah Bu Murni, saya juga sebenarnya tidak enak menggangu mereka, tapi apa boleh buat, bayi ini bahkan tidak mau diam sama sekali!" Bunda Nisya berkata dengan kecemasanya. Dia tak tau harus berbuat apa ketika menyangkut Baby Vano. Karena hanya Jino saja yang bisa menenangkan bayi kecil itu. Baby Vano hanya takluk oleh sang Daddy saja.
"Baiklah, kita dengan tebal muka akan datang ke kamar mereka berdua!" Ucap Mama Murni dengan wajah bingungnya. Lalu mereka pun segera berjalan meninggalkan kamar dan menuju ke kamar pengantin Jino dan Kisya.
__ADS_1
🌺 Bersambung 🌺