Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Teledor


__ADS_3

Kisya masih menangis dalam diam. Kini dirinya enggan untuk melakukan aktivitas apapun. Dia hanya ingin diam saja di dalam kamar. Rasa sakit dalam hatinya bukan karena apapun. Tetapi karena sebuah kerinduan yang menggebu. Kisya begitu merindukan suami tercintanya. Sudah empat hari tanpa kabar berita.


Kisya tahu dengan jelas bahwa suaminya pasti amat sibuk di sana. Tetapi kenapa sampai tidak ada satu pesanpun yang dia terima dari sang suami. Rasa sakit perih dan sesak bertumpuk dalam hatinya. Kisya merasa sangat pedih dan tersiksa karena kerinduannya. Dia benar-benar merindukan suaminya tercinta.


Mama mulai menyadari semua tingkah sang menantu. Mama tau Kisya begitu merindukan Jino. Tetapi Mama tidak tahu kalau Jino masih belum juga menghubungi Kisya. Mama hanya bisa mengintip di balik pintu. Setiap Kisya menangis sambil memandangi foto sang suami.


Mama tidak tahu, bagaimana lagi cara untuk menghibur sang menantu kesayangan. Mama Murni tidak tega melihat menantunya tersiksa seperti itu. Tapi Mama Murni juga tidak bisa membuat Lintang setiap hari ke mansion mereka. Jadi sekarang Mama Murni hanya bisa diam saja melihat sang menantu terpuruk dalam rasa rindunya.


"Sayang, kenapa nangis terus Baby?" Kisya menggendong sang buah hati dengan hati yang masih terkecik karena rindu. Baby Vano masih merengek dengan segudang kemanjaannya. Kisya lalu membawa Baby Vano keluar dari kamarnya. Wanita itu sebenarnya sangat malas keluar kamar. Tetapi anak gantengnya rewel dan sepertinya sangat bosan untuk selalu berada di kamar.


Kisya lalu hendak menceburkan kembali Baby Vano di kolam renang. Benar saja itu sukses membuat Baby Vano tertawa dengan girang. Bayi itu sangat mirip dengan Ayahnya. Mereka sangat suka dengan kolam renang. Mereka adalah satu kesatuan yang sama. Di mulai dari wajah dan kesukaan semuanya hampir sama.


Kisya menyunggingkan senyumnya membayangkan bahwa sang suami berenang dengan sangat tampannya. Khayalannya terbang entah kemana. Sampai dia lupa Baby Vano berada di dalam kolam renang dan hampir tenggelam. Baby Vano terlihat sudah kesulitan untuk benafas.


"Kisya, itu Baby Vano hampir tenggelam!" teriak Mama dalam kecemasan Mama berlari dan langsung turun ke kolam renang menggendong cucu kesayangannya.


Kisya begitu terkejut dan dia merasa sangat bersalah.


"Baby, sayang maafin Mommy!" Kisya mulai menangis menyesali perbuatanya yang tidak fokus menjaga sang buah hati.


"Kamu terus melamun seperti itu, bagaimana jika terjadi sesuatu hal pada cucuku!" Mama Murni mulai menggunakan nada tinggi. Pasalnya dia begitu terkejut melihat Baby Vano hampir tenggelam Untungnya dia keburu datang. Mama Murni menangis sambil memeluk tubuh basah sang cucu. Baby Vano terlihat lemas dan dengan segera Mama Murni bergegas untuk berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


Kisya hanya bisa mengikuti dari belakang denga tangisan dan rasa bersalahnya. Ini semua karena Jino. Dia begitu merindukan sang suami dan sampai saat ini bahkan belum ada kabar beritanya. Dan itu membuyarkan konsentrasi Kisya dalam menjaga sang Baby lucu itu. Kisya masih menangis dan mengikuti sang Mama. Kini mereka sudah sampai di rumah sakit.


Mama Murni sudah menidurkan Baby Vano di ranjang kesakitan di Instalasi gawat darurat. Kisya masih menangis melihat buah hatinya tercinta terkulai lemas dengan menyedihkan. Baby Vano kesulitan bernafas. Walau tadi sempat di bantu oleh Mama Murni untuk mengeluarkan air dalam mulut sang Baby. Tetapi itu tidak cukup. Baby Vano akhirnya dinyatakan harus di rawat di rumah sakit karena terlalu banyak air yang masuk ke dalam paru-parunya.


"Apa yang ada dalam pikiran kamu nak sehingga bisa buyar dan melupakan anakmu sendiri, tadi Baby Vano berjuang untuk berenang tapi dia kan belum lancar berenang. Jadi kamu harus lebih memperhatikan dia!" Mama menangis sambil menggenggam tangan sang cucu kesayangannya dengan tangisan ketakutan.


"Maafin Kikis Ma, Kikis menyesal, Baby maafin Mommy nak, maafin!" Kisya masih menangis dengan pedih. Rasa bersalahnya kepada sang buah hati sangat besar. Dia teledor menjaga buah hatinya, sehingga menimbulkan sebuah insiden yang membahayakan nyawa buah hatinya itu.


"Sudahlah, sekarang kita berdo'a saja supaya Baby Vano kita baik-baik saja, semoga cucu oma baik-baik saja ya sayang, Baby Vano," tangis Mama Murni meledak. Begitu pula dengan Kisya. Kisya menangis dengan rasa sesak di dadanya. Rasa rindunya mendadak hilang dan berganti dengan sebuah kecemasan dan rasa bersalah.


Dia tanpa sengaja telah membuat putranya berada dalam bahaya.


Kisya semakin menangis tidak tega ketika Baby Vano dengan lemah mulai menangis. Tetapi setidaknya Kisya merasa tenang. Setidakya Baby Vano masih menangis. Kisya memeluk tubuh sang balita usia enam belas bulan itu. Baby Vano masih menangis karena kesakitan saat perawat melakukan pemasangan infus.


Mama Murni lalu menelepon sang suami. Dan menceritakan semua kejadian tersebut. Papa Geovandra merasa terkejut mendengar berita tersebut. Dengan cepat Papa meluncur ke rumah sakit untuk melihat kondisi sang cucu berharganya. Tidak lama kemudian Papa Geovandra pun datang.


"Ma, bagaimana kondisi Baby Vano?" ucap Papa dengan rasa cemasnya.


"Pa, sekarang Baby Vano sudah mendingan tetapi dia masih kesulitan bernafas!" ucap Mama memeluk sang suami dengan tangis yang tak terhindar lagi.


"Sabarlah Ma, ini cobaan dari Tuhan!" ucap Papa dengan kecemasanya.

__ADS_1


Kisya masih memeluk sang buah hati. Baby Vano tidak mau lepas dari pelukan Kisya. Baby Vano akan menangis ketika Kisya jauh sedikit saja. Kini Baby Vano sudah di pindahkan ke dalam kamar rawat inap khusus anak. Disana keluarga bisa lebih nyaman daripada di Instalasi gawat darurat.


"Kis Papa tahu kamu memikirkan Jino, tetapi kamu harus bisa fokus menjaga de Vano, bagaimana jika terjadi sesuatu hal, tidak bisa Papa bayangkan!" ucap Papa sambil menggenggam erat tangan cucu kesayangannya.


"Iya maafin Kisya pa, Kisya teledor menjaga Baby Vano, Kisya begitu menyesal Pa, maafin Kikis!" Kisya mulai menangis kembali. Air matanya sudah membanjir sedari tadi. Dia merasa sangat bersalah kepada sang buah hati. Dia lupa pesan sang suami sebelum pergi. Jino berpesan agar Kisya menjaga dirinya dan menjaga Baby Vano dengan baik.


Kini Kisya benar-benar merasa bersalah dengan semua yang terjadi. Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya rasa rindunya terhadap sang suami bisa membuat dirinya membahayakan nyawa sang buah hati.


🌺🌺🌺


Bersambung


Hai sayang ini ada titipan pesan dari teman sesama author.


Promo novelnya berjudul My sweet husband. Jangan lupa di buka ya.


Dan juga novel yg berjudul FAITH buka juga ya.


Jangan lupa love like and star nya ya..


Salam sayang Lee/ Evangelin Harvey.

__ADS_1


__ADS_2