Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Sarapan Pagi Bersama


__ADS_3

Pagi itu Kisya bangun dan melihat seseorang yang begitu tampan masih terlelap di sampingnya. Kisya menatap lembut wajah tampan itu. Sayangnya wajah tampan itu kini di penuhi warna keunguan karena memar. Kisya mengelus seluruh wajah yang memar itu. Walaupun memar, dimata Kisya Jino tetap paling tampan.


Walau Kisya sudah menyentuh pipi dan sudut bibir Jino , tetapi Jino tidak kunjung bangun. Tangan Jino masih melengkung erat di perut sang istri. Kisya lalu bangun dengan perlahan-lahan. Agar tidak membangunkan sang suami. Kisya mandi dan mengenakan pakaiannya. Dia hendak berangkat ke kampus.


Kisya turun dari lantai dua dan menuju ke dapur. Terlihat Mama Murni sudah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh keluarga. Maid hanya membantu saja. Karena yang memasak adalah Mama Murni. Kisya ingin ikut membantu Mama masak namun Mama melarang. Mama mengatakan bahwa semua sudah beres. Akhirnya Kisya hanya duduk saja. Papa Geovandra sudah datang membawa cucu kesayanganya.


Baby Vano sudah tersenyum menatap sang Mommy.


"Sayang anak Mommy!" Kisya menggendong buah hatinya dan memberikan Baby Vano beberapa kecupan penuh kasih sayang. Baby vano terlihat senang. Dia menjerit dengan sangat keras. Sekarang baby vano sedang belajar merangkak. Dia masih belum bisa merangkak. Namun Kisya begitu senang melihat cara belajar sang buah hati. Kisya suka sengaja membiarkan Baby Vano tidur di karpet. Dan benar saja. Baby Vano langsung menggulingkan badanya dan mulai belajar merangkak.


Perkembangan Baby Vano sangat bagus dan aktif. Baby Vano semakin besar semakin menggemaskan. Kisya semakin mencintai sang buah hati. Walau kadang ucapan Jino tentang menunda kehamilan membuat hatinya merasa sangat tidak nyaman. Bukan maksud Kisya ingin membagi kasih sayang untuk Baby Vano dan bayinya kelak. Tetapi Kisya sangat ingin merasakan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan.


Kisya selalu memikirkan itu. Sehingga Kisya menjadi sangat tidak karuan. Sambil menatap Baby Vano sekilas Kisya merasa melihat senyuman Baby Vano yang aneh. Kenapa seperti senyuman sang Ayah. Kisya tersenyum dan mengecup kembali Baby Vano dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia berjanji jika kelak dirinya punya bayi pun, Kisya akan selalu menyayangi Baby Vano setulus hati.


Ah Kisya belum tahu saja kalo Baby Vano itu bayi yang dia lahirkan. Semuanya sudah duduk di meja makan. Tetapi Jino tidak kunjung turun.


"Kis, panggil Jino untuk sarapan!" Ucap Papa Geovandra sambil membawa Baby Vano dari pelukan Kisya.


"Iya Pa." Kisya berjalan menaiki anak tangga dan kini dia sudah sampai di dalam kamarnya. Terlihat sang suami masih terlelap di buai mimpi. Jino masih betah memeluk guling dan selimut tebalnya. Kisya datang menghampiri sang suami.


"Kak bangun!" Ucap Kisya pelan.


Jino sama sekali tidak menyaut.


"Sayang, bangun yuk, Papa dan Mama sudah menunggu di meja makan!" Ucap Kisya sambil menggoyangkan tubuh Jino. Jino masih tidak mau bangun.

__ADS_1


"Sayang, ayolah bangun, ini sudah terlambat!" Ucap Kisya merengek.


"Yasudah tidur saja tidak apa-apa, aku mau berangkat ke kampus dulu ya !" Ucap Kisya sambil beranjak dari tempat duduknya. Tetapi tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganya Kisya sampai Kisya jatuh ke kasur.


"Aw." Ucap Kisya merasa sangat terkejut.


Cup.


Jino nengecup kening sang istri dengan lembut.


"Morning." Jino tersenyum manis dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ih nakal!" Rengek Kisya manja.


"Gak apa-apa kan nakal sama istri sendiri!" Ucap Jino dengan senyuman nakalnya. Kisya mengangguk dan tersenyum manis. Lalu merekapun saling menatap dengan penuh rasa cinta. "Bahkan bangun tidur saja kami terlihat begitu cantik, hmm dan wangi!" Ucap Jino pelan.


"Aw." Jino memegangi pipinya yang masih sakit.


"Aduh sayang maaf, maafin aku ya yang, uwwhhh.. sini sini aku tiupin!" Ucap Kisya sambil meniup pipi Jino yang tadi dia cubit.


"Kis yang!" Ucap Jino terlihat kesakitan.


"Loh, apa hubunganya?" Kisya terkekeh.


"Biar cepat hilang sakitnya!" Jino mulai memelas.

__ADS_1


Kisya menatap wajah Jino dengan penuh rasa cinta lalu mengecup kening Jino, berpindah ke pipi kanan, pipi kiri, dan terakhir ke bibirnya yang masih membiru. Jino tersenyum dengan bahagia. Dia begitu mencintai sang istri Dengan amat sangat. Jino memeluk Kisya sambil memejamkan matanya seraya berkata.


"Teruslah seperti ini, jangan pernah berubah!" Jino masih nemejamkan matanya. Sebenarnya Jino menyimpan beban yang sangat berat di balik pelukanya. Dia menyimpan sebuah rasa ketakutan. Dimana suatu saat nanti setelah Kisya mengingat semuanya, dia akan melupakan rasa cintanya dan bahkan mungkin akan membeci Jino setengah mati.


Jino tidak bisa membayangkan itu sampai terjadi. Jino akan sangat terluka jika sampai terjadi. Makanya, bukan Jino tidak mau kisya sembuh dan mengingat masa lalu nya. Tetapi saat itu terjadi. Dimana semua memory Kisya telah terkumpul. Maka semuanya akan menjadi mimik yang sangat menakutkan untuknya.


"Yang kenapa? Pertanyaan Kisya memecah khayalan sang suami yang sedang menetralkan rasa gelisahnya.


"Ehmm, tidak apa-apa, hanya masih mengantuk saja!" Ucao Jino sambil melepaskan pelukannya. Jino mulai bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Jino hari ini harus bekerja walau memar di pipinya masih tanpak begitu ungu.


Kisya sudah turun terlebih dahulu. Setelah bersiap dengan pakaian kerjanya. Jino turun dan duduk di samping istri tercinta. Mereka makan dengan lahap. Dan sedikit berbincang. Terlihat Baby Vano sudah mulai makan juga. Dia makan biskuit bayi dan wajahnya sangat cemong dia terlihat begitu lucu. Pagi itu mereka sarapan dengan sangat bahagia. Seperti tidak ada beban lagi dalam hati seluruh jiwa yang kini sedang menyantap makanannya.


Jino pun selesai makan. Dia dan Kisya langsung pamit untuk segera berangkat.


"Baby Mommy tinggal dulu sama Oma ya sayang!" Kisya mengecup Baby Vano dan Jino pun begitu. Baby vano tersenyum dengan manis. Dia malah menjerit girang ketika kisya mengecupnya. Mama murni begitu senang karena Baby Vano kini setiap hari bisa dia asuh. Sehingga Mama murni melupakan kepedihanya. Kepedihan karena kehilangan sang putra yang sudah hampir satu bulan setengah. Kehadiran Baby Vano menghangatkan hati Mama Murni yang membeku.


Jino mengantar Kisya menuju ke kampusnya. Sepanjang jalan mereka tersenyum manis dan penuh rasa cinta. Mereka saling menggenggam tangan dan mendengarkan indahnya alunan musik klasik.


🌺🌺🌺


Dari kejauhan seorang wanita menatap Kisya dengan penuh rasa dendam. Kisya turun dari mobil dang suami. Jino lalu mengecup kening Kisya sebelum akhinya dia pergi. Kisya masih memperhatikan sang suami sampai akhirnya mobinya tidak terlihat lagi.


🌺 Bersambung 🌺


Di dalam mobil pun mereka masih menempel kaya perangko yaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1



__ADS_2