
Jino melangkah menuju ke pintu dengan hati yang terluka. Dia sudah sangat bersabar untuk Kisya. Tapi penolakanya kali ini membuat hatinya luka. Dia memang harus melangkah pergi meninggalkan Kisya dan cintanya.
"Kasian sekali Jino." Ucap Papa Geovandra dengan suara yang rendah.
"Kis, panggil Jino Kis, jangan biarkan dia pergi!" Ucap Mama Murni pelan.
Kisya terdiam dengan seribu kekalutanya. Mata Kisya sudah sangat sembab. Dia merasa sakit Jino pergi dan berkata seperti tadi.
"Ah sudahlah, kalo memang Kisya tidak mau menikah dengan Jino , Papa akan mencarikan wanita yang bisa Jino nikahi, agar besok kita tidak menaggung malu, dan Baby Vano bisa punya seorang ibu." Ucap Papa Geovandra sambil pergi meninggalkan Kisya dan yang lainya.
"Yatuhan Kis, kamu egois." Ucap Mama murni lalu Mama Murni pergi meninggalkan Kisya dan Bunda Nisya.
Papa Geovandra dan Mama Murni menyusul Jino ke teras rumah.
"Jino tunggu!" Ucap Papa. Jino menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Ia Pa." Ucao Jino pelan.
"Mau kemana, apa kamu akan meyerah begitu saja?" Papa bertanya dengan wajah serius.
"Tentu saja tidak Pa, Jino menyukai Kisya dan kami saling menyukai, Jino yakin kisya akan keluar menyusul Jino." Ucap Jino pelan.
"Kamu seyakin itu." Ucap Papa.
"Karena Jino sangat mencintai kisya Pa, dan Kisya juga mencintai Jino, dia hanya butuh waktu saja."
"Kamu begitu kuat menahan rasa cinta kamu, Papa perhatikan, kalian memang sangat dekat, bahkan kalian sempat bermalam bersama." Ucap Papa.
"Apa , Papa tau darimana?" Jino terkejut mendengar ucapan sang Papa.
"Waktu itu Papa melihat Kisya keluar pagi-pagi dari kamar kamu." Ucap Papa.
"Iya ,tapi, tapi itu, itu tidak seperti yang Papa bayangkan." Ucap Jino gagap. Jino merasa sangat terkejut sekaligus malu mendengar papanya berkata seperti itu.
"Ah, Papa tidak ingin tau apa yang kalian lakukan, tapi apa kamu yakin kisya akan mengejarmu." Tanya Papa dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
"Jino, tidak berbuat itu lagi pa, tolong percaya Jino, Jino tidak menyentuh Kisya." Jino menelan Saliva.
"Papa tidak ingin tau, untuk apa kamu menjelaskan semuanya?"
"Karena Jino takut Papa menganggap Jino bejad, Jino sudah berubah Pa."
"Iya, Papa tau itu."
"Terimakasih Pa, Papa sudah mau mempercayai Jino ." Ucap Jino penuh rasa haru.
Disisi lain Kisya terkejut melihat Jino , Papa dan Mama Murni keluar dengan wajah yang kecewa. Kisya terdiam dan menghela nafas berat. Kisya menatap sang Bunda dengan tatapan pilu.
"Kis, jangan menyiksa diri sendiri, dan jangan juga menyakiti hati orang lain!" Ucap sang Bunda dengan tatapan sendu.
"Bunda, Kisya hanya berharap kak Jeff pulang, apa Kisya salah?" Kisya berkata dengan mulut yang bergetar.
"Kikis tidak salah jika mau menunggu jeff, tetapi resepsi besok juga harus Kikis pikirkan, dan juga kalo Kikis sudah suka terhadap Jino, kenapa Kikis harus menyiksa diri!" Mama berkata dengan nada sendu. Kisya terdiam sesaat.
"Maaf Bunda!"
"Apa maksud Bunda, kenapa kita harus pergi?" Kisya heran mendengar ucapan sang Bunda.
"Bunda hanya tidak mau kamu terlalu banyak berfikir tentang Jeff dan Jino, kita mulai hidup kita dari awal, kita akan menjual semua aset dan kita tunggal di desa terpencil."
"Lalu kak Jeff bagaimana?"
"Apa Kikis tidak melihat, betapa lelahnya Jino terus menerus mencari keberadaan Jeff, namum tiada hasil, manusia di dalam air selama tiga hari apa bisa bertahan?"
Kisya menggeleng dan kembali menitikam air matanya lagi.
"Ayo kita berkemas, kita akan menetap di desa yang paling jauh yang tak bisa di jangkau oleh Jino dan keluarganya!"
"Bunda, Kikis tidak mau pergi, kalau Kikis pergi jauh, maka Kikis tidak akan bisa bertemu dengan Baby Vano lagi."
"Iya, jangan temui siapapun dalam keluarga mereka, putusnya sebuah ikatan pernikahan kalian, anggap saja sebagai cobaan untuk kita."
__ADS_1
"Bunda, apa Bunda serius?"
"Semenjak kapan Bunda suka berbohong?
"Lalu Baby Vano?"
"Dia akan dapat ibu, besok kan Jino akan dinikahkan. Dan perempuan itu yang akan menjadi Ibunya Baby Vano." Ucap Mama Murni sambil berjalan menuju ke luar. Kisya terlihat bingung. Dia tidak mau kehilangan Baby Vano. Kisya lalu berteriak memanggil sang bunda.
"Bunda, Bunda tunggu!"
"Ada apa, ayo cepat kita berkemas!" Ucap Bunda.
"Jangan pergi, aku mau kita disini saja Bunda, jangan kemana pun, tetap tinggal d sini!" Kisya terisak dengan pilu. Matanya menohon kepada sang bunda agar tidak melakukan hal apapun karena dia masih mau tetap tinggal di kota ini.
"Jadi kita harus apa nak?"
"Panggil mereka Bunda, panggil kak Jino dan orang tuanya, katakan Kikis mau menikah dengan kak Jino!" Ucap Kisya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa itu benar?" Bunda bertanya dengan sungguh-sungguh. Menatap sang putri yang kini sedang menitikan air matanya.
"Apa yang kamu lakukan ini tidak terpaksa kan? Bunda tidak mau kamu terpaksa, Bunda juga tidak mau kamu menyiksa diri, Bunda ingin kamu tersenyum dan hidup bahagia sayang!" Ucap sang Bunda dengan mata yang berkaca-kaca. Dan Kisya mengangguk.
"Iya, panggil mereka Bunda, Kisya ingin tetap hidup seperti ini, tidak mau pindah kemanapun, dan Kikis ingin dekat dengan Baby Vano." Ucap Kisya pelan. Bunda tersenyu dan memeluk sang buah hati dengan begitu hangat.
"Sayang, kita tidak akan pergi kemanapun, jika kamu memang mencintai Jino, peluklah dia dan menikahlah Dengan dia, jangan menyiksa diri dengan terus menyesal dan memikirkan Jeff yang sudah tak ada. Tuhan mungkin sudah menjodohkan kamu dengan Jino sejak kalian terlahir, sehingga nemang kalian selalu mendapat jalan untuk bersama." Bunda Nisya menangis.
Kisya pun terisak dalam pelukan sang Bunda. "Kisya mencintai kak Jino. Tetapi rasa sesal ini takan begitu saja hilang Bunda, Kisya menerima lamaran kak Jino untuk Baby Vano dan supaya kita tetap bisa hidup nyaman tanpa menghindar." Kisya terisak dengan pilu.
"Sayang, kamu harus tersenyum nak, kamu harus tertawa dengan bahagia. Jangan bersedih lagi, kamu dan Jino harus merawat Baby Vano berdua, kalian harus bahagia,!"
"Kisya akan berusaha untuk melupakan kak Jeff, membuang jauh rasa sesal ini, walau mungkin butuh waktu Bunda."
"Bunda yakin Jino pasti akan mengerti"
Bunda Nisya lalu mengecup kening sang buah hati. Bunda Nisya tak mau putrinya menyiksa diri dengan berselimut sesal dalam hidupnya. Kini waktunya dia untuk memaafkan Jino.
__ADS_1
Bersambung 🌺