
"Makanlah, aku sudah memasak untukmu!" Ucap Ardi sambil duduk di samping kasur Rania.
Rania membuka matanya dan melihat pria berseragam itu bahkan mampir lagi ke rumahnya.
"Sepagi ini kamu sudah ada di sini, kamu mengganggu mood aku saja!" Rania berkata dengan kesal.
"Aku tidak mau kamu sakit, kamu harus sembuh dan sehat!" Ardi menatap Rania tajam.
"Siapa kamu berani mengatur aku huh?" Bentak Rania.
"Siapa aku,jelas saja aku adalah kakakmu!" Ardi berdecak kesal.
"Kakaku sudah tidak ada, dia pergi meninggalkan aku dan Mama, dia sudah tak perduli lagi!" Ucap Rania.
"Aku tetap kakakmu, aku kakak kandungmu biarpun kamu tidak menyukai itu, jangan sampai perceraian Mama dan Papa , kita menjadi bercerai juga sebagai saudara!" Ucap Ardi lantang. Dia menatap Rania dengan sabar. Adik kecinya ini memang sedikit keras kepala. Tetapi ardi begitu mencintai adiknya.
Rania masih kesal dengan ardi n
karena ikut dengan sang Papa. Sampai akhirnya sang Mama pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Itu menjadi sebuah pukulan besar untuk Rania. Karena itu dia hidup sendiri. Rumahnya begitu besar dan dia sangat kesepian. Rania begitu membenci Ardi. Karena dia seolah mendukung perceraian kedua orang tua mereka. Itu membuat Ardi dan Rania renggang. Rania bahkan tidak mau menganggap Ardi sebagai kakaknya lagi.
__ADS_1
"Jangan kesini lagi, aku muak!" Ucap Rania kesal. Rania bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Rania mandi dan langsung mengenakan bajunya. Ardi menunggu rania di sofa dalam kamarnya. Ardi tau Rania begiru membencinya. Tetapi dia tidak membenci Rania. Dia menyayangi Rania layaknya seorang kakak sayang kepada sang adik, namun Rania tidak suka dengan perhatian-perhatian kecil sang kakak.
Ardi hanya bisa bersabar saja. Menghadapi sikap adinya yang manja. Ardi tau adiknya terpukul karena kepergian Jeff. Karena itu ardi memutuskan untuk menemani Rania. Dan bahkan Ardi akan pindah ke rumah Rania. Agar bisa merawat sang adik sampai Jeff benar-benar di nyatakan meninggal.
Ardi tau bagaimana obsesi Rania untuk mendapatkan Jeff. Karena itu Ardi sangat takut Rania salah langkah. Ardi akan berusaha membawa Rania ke jalan yang benar. Kini Rania dan Ardi sudah duduk di meja makan. Rania makan namun sangat sedikit. Dia merasa kesal karena Ardi membangunkan tidurnya.
"Aku akan tinggal disini !" Ucap Ardi datar. Perkataan Ardi sontak membuat Rania terkejut. Mata rania membulat dan tak bisa berkata-kata lagi.
"Tidak boleh!" Bentak Rania.
"Kenapa tidak boleh?" Tanya Ardi dengan mengerutkan keningnya.
"Aku tidak akan pulang, ini juga rumahku, masa aku harus mengingatkanmu soal itu!" Ucap Ardi sambil mengunyah makananya. Rania di buat emosi oleh Ardi lalu Rania pergi meninggalkan meja makan.
"Tunggu mau kemana?" Ucap Ardi.
" Apa peduli mu, aku mau ke kampus!" Ucap Rania dengan segudang kemarahan yang ia pendam. Rania membenci Ardi karena ardi ikut dengan sang Papa dan meninggalkan dia dan Mama yang waktu itu sedang sakit. Karenanya Rania membenci Ardi. Namun waktu itu Ardi terpaksa ikut sang Papa karena Ardi di ancam Papanya kalo dia tidak ikut Papanya maka dia tidak akan di sekolahkan.
Orang tua mereka bercerai saat keduanya masih menginjak bangku sekolah menengah pertama.
__ADS_1
Sayangnya sampai saat Mamanya meninggal. Papa dan ardi tidak datang. Itu karena tidak ada yang memberitahukan ardi perihal sakitnya sang Mama dan berita kematian Mamanya. Ardi sempat marah kepada sang Ayah karena tidak memberitahu soal kematian Mamanya. Namun sang Ayah hanya diam saja.
Ardi berusaha mencari keberadaan Rania waktu itu. Karena rania tidak ada di rumah. Ternyata rania tinggal di rumah neneknya karena takut tinggal di rumah sendirian. Sampai saat sekolah menengah atas, Rania baru berani tinggal sendiri di rumahnya. Karena itu Rania begitu membenci Ardi karena bahkan dia tidak ada di hari-hari tersulitnya.
🌺🌺🌺
Papa Geovandra sudah bersiap duduk di tepian danau. Berharap ada kabar baik dari Tim SAR. Papa memang sudah mengikhlaskan pergian Jeff dalam hidupnya. Akan tetapi Papa tetap berharap tubuh Jeff segera ditemukan. Tim SAR sudah berusaha mencari. Dan ini sudah hari ke 5 Jeff hilang. Namun tidak ada satupun penyelam yang membawa kabar gembira.
"Jeff, dimana kamu nak?" Papa menatap danau yang begitu luas. Tubuhnya merasa sangat lelah menanti kepastian.
"Jika kamu ternyata sudah berenang ketepian dengan selamat, maka hiduplah dengan tenang dan damai. Papa selalu mendoakan kesehatanmu. Bawalah kabar baik untuk keluarga kita. Dan menikahlah dengan wanita yang baik dan cantik. Tetapi jika kamu memang sudah pergi di panggil di sisi Tuhan, maka Papa yakin, itu semua karena Tuhan begitu menyayangimu Jeff. Putraku, kamu memang bukan darah dagingku, tetapi kamu sudah aku besarkan dengan penuh kasih sayang sedari dalam kandungan. Kamu adalah pelipur laraku. Semasa kamu kecil kamu bahkan selalu menjadi prioritas utamaku. Sampai aku melupakan Jino karenamu nak. Itu bukti rasa cinta Papa kepadamu anaku. Papa mohon berikanlah tanda bahwa kamu memang masih hidup, dan berikanlah tanda jika kamu memang sudah tidak ada lagi di dunia ini nak. Agar Papa dan Mamamu benar-benar bisa iklas dan tidak berharap lagi." Papa Geovandra berkata dalam hatinya.
Dia menatap luasnya danau yang kini telah menelan putra bungsunya. Dia meratapi nasibnya karena telah di dahului oleh putranya. Dia sangat mengasihi Jeff dengan sangat tulus. Karena itu harapannya sangat besar untuk Jeff. Hari sudah mulai sore. Papa hendak pergi pulang ke hotel. Karena tim SAR juga sudah berhenti mencari. Papa pulang ke hotel. Ternyata Mama Murni dan yang lain. Sedang menunggu Papa di resto hotel.
Papa langsung ikut makan bersama. Kisya makan sambil di recoki Baby Vano. Dan Jino makan terlebih dahulu. Setelah Jino sekesai makan, barulah Kisya makan. Mulai sekarang mereka harus makan secara bergantian. Karena Baby Vano sudah mulai besar. Dan sudah mulai ingin mengacak-acak seisi meja makan. Baby Vano yang berusia enam bulan sudah mulai belajar merangkak. Perkembangan Baby Vano sangat baik. Bayi itu berkembang dengan normal sangat aktif dan pintar.
Malam ini Bunda Nisya masih ingin tidur bersama Baby Vano. Bunda Nisya memberikan ruang dan waktu agar Jino bisa berduaan saja dengan Kisya. Pengantin baru memang harus berdua. Jino merasa senang Bunda Nisya mau tidur bersama dengan Baby Vano. Setidaknya malam ini ada rencana besar yang akan dia lakukan.
🌺 Bersambung 🌺
__ADS_1