
Kisya sudah terbiasa dengan Jino ada di kamarnya. Tidur bersamanya dan memeluk erat tubuhnya. Bahkan wangi maskulin Jino sudah sangat dia kenal.
8 bulan pernikahannya dengan Jino membuat kisya semakin menyadari kalo Jino begitu tampan. Baik dan sangat perhatian. Walau memang kendala nya kini Jino sangat jarang pulang akan tetapi Jino selalu meluangkan wakyu untuk vidio call dengannya dan Baby Vano.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Kini Kisya melihat jam dinding menunjukan angka jam 2 malam. Terdengar suara pintu kamar terbuka dan ternyata Jino. Jino pulang dan langsung berganti baju. Dan tidur di samping Kisya. Jino memeluk Kisya. Dan Kisya hanya pura-pura tidur saja.
Sebenarnya Kisya begitu gundah dan gelisah. Perbuatannya menolak sang suami membuat suaminya tidak Pokus dalam bekerja. Apakah dia harus menyerahkan diri pada Jino. Sungguh sangat membuat dia bingung.
Jino memeluk Kisya dengan erat namun lembut. Sesekali Jino mengelus rambut sang istri dengan lembut.
Sedari tadi siang Jino sudah memikirkan Kisya. Rasanya Jino merindukan Kisya. Dan ingin memeluk Kisya. Setelah beberapa hari Jino tidak pulang. Kali ini walaupun malam Jino akhirnya pulang karena sudah sangat merindukan kisya.
Jino memang sungguh merindukan sang istri. Entah apa yang terjadi pada Jino. Semakin hari dia semakin menghindari Kisya semakin Jino merindukanya. Namun jino sadar jelas rasa rindu nya sudah sangat menumpuk.
Setelah selesai pekerjaan. Jino langsung tertidur di kantornya dan menyalakan alarm jam 1 malam. Lalu Jino bangun dan hendak pulang ke rumah. Karena dia sadar ketika dia di kamar berduaan dengan sang istri Jino sama sekali tidak akan bisa tidur. Jino memeluk Kisya dengan memejamkan mata dan bukan berarti Jino tidur.
Kini Jino memeluk Kisya lembut dengan menutup matanya sebenarnya bukan tertidur. Tapi dengan cara itulah Jino menetralkan hati dan pikirannya. Menahan nafsunya yang besar dengan berpura-pura tidur. Jino sebenarnya ingin sekali memuaskan keinginanya. Sekali lagi Jino harus bersabar karena belum ada tanda Kisya mau membuka hati padanya.
Kisya sendiri begitu gugup ketika Jino datang dan memeluk tubuhnya dengan lembut. Kisya pura-pura tidur dengan jantung yang berdegup dengan kencang.
Kisya betul-betul merindukan pelukan ini. Pelukan lembut suami yang dia rindukan. Rasa galau datang menghampirinya. Apakah dia sudah siap untuk menjadi istri Jino yang sesungguhnya.
Apalagi setelah sebulan lebih Jino jarang pulang. Membuat dadanya sesak. Dan kini Jino sudah pulang.
"Apa yang harus dia lakukan?"
Kisya bergerak dan kini tidurnya mengahadap ke arah Jino. Jino terkejut karena kini mereka saling berhadapan. Jino masih memeluk Kisya dengan erat. Lalu Kisya membalas pelukan Jino.
Deg.
Jantung Jino berdegup kencang ketika kisya membalas pelukannya.
Jino semakin tidak bisa tidur.
Cup. tapi
Jino mengecup lembut kening kisya.
Blusss.
__ADS_1
Kisya bergetar merasa sangat malu dan berdebar. Kecupan pada keningnya membuat kisya begitu senang. Entah kenapa kisya senang di perlakukan seperti ini oleh Jino. Sudah lama sekali Jino bahkan tidak mengecupnya. Kisya mengeratkan pelukannya.
Sedang Jino terus menatap lekat sang istri. Dia begitu semakin tidak tenang setelah mengecup kening sang istri.
Sampai pagi pun tiba benar saja Jino tidak tertidur sama sekali. Begitu hal nya dengan Kisya. Mereka hanya berpura-pura tidur dan berpelukan sepanjang malam.
Pagi itu Kisya segera bangun dan mandi. Kisya membantu bibi membuatkan sarapan. Pagi-pagi Vano sudah menangis meminta di gendong oleh Kisya.
Jino menggendong Baby Vano akhirnya Baby Vano terdiam dan bermain dengan Baby Vano sambil menunggu sarapan.
"Sarapannya sudah siap. Ayo sayang."
Ajak Kisya tersenyum pada Jino dan Baby Vano.
Vano kecil tersenyum senang melihat Mommy nya hendak menyuapinya bubur. Sedang jino memakan nasi gorengnya dengan lahap sambil sesekali menatap anak serta istrinya.
"Kisya.. Andai saja sedari dulu aku menerima perjodohan kita.. Mungkin kita akan lebih bahagia dari ini."
Ucap Jino sambil menatap lekat Kisya dan Baby Vano.
Sekarang Jino sudah melupakan Lintang dalam hidupnya. Yang Jino pikirkan sekarang adalah kerinduan terhadap Kisya dan Vano. Jino selalu ingin cepat cepat pulang karena ingin bertemu mereka. Namun Jino harus tidur terlebih dahulu di kantor agar dia besok bisa bekerja tanpa mengantuk.
Deg.
Deg.
Jantung mereka berdegup.
Jino dan kisya membuang muka dengan wajah yang memerah. Mereka sudah lama menikah tetapi merenggang karena suatu alasan. Kini mereka seperti orang baru berkenalan saja.
Lalu Jino bersiap untuk berangkat ke kantor. Kisya meminta ijin pada Jino untuk pergi study tur ke bandung selama dua hari. Dan dia tidak bisa mengajak Baby Vano bersamanya karena dia akan sangat sibuk.
Dan sesaat Jino terdiam. Jino khawatir terjadi sesuatu pada Kisya. Jino mengangguk dan mengijinkan kisya.
"Kak.. Terimakasih."
Ucap Kisya dengan senyumannya.
"Iya sayang, hhmm alamatnya di mana?" Ucap jino.
__ADS_1
"Kami menginap di harist hotel kak, Di daerah cimbuleuit."
"Oh iya, hati-hati ya di jalan."
Ucap Jino dengan senyumannya.
Lalu Kisya membalas senyuman Jino dan Jino segera berangkat bekerja.
Kisya bersiap ingin menitipkan Baby Vano di rumah mamah murni. Dan langsung berangkat ke bandung bersama rombongan teman kampusnya. Tentu saja Lintang juga ikut. Lintang kini posisinya adalah senior nya Kisya. Lintang baru saja melahirkan dan kini dia ke bandung tanpa bayinya.
🌺🌺🌺
Jino merasa sangat gelisah dan cemas. Dia takut berjauhan dari kisya. Jakarta bandung lumayan jauh. Jino akan sangat merindukan Kisya. Hari ini Jino benar-benar tidak pokus bekerja. Semuanya tidak berjalan dengan lancar.
Tuan geovandra datang mengajak putra nya untuk makan siang.
Tetapi Jino terlihat begitu badmood.
"Ada apa Jino." Ucap Papa Geovandra menatap putranya penuh tanda tanya.
"Kisya ke bandung Pa.. Jino khawatir."
Ucap Jino sambil menghela nafas.
"Kalo begitu susul saja ke bandung. Kamu bisa pulang lebih awal dan besok ijin sehari."
Ucap Papa Geovandra dengan senyumannya.
"Jino malu, harus bilang apa sama Kisya kalo Jino kesana?" Ucap Jino dengan ragu.
"Bilang saja ada pekerjaan di bandung, gampang."
Ucap Papa dengan senyumannya.
"Hhmm baiklah Pa, Jino akan menyusul Kisya ke bandung."
Ucap Jino dengam senyumannya. Dia semangat membereskan pekerjaanya karena ingin segera ke bandung menemui istrinya.
Jino segera pulang ke rumah dan menyiapkan beberapa pakaian yang akan dia bawa ke bandung. Jantung Jino sudah berdegup begitu kencang karena ingin segera bertemu dengan kisya. Dia sungguh merindukan sang istri. Rindu yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Bahkan membayangkan wajahnya saja Jino sudah sangat bahagia. Apalagi kalo mereka segera berjumpa.
__ADS_1
🌺Bersambung🌺