Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Tangis malam


__ADS_3

Kisya masuk ke dalam kamarnya. Tetapi, dia sangat gelisah dan tidak bisa tidur. Wanita ini seperti sedang terserap sebuah lumpur hisap, dalam pikirannya saat ini hanya ada baby vano. Seandainya dia bisa tidur kembali sambil memeluk bayi mungil itu, pasti akan menyenangkan ... pasti akan menenangkan.


Kisya mencoba membalut tubuhnya dengan selimut tebal, angin pada malam itu memang sangat kencang. Hembusan dedaunan yang tertiup semilir angin seolah menemani dalam kesepiannya. Hening dan sepi. Kisya mencoba untuk memejamkan matanya .... Namun, tiba-tiba saja tangis bayi membuatnya terbangun kembali.


Kisya beranjak dan keluar dari kamarnya, dia melangkah mengikuti suara tangis bayi itu, Suara yang tidak kunjung juga berhenti. Langkah Kisya berhenti di balik pintu sebuah kamar bertuliskan Jino area. Kisya bersandar di pintu tersebut. Mendengar begitu menyedihkannya bayi itu menangis tanpa henti.


Terdengar suara Jino mencoba menenangkan sang buah hati dari dalam kamarnya.


Kisya merasa sedih mendengar tangis bayi itu. Dia merasa kasihan kepada bayi kecil yang kini hanya memiliki ayah tersebut.


"Kasihan sekali kamu baby Vano, seandainya ibumu masih ada, mungkin kini dia akan memelukmu dan menenangkanmu."


Tanpa terasa air mata Kisya menetes, menyadari betapa menyedihkannya bayi kecil itu. Selama ini dia selalu mendapat kasih sayang sang bunda dengan penuh. Masa kecilnya sungguh bahagia dengan dibanjiri perhatian dan kasih sayang ayah bundanya. Mengingat itu Kisya merasa sangat beruntung. Ketika tersadar bahwa ada bayi yang begitu malang dan bahkan tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Disana Kisya tidak bisa lagi membendung air matanya. Bulir air mata dia keluarkan dalam diam.


Baby Vano masih menangis melengking 'tak mau diam.


"Sayang, kamu kenapa Dede, ada apa, tidak biasanya dede menangis tengah malam begini ...?


Apa ada yang sakit, Nak ...?" Ucap Jino terdengar peluh dari dalam kamarnya.


Kisya terus bersandar di pintu kamar Jino sambil menutup matanya. Kisya merasa sangat terkejut mendengar tangisan bayi itu. Hatinya serasa sesak dan berat. Ingin rasanya dia masuk dan memeluk bayi kecil itu. Tetapi, apa daya, malam sudah sangat larut dan tidak baik masuk ke kamar seorang laki-laki pada jam sepeti ini.


Waktu menunjukan pukul 01:30 WIB. Semilir angin malam semakin menusuk hati Kisya . Jerit dan tangis bayi itu tidak kunjung juga terhenti. Jino sudah kewalahan untuk menenangkan sang buah hati.

__ADS_1


"Daddy harus apa sayang?.. Jino merasa sangat sedih melihat buah hatinya menangis sampai suaranya serak . Jino memeluk buah hatinya dan dengan wajah sangat lelah.


"Dede mau apa, Nak. Apa Dede mau ketemu mami? Ucap Jino dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Jino tersadar bahwa ikatan baby Vano dan Kisya sangat kuat. Sepertinya baby Vano memang tau kalo kisya ada di dekatnya . Tangis baby Vano semakin kencang, suaranya sudah serak seperti mau habis.


Jino menitikan air mata dengan segudang kepedihan dan ketidak berdayaanya sebagai seorang ayah. Dia tidak mungkin datang ke kamar kisya dan meminta Kisya untuk menenangkan putra kecilnya. Pasti Kisya akan sangat curiga tentang hal itu. Dan jika dia melakukan itu, maka dia sendiri tidak konsisten dengan ucapanya yang menyuruh Kisya untuk menjauh darinya.


Jino bersusah payah menenangkan buah hatinya. Segala upaya telah dia lakukan hingga akhirnya dia menyerah. Dia hanya bisa memeluk baby Vano sambil menitikkan air mata. Malam semakin dingin, bahkan Jino masih terduduk dalam kesulitannya menjaga seorang bayi. Jino hanya bisa menarik nafas berat karena sungguh dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Daddy mohon tenanglah, Nak!" Suara Jino bergetar dengan menahan tangis yang sangat sulit ia lakukan.


Kisya hanya bisa menitikan air matanya mendengar suara Jino dari dalam. Kisya tidak mampu untuk pergi ataupun masuk ke dalam kamar Jino. Dia masih dalam posisi semula. Posisi bersandar di balik pintu kamar Jino. Tangisan bantu Vano yang tidak kunjung berhenti membuat hatinya semakin sakit, rasa amat tercabik. Pelan-pelan dia mulai mengisak, rasa iba terhadap bayi kecil itu membuat dadanya seraya sangat sesak hingga sulit bernafas.


Air mata terus mengalir deras tak bisa dia kendalikan. Hatinya terkoyak dan terasa sangat sakit.


Tangisan lirih seorang baby pada malam itu sukses membuat dua hati menjadi sangat sakit dan terluka. Ketidak berdayaanya Jino dan Kisya. Ingin sekali Kisya memeluk mengecup dan membelai lembut bayi yang kini sedang dilanda kesedihan, mungkin bayi itu menangis meminta perhatian. Perhatian dan kasih sayang dari sang ibu yang sangat dia rindukan.


Seandainya Kisya tahu betapa menderitanya Jino merawat baby Vano sendiri. Seandainya Kisya tahu bahwa dirinyalah yang baby Vano rindukan. Mungkin malam ini bayi itu tidak perlu merasa sedih. Bayi yang terus menangis tanpa henti, sampai-sampai suaranya terdengar hampir habis karena lengkingan tangisan yang nyaring.


Sesak ..., kisya memegang dadanya yang terasa sesak. Helaan nafas berat dia keluarkan. Dia masih bersandar di balik pintu yang memisahkan dirinya dari Jino dan bayi itu. Dirinya hanya bisa mendengar lirih tangisan bayi yang terdengar pilu.


"Baby." Tangis Kisya dengan sangat pelan.

__ADS_1


Sudah setengah jam lebih Kisya berdiri di balik pintu. Sama sekali tidak bisa masuk atau bahkan mengetuk pintu. Hatinya kalut karena ucapan Jino yang menyuruhnya menjauh. Tetapi, dirinya tak sanggup untuk menjauh penuh dari bayi kecil itu. Hal yang menurut Kisya sangat malang, terlahir tanpa kasih sayang ibunya.


"Daddy mohon berhentilah sayang, jangan menangis lagi, suaramu sudah serak, Nak. Maafkan Daddy telah membuatmu berpisah dengan mommy-mu, aku memang bukan Daddy yang baik." Tangis Jino terdengar oleh Kisya dari luar.


Kisya pun ikut menangis mendengar ucapan Jino.


"Kenapa rasanya sangat sakit ..., ketika kak Jino berkata seperti itu? Padahal sama sekali tidak ada hubungannya denganku." Ucap Kisya dalam hatinya dengan deru nafas yang sesak dan berat.


Malam itu adalah malam tangisan untuk mereka bertiga. Dimana ketidak berdayaanya Jino untuk memberikan baby Vano kehangatan seorang ibu. Membuat baby Vano tak henti menangis tanpa alasan yang jelas. Mungkin ini adalah ikatan ibu dan anak yang tak terlihat. 


Kisya menelan saliva dan terus menangis karena tak mampu untuk memberanikan diri masuk ke dalam.


Bersambung.


Catatan kecil author❤️


Spesial pake telor, Lee ucapkan Terimakasih untuk Mr.Shiratarou yang sudah membantu mengedit naskah Jino dan Kisya eps ini. Dia bilang kerja editor tidak gratis, jadi aku berikan emot 😘 buat dia.🤭🤭🤭.


Satu lagi , buat readers tersayang yang masih bingung gimana cara masuk ke grup fb Jino dan Kisya.


Caranya:


Ketik Jino dan Kisya di pencarian lalu gabung.

__ADS_1


__ADS_2