Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Akhirnya


__ADS_3

Jino menatap sang istri yang terlihat begitu cantik dengan pantulan cahaya rembulan menjadi penerang ruangan yang penuh dengan kabut cinta. Rasa cinta yang memuncak dan debaran jantung yang sudah tak bisa lagi di tahan. Bertabuh bagaikan sebuah genderang perang. Perasaan rindu yang menggebu dan aura sebuah rasa yang hebat. Mengarungi sebuah tatapan yang sudah berkabut.


Pria itu mulai menelusuri seluruh tubuh sang kekasih hati dengan sentuhan lembut membuat seluruh kain yang menempel menjadi lepas dengan sekali tarikan. Satu demi satu dia memberi tanda kepemilikan pada daerah leher dan dada sang istri. Sampai akhirnya seluruh tubuh itu dia berikan sentuhan lembut dengan bibirnya.


Pria itu telah menghujani tubuh sang istri dengan kecupan manis dan penuh kemesraan. Belayan penuh kasih sayang Kisya lepaskan karena tak kuasa untuk menahan semua aura yang dia rasakan. Kedua insan yang sedang jatuh cinta ini, kini mengecup indahnya sebuah hubungan berumah tangga. Dimana kini sang istri mulai merelakan semua miliknya untuk sang suami.


Deru nafas yang menggebu. Dan degupan jantung mereka bersatu dalam sebuah irama yang indah penuh dengan taburan kenimatan dunia. Untuk pertama kali gadis itu mulai merasakan sebuah kesakitan yang bercampur dengan sebuah rasa bahagia yang membuatnya sempurna sebagai seorang istri. Ini memang bukan yang pertama untuk mereka. Apalagi untuk sang istri.


Kisya pernah melakukan operasi pada bagian intinya saat tragedi itu terjadi. Sehingga kini Kisya sudah kembali lagi seperi seorang gadis yang suci dan murni. Dan untuk yang kedua kalinya pria itu menyentuh hati sang wanita. Namun kali ini wanita itu iklas memberikan semua miliknya tanpa sedikitpun pertahanan. Air mata mulai menetes dan itu membuat Jino iba. Selembut mungkin jino melakukan hal itu. Namun masih terasa sakit olehnya.


Sebuah kecupan lembut pada bibir sang gadis membuat gadis itu berhenti untuk menangis. Pria itu sengaja mengalihkan perhatian sang istri, agar mengalihkan rasa sakitnya. Perlahan. Tetapi pasti tubuh itu mulai mendapatkan tempat di hati sang istri. Sebuah tempat terdalam yang sungguh membuat seluruh hatinya terasa terbang ke awan.


Mereka mengumpulkan seluruh rasa cinta mereka dalam sebuah dekapan penuh kemesraan. Mereka bersatu tanpa satupun penghalang. Mereka menikmati semua dengan alunan musik penuh aura kenikmatan. Walau akhirnya salah satu dari mereka telah kalah dalam pertempuran. Jino menitipkan benih cintanya di rahim sang istri. Dan kini terkulai lemas tak berdaya. Namun setelah menunggu beberapa menit akhirnya mereka memutuskan untuk kembali menyatukan asa dalam sebuah irama cinta.


Semuanya kini telah usai. Butuh waktu sampai beberapa jam sampai akhirnya mereka selesai mengacak semua seprei di kamar itu. Kini mereka saling berbagi sebuah aura yang terasa begitu manis dan indah. Pria itu mengecup lembut kening sang istri seraya berkata.


"Terimakasih, telah menjadi istriku!"


Ucapan yang jino katakan kepada kisya. Membuat air mata Kisya menetes tanpa henti. Deraian air mata kebahagiaan terjatuh dengan haru. Malam itu mereka sangat bahagia. Mereka tak ada pembatas apapun lagi. Kini Jino telah menjadi suami yang sempurna yang bisa memperlakukan sang istri penuh kelembutan.


Air mata yang menetes itu membuat Jino terharu. Jino memeluk tubuh mungil sang istri dan mengelus lembut rambutnya.

__ADS_1


"Air mata apa ini?" Tanya Jino sambil menatap lembut pantulan cantik dari paras wajah kekasih hatinya.


"Sebuah rasa haru, rasa lega dan rasa bersalah kak!" Ucap Kisya masih dengan isakan tangisnya. Dia kini telah menjadi istri yang sempurna yang bisa membahagiakan sang suami.


"Kamu wanita nakal yang telah membuat aku tidak bisa tidur selama berbulan-bulan!" Jino berbisik lembut. Kisya tersenyum tipis lalu memeluk sang suami yang masih berkeringat.


"Aku tidak tau rasanya akan sebahagia ini kak, kalo aku tau, aku tidak akan membuatmu menunggu lebih lama lagi!"


"Kamu bahagia?" Tanya Jino.


"Iya, sangat bahagia, aku bahagia karena kamu adalah yang pertama dan terakhir untuku, selamanya hanya kamu kak!" Ucap Kisya lembut.


Jantung Jino terasa di remas ketika Kisya mengucapkan kalimat yang pertama dan terakhir. Jino mengingat kembali kejadian 2 tahun yang lalu ketika pertama kali dirinya menyentuh Kisya dengan sangat kasar. Jika saja suatu saat sang istri mengingat kejadian itu. Apa yang akan dia dapat dari cintanya. Akankah Kisya memaafkan dirinya atau bahkan mungkin akan sangat membencinya.


Lagi-lagi itu menjadi sebuah ketakutan untuk Jino. Semuanya bayangan yang selalu menghantuinya. Jino menelan saliva dengan sangat berat. Ditatanya wanita yang kini telah menjadi ibu dari bayi kecilnya. Wanita yang sungguh polos dan sangat lugu. Wanita yang ketika tersenyum sudah sanggup membuat Jino mengorbankan dirinya dalam leburan api cinta. Jino terus menatap manik mata yang indah itu. Sebuah mata yang begitu redup dan tanpa kebohongan.


Mata yang membuat dirinya takluk dan bertekuk lutut. Akankah dirinya bisa selalu sepeti ini. Selalu tersenyum mendekap lembut sang istri? Sebuah pertanyaan yang bahkan dirinya tak memiliki jawabanya sama sekali. Dia kini begitu berdebar jika mengingat tentang hal itu. Tetapi kali ini dia harus menepis semua kegundahan dalam hatinya. Dia ingin menikmati seluruh malam yang indah bersama istrinya tersayang.


Dia tidak mau berfikir apapun. Yang dia tahu saat ini bahwa dirinya bahagia bisa bersama dengan istri yang saat ini telah menjadi jantung jiwanya.


"Aku ingin mengandung dan melahirkan kak!" Kisya berkata pelan namun telah sanggup memecahkan lamunan sang suami.

__ADS_1


Sebuah permintaan yang terlihat begitu tulus.


"Suatu saat nanti pasti akan terjadi!" Ucap Jino pelan sambil mengelus lembut perut rasa sang istri.


"Kita akan punya Baby girls seperti Cery!" Ucap Kisya tersenyum manis.


"Nama bayinya Lintang, Cery?"


"Hmm, nama yang cantik, jika kita punya bayi secantik itu, aku ingin memberi nama Raisi." Ucap Kisya pelan.


"Raisi, hmm Naraisi.. lebih mirip Dengan namamu sayang." Ucap Jino lembut.


"Iya, bagaimana?" Tanya Kisya.


"Baiklah, kita akan membuat Baby girl yang bernama Naraisi sekarang juga!" Ucap Jino tersenyum lembut. Dan kisya membalas senyuman sang suami. Mereka begitu kelelahan malam itu. Namun udara dingin di kota Bandung membuat mereka tak mau melepaskan pelukan masing-masing. Mereka tertidur dengan sangat lelap. Sampai akhirnya mentari pagi mulai masuk menelusup ke dalam celah-celah jendela kamar hotel. Mereka masih belum bisa membuka mata. Mata mereka seolah di olesi lem yang sangat lengket sehingga mereka sangat kesusahan untuk membuka mata. Mereka masih tertidur saja walau suara ayam sudah berkokok sangat lantang.


Tubuh yang terasa lelah dan seolah yak bertulang. Kini kisya bangun dan mematikan alarm jam yang berbunyi ayam berkokok itu. Sebuah alarm yang sengaja Kisya nyalakan karena aktivitasnya harus segera dilakukan.


"Morning kiss." Ucap Jino sambil mengecup kening Kisya tanpa aba-aba. Kisya terseyum dengan manis melihat suaminya sudah terbangun pula.


🌺 Bersambung 🌺

__ADS_1


__ADS_2