
Dokter sudah memperbolehkan Kisya untuk pulang ke rumah. Kisya sekarang sudah tidak terlalu sering histeris dan halusinasi lagi. Dia disarankan untuk rutin meminum obat dan rajin rawat jalan selama seminggu sekali untuk bulan ini. Sesampainya di rumah. Kisya begitu senang karena Mama Murni sudah menunggu bersama Baby Vano.
"Ya ampun sayang." Ucap Kisya sambil memeluk bayi tampan yang sudah semakin gendut itu. Baby Vano terlihat senang, dia menjerit sambil menepuk pipi Kisya dengan senang. Kisya tak henti menghujani Baby Vano dengan ciuman penuh kasih sayang. Beban Kisya berkurang ketika Baby Vano ada di dalam pelukanya. Mama Murni dan Bunda Nisya hanya bisa melihat dengan senyuman.
Merasa takjup dengan kedekatan mereka. Padahal mereka tak tau hubungan masing masing. Tetapi mereka seolah terikat dengan kuat.
Kisya memberikan susu botol pada sang bayi dan Baby vano meminumnya dengan sangat lahap.
"Kamu sangat menggemaskan Baby, kamu juga sangat wangi bayi, eh kamu kan memang bayi, ya." Ucap Kisya Kembali mengecup lembut Baby gembul itu. Papa Geovandra kini sudah bergabung. Mereka sudah berkumpul di mansionya Kisya untuk menyambut kepulangan Kisya dari rumah sakit. Kisya terlihat lebih segar dari pada kemarin. Sudah tak tampak lingkaran hitam di bawah matanya. Karena kini Kisya sudah bisa tidur dengan lelap dan tidak berhalusinasi lagi.
"Kikis mau makan apa, biar Bunda masak sekarang?" Ucap Bunda sambil beranjak ke dapur.
"Apa saja Bunda, Bunda sini saja, biar maid saja yang masak!" Ucap Kisya sambil menatap sang Bunda.
"Kenapa ko tumben?" Bunda menatap kisya dengan senyuman manisnya.
"Sini saja Bunda, kita kan sedang berkumpul, Bunda jangan kemana-mana!" Kisya tersenyum manis.
"Baiklah kalau begitu, biar mereka yang masak." Bunda Nisya kembali duduk di dekat Kisya dan Baby Vano. Bunda menatap Baby Vano penuh kasih sayang. Bayi yang sangat tampan berkulit putih dan bermata biru. Siapa yang tidak terpikat melihat bayi selucu itu. Tiba-tiba saja suara bel berdering. Ternyata Jino yang datang.
Jino masuk ke dalam mansion dengan keadaan yang kacau. Wajah lelah dan mata yang merah karena mengantuk. Sungguh kasihan sekali karena Jino tidak berhenti mencari keberadaan Jeff.
"Ya ampun wajahmu." Ucap Papa Geovandra sambil menatap Jino penuh iba. Mama Murni sendiri begitu berterimakasih pada Jino karena sudah berusaha mencari keberadaan Jeff sekuat tenaganya. Kisya sama sekali tidak menatap Jino. Kisya sengaja hanya terpokus pada bayinya saja. Dia seolah tak melihat keberadaan Jino di sana.
"Apakah sudah mendapatkan hasil? Mama murni bertanya dengan nada yang pelan. Namun Jino menggeleng. Mama Murni nenundukan wajahnya yang penuh dengan kekecewaan. Mungkin sudah tak ada harapan lagi dia bisa bertemu dengan putra kesayanganya. Ini sudah hari ketiga dan tak ada hasil untuk itu.
"Duduklah, kamu terlihat sangat lelah!" Papa menatap Jino. Jino lalu duduk di samping sang Papa dengan wajah lelahnya.
"Baby, Daddy pulang nak." Ucap Jino pelan sambil menatap bayinya. Dari kejauhan Baby Vano sudah menjerit ingin datang kepelukan Jino.
__ADS_1
"Kenapa, kamu ingin bertemu dengan Daddy mu nak?" Kisya menatap Baby Vano Dengan senyuman manisnya. Baby Vano tersenyum senang seolah mengerti ucapan Kisya. Kisya sesaat menatap Jino.
Deg.
Kisya terkejut melihat Jino begitu lelah. Rasa iba Kisya tiba-tiba datang dan membuat dia tak berdaya. Kisya lalu berdiri dan hendak berjalan ke arah Jino. Kisya ingin memberikan Baby Vani pada Jino. Dua langkah lagi hampir sampai. Tiba-tiba saja kaki Kisya tersandung dengan karpet.
"Aw." Kisya berteriak.
Bruuhhgg.
Kisya terjatuh tepat di badan jino yang sedang bersandar di sofa.
"Oek oeek." Baby Vano terhimpit.
"Yatuhan." Jerit Mama Murni.
"Maaf." Ucap Kisya menatap Jino.
"Kamu sengaja membuat aku tambah tak berdaya ya, tubuhku lelah dan sekarang kamu memberiku beban berat." Jino menorehkan senyum. Wajah Kisya bersemu merah. Papa Geovandra hanya menjadi penonton saja. Sedang Mama Murni dan Bunda Nisya tengah sibuk menenangkan Baby Vano yang terkejut karena terhimpit.
"Jino , Kisya, ada hal yang ingin papa bicarakan." Ucap Papa dengan suara bas nya.
"Ada apa Pa?" Jino merasa aneh tiba-tiba Papa terlihat serius.
Sedangkan Kisya hanya terdiam.
"Kisya, suamimu sudah tak pulang selama tiga hari, dan besok adalah hari pesta pernikahan kalian, Papa sangat bingung dengan semua persiapan yang sudah sembilan puluh sembilan persen. Katering untuk dua ribu orang bahkan sudah di siapkan, lantas Papa harus bagaimana?" Papa Geovandra memperlihatkan wajah sedihnya.
Kisya mulai menitikan air matanya.
__ADS_1
"Kikis ga tau Papa, kikis ingin kak Jeff pulang, tetapi kenapa kak jeff tidak pulang-pulang?"
Bunda Nisya dan Mama Murni datang dan ikut berkumpul lagi bersama. Bunda Nisya dengan segera memberikan Baby Vano dalam dekapan Kisya. Kisya yang sedang menangis menjadi terdiam karena Baby Vano menatapnya.
"Jeff mungkin tidak bisa pulang cepat, tapi pesta pernikahan tersisa beberapa jam lagi, dan itu tidak bisa di undur." Ucap Papa dengan datar.
"Jadi, apa yang harus Kikis lakukan?" Ucap Kisya pelan. Baby Vano menatap Kisya dan mengusap pipi Kisya yang basah dengan tangan kecilnya. Kisya segera menghentikan tangisnya. Dia sangat malu menangis di depan bayi lucu itu. Semua menatap tingkah baby Vano yang semakin pintar. Baby Vano memang selalu menjadi salah satu titik terlemah Kisya.
"Besok kamu akan tetap menikah Kisya, tetapi menikah dengan Jino." Ucap Papa pelan namun suara pelan itu sontak membuat sebuah kejutan.
"Uhuh uhuk."Jino yang sedang minum tersedak dan batuk. Jino terkejut mendengar ucapan sang Papa barusan.
Kisya terdiam dengan kejutan yang dia dengar. Kisya merasa tidak setuju dengan ucapan Papa.
"Kenapa, kak Jeff pasti pulang." Ucap Kisya.
"Jika besok Jeff pulang, terus bagaimana jika besok Jeff tidak pulang bagaimana dengan pestanya, apakah Kisya senang melihat papan dan Bundamu menjadi tertawaan orang?" Ucap Tuan Geovandra.
Kisya terdiam. Dia tidak mau menikah dengan Jino karena dia masih merasa bersalah terhadap Jeff. Kisya terlihat begitu bingung dengan pertanyaan sang Papa. Dia hanya bisa mematung.
"Kenapa, apa Kisya tidak meyukai Jino?" Tanya sang Papa sambil menatap Kisya dengan tajam.
Kisya lalu menatap Papa, dan kini beralih menatap Jino. Jino membalas tatapan Kisya penuh harap.
"Sudah aku aku katakan aku tidak mau menari di atas luka hati kak Jeff, aku tidak mau menikah dengan kak Jino Pa, Kisya mohon jangan membuat Kisya semakin merasa bersalah pada kak Jeff." Ucap Kisya pelan. Namun itu sungguh sangat menusuk hati Jino.
Bersambung🌺
__ADS_1