
Jino segera bergegas untuk pulang ke rumah. Dia tidak sabar ingin segera bertemu wanita cantik yang sudah Mondar-mandir di kapalanya. Istrinya yang manis sedari tadi sudah sangat dia rindukan. Jino mengemudi dengan sangat cepat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Kisya. Kini sampailah dia di mansionnya Davis. Jino masuk dengan mengendap-endap.
Terlihat istri cantiknya sedang mengatur meja makan. Sepertinya Kisya sudah selesai memasak untuk makan malam. Dari kejauhan Jino tersenyum manis. Sudah tidak sabar dia ingin menerkam wanita itu. Wanita yang selalu menari dalam pikiranya. Jino berjalan masih mengendap-endap. Dan akhinya Jino memeluk wanita kesayanganya dari belakang.
"Ah, ya ampun Daddy, kamu mengejutkan aku!" Kisya tersentak ketika Jino memeluknya tanpa aba-aba. Jino mencium bau tubuh istrinya yang begitu wangi. Wangi tubuh sang istri yang sedari tadi sudah dia rindukan.
"Sudah selesai masaknya?" Tanya Jino dengan suara seraknya. Dia masih mengendus menciumi leher belakang sang istri. Kisya terlihat kegelian dan terseyum manja.
"Ah, sayang geli." Suara manjanya menambah rasa rindu yang di rasakan oleh Jino. Suara manja sang istri seolah seperti magnet yang membuat Jino ingin segera mengecup bibir manis istri kesayanganya. Jino membalikan tubuh mungil kekasih hatinya dan menatap wajah wanita itu dengan penuh kerinduan.
"Aku rindu kamu sayang." Ucap Jino dengan senyuman manisnya. Pria itu sungguh tidak tahan berjauhan dari istrinya walau cuma satu hari saja. Rasa cintanya seolah membludak dan ingin meletus.
"Aku juga." Kisya menjawab dengan malu. Wajahnya memerah seperti tomat. Jino lalu menyentuh pipi Kisya dengan sentuhan yang lembut dan dengan penuh kasuh sayang dia mengecup kening dan kedua pipi istrinya cantiknya. Lalu setelah itu Jino mulai melumat bibir manis yang seindah bunga mawar itu.
Mereka saling mengecup. Mereka saling menikmati madu pada bibir masing-masing. Bahkan suara decakan bibir keduanya begitu terdengar sangat merdu. Sampai tiba-tiba saja seorang anak kecil menjerit dengan Tangisanya. Keduanya tersentak ketika mendengar suara tangis sang Baby kesayangan.
Mereka lalu melepaskan tautan bibir keduanya dan langsung mencari ke arah suara tangis sang buah hati.
"Woy... Anak Daddy kenapa nangis?" Ucap Jino sambil menghampiri Baby Vano dan memeluknya dalam gendonganya. Baby Vano masih terisak. Sepertinya dia begitu merindukan Daddynya juga. Kisya tersenyum melihat Baby Vano langsung terdiam saat Jino menghendong bayi itu.
__ADS_1
"Sepetinya anak kita cemburu Daddy!" Ucap kisya terseyum manis. Benar saja Baby Vano sepertinya cemburu karena melihat Daddy dan Manny nya menempel satu sama lain. Jino terus mengujani batita tampan itu dengan kecupan. Selain merindukan sang istri, jelas saja Jino begitu merindukan Baby Vano. Buah hati kesayangannya itu yang sudah mulai berlari kesana dan kesini.
"Kamu rindu Daddy sayang?" Tanya Jino sambil menatap sang buah hati dengan penuh kerinduan.
"Papa Papa ." Baby Vano mengatakan hal itu sambil terus menyentuh pipi sang Ayah. Maklumlah Baby Vano baru bisa menyebut kata Papa , Mama, dan bahasa bayi lainya. Baby Vano termasuk batita yang cerdas. Di usia 15 bulan ini sudah bisa berlari. Kekuatan ototnya sangat bagus. Namun karena kesibukan sang Ayah. Baby Vano belum sempat di ajarkan berenang oleh sang Ayah.
Padahal kalau di lihat batita di luar Negri. Baby seusia Baby Vano sudah mulai diajari renang oleh Ayah atau pelatih mereka. Jino merasa kesal karena dia begitu sibuk sampai dia tidak bisa mengajarkan Baby Vano.
"Ini Daddy sayang ,bukan Papa!" Ucap Jino sambil mengecup buah hatinya yang wangi sabun bayi, karena sepetinya Baby Vano baru selesai di mandikan oleh Kisya. Lalu kisya baru bisa masak setelah membersihkan badan bayi tampannya.
"Didiidi." Baby Vano kembali berceloteh. Bahasa yang menurut jino begitu lucu. Jino terkekeh ketika baby Vano memanggilnya didi. Karena hanya itu yang bisa bayi itu ucapkan. Papa, mama, didi, nono dan yaya. Pokonya bayi itu Barceloteh seperti itu. Dan juga gigi susu Baby Vano sudah mulai tumbuh banyak. Itu membuat Jino semakin gemas dibuatnya.
Baby Vano menatap sang Ayah dan Jino juga menatap sang buah hati dengan senyuman penuh cinta.
Baby Vano sekali lagi menyentuh pipi Jino dan tertawa lucu. Jino kembali mengecup pipi gembil sang batita.
"Dasar bayi tampan, kamu masih saja menggemaskan!" Ucap Jino terkekeh. Kisya sudah menata meja makan dan kini mengahmpiri keduanya. Kisya mengambil alih Baby Vano dan menyuruh Jino untuk mandi. Namun Jino menolak untuk mandi. Dia mengatakan bahwa perutnya sudah sangat tidak tahan. Dia sudah kelaparan karena pekerjaan di kantor begitu banyak. Akhirnya Kisya menyetujui keinginan sang suami.
Terlihat Papa dan Mama Murni datang dan langsung duduk d meja makan. Papa Geovandra memang pulang lebih awal. Sedang Jino pulang agak terlambat. Kisya mendudukan Baby Vano di kursi khusus balita. Dan mulai mengisi piring sang suami Dengan nasi dan beberapa lauk. Jino sudah tidak sabar. Perutnya sudah bermain lagu keroncong sedari tadi.
__ADS_1
Dan merekapun mulai menyantap makan malam mereka dengan lahap. Masakan Kisya begitu lezat. Semua orang rumah begitu memuji keahlian Kisya dalam memasak. Dan Kisya hanya bisa tersenyum saja saat pujian demi pujian itu di lontarkan. Senyum manis sang istri terlihat begitu cantik. Jino makan dengan cepat karena asa hal yang harus dia lakukan.
Setelah selesai makan mereka lalu duduk sebentar di ruang keluarga. Setelah itu Jino lalu pamit untuk mandi. Kisya mengikuti sang suami. Karena ingin menyiapkan baju untuk jino. Sudah kebiasaannya menyiapkan baju untuk suami tersayangnya. Dan perhatian kecil seperti itulah yang membuat Jino selalu merindukan sang istri.
Mereka masuk ke dalam kamar. Jino bersiap untuk mandi.
"Mandi yuk!" Ucao Jino dengan senyuman nakalnya.
"Aku sudah mandi Daddy."sanggah Kisya.
"Cuma berendam saja di bathtub, yuk!" Ajak Jino sambil memeluk tubuh sang istri. Dan Kisya terseyum Dengan malu mendengar ucapan berendam dari mulut sang suami.
Kisya tahu dengan betul bahwa Jino tidak mungkin mengajaknya cuma berendam saja. Pasti Jino akan mengajaknya berkeringat di dalam air. Sudah jelas terlihat dari sorot mata Jino yang sudah berkabut dan memeluk Kisya dengan posesif.
Suaminya mengingnkan sesuatu yang lebih dan bukan hanya sekedar mandi saja.
"Mau ya, mandi lagi, kita berendam saja." Sekali lagi Jino berkata. Ksiya masih belum memberi jawaban. Kisya masih saja merasa malu Dengan tingkah suaminya yang manja. Tetapi Kisya begitu senang karena suaminya hanya menempel kepadanya dan tidak suka disentuh oleh wanita lain.
"Sebentar saja tapi ya, sayang!" Ucap Kisya pelan.
__ADS_1
"Iya sebentar saja." Jino menjawab Dengan begitu senang. Jino lalu Menggendong sang istri dan membawanya ke kamar mandi.
🌺 Bersambung 🌺