Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Kesunyian


__ADS_3

Jino masih menatap dua wanita dihadapannya. Kisya mulai berhalusinasi seperti dahulu lagi. Hampir sama persis seperti dahulu kisya defresi karena jino. Kini Kisya berada dalam dunia yang mencekam. Dokter memang pernah mengatakan. Bahwa Kisya tidak boleh terlalu banyak berfikir. Apalagi merasa stres. Itu akan berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya.


Kejadian setahun lalu merupakan kejadian dimana Kisya menjadi pasien dokter jiwa. Pikiranya yang tudak bisa menerima kenyataan bahwa seseorang sudah menodainya. Membuat mentalnya sakit. Jino menatap Kisya penuh rasa bersalah. Jika saja dahulu dia bisa memperlakukan Kisya dengan lembut maka Kisya tidak akan defresi.


Dan sekarang Jino melihat kembali Kisya yang defresi. Kehilangan Jeff merupakan benturan sangat keras pada jiwanya. Halusinasi sudah mulai muncul dan itu pasti karena dia tidak kuat menerima kenyataan.


"Semuanya salaku!" Jino berkata dalam hatinya. Mata sayup itu masih menatap tajam ke arah Kisya dan bundanya. Gadis itu terlihat sangat kacau. Wajanya pucat dengan mata yang basah. Jino menekan bel agar perawat segera datang. Dan tidak butuh waktu lama akhirnya perawat datang. Kisya masih menangis sesegukan. Hatinya merasakan sakit tak karuan. Perawat datang memberikan obat penenang untuk Kisya.


"Aku tidak mau minum obat Bunda, aku tidak sakit!" Ucap Kisya masih merengek seperti anak balita.


"Ini bukan obat sayang, tapi ini vitamin. " Ucap Bunda Nisya sambil melontarkan senyum manis pada putrinya. Kini Kisya sudah mulai meminum obat Antipsikotik, dosis awal HALDOL (haloperidol) sudah mulai Kisya minum. Setelah itu Kisya langsung mengantuk dan Kisya tertidur dengan lelap.


Pengaruh haldol memang sangat cepat. Setidaknya Kisya tidak menangis dan berhalusinasi lagi. Dia bisa tidur dengan lelap sampai pagi tiba. Bunda Nisya mengelus rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. Tidak menyangka defresi sang buah hati kembali kambuh.


"Tidurlah Jino, besok kamu harus mencari Jeff kembali!" Ucap Bunda Nisya dengan suara yang pelan.


"Baiklah Bu." Ucap Jino sambil berjalan menuju ke sofa. Dia kembali merebahkan tubuh lelahnya. Namun kantuk tiba-tiba saja hilang. Malam itu suasana begitu sunyi namun Jino hanya bisa terdiam mengikuti kesunyian. Jino berbaring sambil menatap ke arah Bunda Nisya dan Kisya. Bunda Nisya masih setia mengelus rambut buah hatinya.


Jino merasa sangat bersalah karena defresi ini awalnya dari perbuatan dirinya. Ingin sekali jino menyembuhkan Kisya. Tetapi dengan sembuhnya Kisya berarti ingatan Kisya pasti akan kembali. Dirinya harus siap untuk dibenci lagi. Kesunyian malam itu membuat Jino susah untuk memejamkan Mata.


Jino membuka ponselnya dan menatap layar ponsel. Terpajang poto Kisya dan Baby Vano. Sebuah rasa rindu pada sang buah hati mulai terasa menususuk. Jino mengelus poto bayinya dan tersenyum.

__ADS_1


"Bahkan hari ini kita baru berjumpa sebentar Baby gembul." Jino berkata dalam hatinya. Matanya tak lekat memandang wajah bayinya yang lucu. Tanpa terasa mata Jino mulai berat. Kantuk datang dengan sangat cepat. Kini Jino pun sudah terlelap menyusul Kisya ke alam mimpi.


Waktu sudah menunjukan jam 4 subuh. Bunda Nisya pun ketiduran di kursi di samping tempat tidur Kisya. Tangan sang Bunda masing Menggenggam erat tangan lembut sang buah hati. Mereka tertidur karena lelah sudah mulai melanda.


Kisya kembali terbangun. Dia melihat di sampingnya sang Bunda sudah terlelap. Kisya bangun dan menuju ke kamar mandi. Dia kembali melepas selang infus yang menempel pada pergelangan tangannya. Kisya berjalan menuju ke kamar mandi. Darah nya terus menetes. Kisya kini sudah berada di dalam kamar mandi.


Kisya menatap kaca kamar mandi dan menatap pantulan wajahnya sendiri. Saat itu darah yg keluar dari bekas infusan masih menetes.


"Kak." Ucap Kisya pelan menatap pantulan wajahnya di cermin. Kisya meneteskan air matanya dan menangis kembali.


"TIDAK." Jerit Kisya sambil menutup telinga dengan kedua tanganya. Tangan kiri nya masih mengeluarkan darah. Jino dan bunda tersentak medengar jeritan Kisya. Lalu jino segera bangun dan mencari sumber suara. Ternyata dari dalam kamar mandi. Beruntunglah Kisya tidak mengunci pintu kamar mandinya.


Jino melihat Kisya dengan mata penuh iba. Jino menggendong kisya dan merebahkannya di ranjang kesakitan. "Kenapa sayang?" Ucap Jino pelan lalu memeluk kisya dengan


Lembut.


"Aku tidak tau kak, aku merasa kak Jeff memanggilku." Ucap Kisya memeluk Jino dengan erat. Jino lalu mengecup kening Kisya dengan lembut.


"Jeff tidak ada disini, hanya aku yang ada disini!" Ucap Jino pelan. Jino sungguh memperlakukan Kisya penuh kasih sayang. Saat itu Jino bahkan lupa masih ada Bunda Nisya di dalam kamar tersebut. Kisya memeluk Jino begitu erat dan menangis kembali.


"Aku tau, aku tau kak Jeff belum pulang, aku ingin ke danau membantu mencarinya!" Ucap kisya pelan dengan tangisan yang sangat melirih. Jino tersenyum dengan manis.

__ADS_1


" Tentu saja boleh, tetapi tunggu kamu sembuh ya, sayang!"


"Aku tidak sakit!" Rengek Kisya dengan manja.


"Iya betul, tapi setelah kecelakaan itu kamu mesti di rawat dulu di sini beberapa hari saja ko, setelah itu kita akan cari Jeff bersama-sama." Ucap Jino penuh perhatian.


"Aku akan ikut berenang bersamamu kak, aku akan mencari kak Jeff, dia pasti kedinginan di dalam sana, aku aku tidak tega meninggalkanya sendirian, dia suamiku kak, bahkan semasa hidupnya aku belum bisa menjadi istri yang baik untuknya, setidaknya aku harus mencoba menemukanya." Lirih Kisya dengan Tangisanya. Kesunyian subuh itu kini sudah berubah menjadi isakan pilu.


Azan subuh sudah berkumandang dan kini perawat sudah bersiap untuk mengecek seluruh pasien. Jino dan Kisya masih anteng saling mendekap. Melupakan seseorang yang sedari tadi duduk dan mendengarkan Kisya berkata.


"Kalo kita tidak bisa menemukan Jeff, aku yakin Jeff sebenarnya sudah ditemukan oleh orang lain, jauh sebelum ini, mungkin saja Jeff berenang, dia kehabisan tenaga lalu pingsan di tepi danau, dan seseorang membawa dia ke rumah sakit, bisa daja seperti itu." Tutur Jino pelan.


Kisya menganguk dan kembali mengeratkan pelukannya. Kisya merasa sangat tenang berada dalam pelukan Jino. Mental Kisya belum stabil. Pemikirannya berubah-ubah. Obat antitropikanya bahkan baru mulai di minum semalam. Jino yakin dalam beberapa hari, epek obat itu akan terlihat. Dan pasti Kisya akan kembali sembuh. Keyakinan Jino begitu kuat. Karena sebelumnya Kisya sudah pernah defresi lebih dari ini karena perbuatanya.


Bersambung 🌺


Dapat kiriman cover dari kak phin, author panutan ku, author nela in action kalian ke al tidak, dia kakak ku tersayang. author yang membawaku pada keberuntungan 😍😍😍. terimakasih kak kiriman covernya bagus banget.



__ADS_1


__ADS_2