Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Rosaline


__ADS_3

"Rosaline ... kenapa kamu membuka baju seperti itu?" kata Jino sambil membuang wajahnya. Pria itu tidak mau melihat ke arah Rosaline sama sekali, sepertinya wanita itu memang sengaja untuk menarik perhatian karena tidak dipungkiri Rosaline masih mencintai Jino sampai saat ini.


"Maafkan aku Kak Jino, tadi bajuku terkena minuman, karena itulah aku ganti baju di sini. Kata Paman, di sini ada ruang ganti, karena itulah aku berganti baju," kata Rosaline yang kini sedang mengenakan pakaiannya kembali, setelah itu Rosaline langsung duduk di sofa di dalam kamar tersebut, melihat Rosaline sudah mengenakan pakaian lengkap lalu Jino baru bisa berkomunikasi.


Pria itu langsung masuk dan menidurkan buah hatinya di kasur yang sudah tersedia di kamar itu, kasihan sekali karena baby Vano sudah tertidur dengan lelap di pangkuannya sejak tadi. Jino tidak mau buah hatinya sampai sakit badan karena terus-terusan tidur di pangkuannya.


"Kakak benar-benar sangat mirip dia, wajah kalian ayah dan anak bagaikan pinang dibelah dua," kata Rosaline sambil menatap wajah baby Vano dengan begitu tajam.


"Jelas saja, karena dia adalah putraku. Bagaimana mungkin dia bisa mirip dengan orang lain, dia darah dagingku. Pastilah mirip denganku," uangkap Jino kepada wanita tersebut. Sebenarnya Jino masih kesal karena sang papa telah membebaskan Rosaline begitu saja, padahal wanita itu sudah membunuh calon bayi mereka yang sangat dinantikan oleh Jino dan Kisya.


"Kak maafkanlah sikapku kemarin, kepada kakak dan istri kakak, semua itu karena aku. Aku tidak menyangka bahwa wanita itu bisa keguguran," kata Rosaline kepada Jino.


"Entahlah aku bisa memaafkanmu atau tidak, tetapi aku masih merasa sangat sedih karena kehilangan bayiku. Mungkin kamu tidak merasa sedih karena memang itu bukan bayimu, tetapi kami terutama istriku sampai saat ini masih merasakan kepedihan karena kehilangan buah hati kami, kamu belum memiliki seorang anak, jadi tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan anak. Walau pun anak itu belum sempet dilahirkan," kata Jino kepada Rosaline, pria itu pun berkata dengan datar tidak memberikan senyum sama sekali.


"Baiklah Kakak, masih marah kepadaku, tapi setidaknya tolong maafkan aku, aku akan berubah dan akan berusaha menerima pernikahan kalian," kata Rosaline sambil berharap banyak kepada Jino.

__ADS_1


"Entahlah aku bisa memaafkanmu atau tidak, tetapi yang jelas sekarang hubungan yang kita jalin ini tidak akan seperti dulu lagi, aku hanya akan berhubungan bisnis saja denganmu, tidak ada yang lain, sebaiknya kamu cepat tinggalkan kamar ini, karena aku akan tidur bersama putraku. Aku tidak suka ada orang lain di kamar kami," kata Jino kepada Rosaline.


"Tunggu kak Jino ini bukan kamar kalian, ini bahkan kamar untuk umum," Rosaline terkekeh menetapkan sikap Jino yang mengklaim bahwa ini adalah kamarnya.


"Jadi kamu tidak mau keluar ya, baiklah kalau seperti itu adanya, aku yang akan keluar," tangkas Jino dengan tegas, pria itu berusaha menggendong buah hatinya kembali, agar bisa secepatnya keluar dari kamar tersebut, tidak mau keberadaan mereka di kamar itu menjadi fitnah orang lain.


Pria itu sangat takut istrinya mengetahui bahwasanya dia bertemu dengan Rosaline, ia tidak mau Kisya merasa sedih akibat perasaan cemburu yang telah menysuknya. sebagai seorang suami Jino tidak mau melukai hati istrinya sama sekali, jangankan melukai hatinya, menggores pun ia kak sanggup.


"Oke Kak, Oke. Tidur saja bersama anakmu di sini, aku yang akan keluar, kamu tuh benar-benar tidak bisa diajak ngobrol sebentar saja. Padahal aku merindukanmu hanya sekedar untuk berbincang, tapi kamu sudah jelas belum bisa memaafkanku. Aku harap suatu saat nanti kamu bisa memaafkan aku Kak. Aku bersungguh-sungguh ingin berbuat baik dan menerima pernikahan kalian dengan ikhlas," kata Rosaline sambil beranjak pergi meninggalkan Jino.


"Wanita itu beneran menyebalkan, berusaha menggodaku dengan membuka baju seperti itu. Maafkan aku nona, tidak ada tubuh yang sangat molek selain tubuh istriku," kata Jino di dalam hatinya, Pria itu menidurkan kembali buah hatinya sambil menepuk-nepuk pantat dan mengelus lembut rambut sang putra.


Di sisi lain Rosaline gitu marah kepada Jino, karena Jino mengusirnya dari kamar tersebut. Wanita ini kini berdiri di balik pintu kamar yang telah ditutup tadi.


"Kamu bisa bersikap seperti itu kepadaku, kamu pikir kamu berhadapan dengan siapa. Akan aku buat buat kamu menyesal karena telah menolakku, Kak. Aku tahu kalian saling mencintai, tapi bertahan sampai mana perasaan cinta itu, kalian buat aku benar-benar menjadi pecundang, tidak akan aku biarkan kalian bahagia tidak akan," kata wanita itu sambil berdiri bersandar di depan pintu kamar.

__ADS_1


Terlihat aura kemarahan tampak begitu jelas di wajahnya, wanita itu pun masih menyukai Jino dengan begitu banyak. Perasaan cintanya terlihat begitu dalam karena memang sedari kecil rasanya sudah menyukai kita dan mereka pun bersahabat dekat. Tetapi semenjak kehadiran Kisya semuanya hancur, Rosaline tidak bisa lagi mendekati Jino dengan leluasa dan kini bahkan Jino membencinya.


Sebagai seorang sepupu yang merasa tertikung oleh wanita yang bernama Kisya dan dia pasti akan memberikan perhitungan kepada wanita tersebut, wanita yang sudah merebut Jino darinya. Pesta pernikahan itu begitu ramai, tetapi hatiku selalu terasa begitu sepi, wanita itu merasakan kemarahan yang teramat dalam, karena orang yang dicintai sama sekali tidak mau berdekatan dengan dia.


"Aku harus menyusun rencana agar kak Jino bisa kembali menyukaiku. Aku tidak akan membiarkan wanita itu menguasai hidup gak Jino seperti ini. Wanita genit seperti kamu, aku akan membuat perhitungan dan membuat pelajaran yang sangat berharga kepadamu, Tunggu saja tanggal mainnya," ungkap Rosaline di dasar hatinya, dengan tatapan mata seperti elang yang hendak membunuh mangsanya.


Beruntunglah Jino masih berdiri pada keteguhannya, wanita itu tidak akan bisa menggoda hatinya, karena Kisya adalah satu-satunya wanita yang tercantik di matanya.


Di dalam kamar, Jino langsung melakukan panggilan video call kepada sang istri dan mengatakan bahwa dia begitu merindukan istrinya, Jino sudah ingin pulang. Tetapi pesta pernikahan masih berlangsung.


"Mom, Dad sudah ingin pulang, Dad sudah sangat merindukan Mommy," ungkap Jino dengan menorehkan senyum yang manis.


"Iya Sayang, tunggulah sampai pesta pernikahan selesai. Kasihan sekali Jeff jika Abangnya sendiri malah pergi meninggalkan pesta. Tenang saja Mom di sini bersama Bunda," ungkap Kisya sambil menolehkan senyum yang manis kepada sang suami, mereka saling bertatapan dengan video call saling merindukan. Padahal baru sebentar mereka berpisah. Begitu kuat rasa cinta Jino dan Kisya, semoga saja kekuatan cinta Jino dan Kisya bisa menghadang semua masalah yang akan menderanya di masa depan.


🎄🎄🎄

__ADS_1


Halo selamat siang, kak mana like dan votenya?... jangan lupa ya like dan votenya.


__ADS_2