
Semilir angin membuat suasana malam itu semakin dingin. Lorong toilet yang sepi membuat kedua insan ini terpaku dalam luka yang menggebu. Sebuah luka tak terlihat tetapi begitu sakit. Sebuah nama bernama takdir memainkan hati mereka. Terluka, itu sudah jelas tak usah di kata.
Kelopak mata gadis itu mulai basah tak tertahan . Beberapa kali dia menelan Saliva dan menarik nafas panjang . Hati yang terkoyak karena perbuatanya sendiri. Sebuah perbuatan yang tak bisa menahan takdir darinya. "Aku , aku ,aku minta maaf kak." Bibir gadis itu bergetar menahan sebuah tangisan yang bisa membuat orang melihat ke arahnya.
Sesosok mata merah menyala menatap gadis itu penuh dengan rasa sakit. Membuat dia seolah sanggat terluka dan tak berdaya. Sakit karena rasa cinta mereka rasakan. Mereka yang telah mengecup indahnya cinta yang hanya bisa mereka rasakan beberapa hari saja. Sebuah kecupan hangat dalam sebuah dekapan asmara yang sempat membuat mereka berdua mabuk didalamnya. Kini mereka harus menelan apa itu yang namanya takdir.
Nafas gadis itu seolah tersenggal. Air mata yang mengalir deras tanpa suara membanjiri pipi mulus sang gadis. Tarikan nafas untuk mencoba menahan tangis tak bisa dia elakan. Semua helaan itu tak bisa membendung luka hati yang membuatnya terasa begitu tersiksa dan merasa.
"Jangan berkata apapun lagi!" Suara bariton pria itu seolah memecah kesunyian. Semua terasa riuh di luar tetapi begitu sunyi di lorong itu.
"Aku takkan peduli apapun penolakanmu, aku akan tetap mencintaimu, apakah ada salah dengan rasa cintaku?"
Mata yang merah itu sudah mulai berkaca. Helaan nafas berat dia lontarkan. Tanganya mengepal dan tatapan matanya masih terfokus menatap sayup indah namun begitu perih.
Mata yang sebening embun itu telah basah namun masih terlihat indah di mata Jino. Pria itu tak bosan menatap pantulan dirinya dalam hal mata yang hitam seindah malam. Mata yang kini semakin sembab.
__ADS_1
"Jangan lakukan apapun kak, cintamu bisa membunuhku, aku sudah sangat menderita menahan semua cintaku padamu, aku tak sanggup menerima itu semua. Aku akan menjadi gadis penuh dosa yang tidak bisa taat pada suaminya." Lirihnya membuat sebuah isakan yang sedikit pilu. Menatap mata yang menetes beberapa air kepedihan. Jino sudah tidak kuat untuk hanya berdiam diri menatap sang kekasih hati menangis sendu.
Dia menahan tangisnya sendiri dan mencoba untuk lebih kuat karena dia seorang laki-laki. Ucapan gadis itu tentang sebuah ketaatan terhadap sang suami membuat dia seperti tertusuk ribuan panah. Sakit, tentu saja sangat sakit dan itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi dengan segala upaya dan kekuatanya dia tahan semua rasa sakit dalam hatinya. Dia mencoba untuk tetap berdiri kokoh di balik semua perasaan hancurnya.
"Lantas aku harus apa, aku harus bagaimana, aku bahkan tidak bisa bernafas barang sedetik pun tanpamu, biasakan kamu menolong aku dari rasa sesak ini, tolonglah pertimbangkan lagi rasa cinta kita, bercerai lah dari Jeff dan menikah denganku!"
Suara serak yang penuh penekanan membuat pria itu terlihat begitu rapuh.
Seberapa kerasnya dia menahan tetap saja dia tak sanggup untuk menyembunyikan sebuah luka dalam hatinya. Dia tak bisa lagi menahan gejolak asa yang sungguh sangat menyiksanya. Dia begitu mencintai gadis ini melebihi apapun. Tatapan mata penuh harapan dia lontarkan pada gadis yang kini masih terisak dengan pilu.
Gadis itu masih dengan lirih mengeluarkan beberapa butiran air mata yang membuatnya seolah tak berdaya. Sebuah lamaran yang harusnya dia rasakan sangat membahagiakan kini hanya membuatnya semakin tersakiti oleh keadaan . Ketika Jino mengucapkan kata pernikahan. Memohon Kisya agar mau menikah denganya, membuat hati Kisya begitu panas dan terbakar.
Jika hubungan itu terputus maka akan timbul kericuhan diantara kedua saudara. Bukan cuma keluarga sang suami tetapi pihaknya sendiri tidak akan membiarkan itu terjadi. Melihat sikap dari sang bunda terhadap Jino sungguh membuat ksiya bisa menebak bahwa tak mungkin sang bunda akan merestui hubungan Jino dan Kisya.
Apalagi hubungan ini terjalin dengan mengorbankan sebuah hubungan lainya yang suci dan tak berdosa. Pikiran Kisya menerawang jauh. Kini dia seolah berada dalam lubang tanpa dasar. Kepalanya kembali berdenyut merasakan rasa sakit tak terkira. Tangan kanannya mencoba menyentuh pelipis wajahnya. Matanya terpejam dengan air mata yang terus menetes.
__ADS_1
Jino mengerutkan keningnya ketika melihat Kisya terlihat kesakitan. Sepetinya kisya terlalu berfikir keras untuk sebuah jawaban. Jino menghampiri Kisya dan menggendong tubuh letih itu. Terasa amat ringan dan terasa tak bertulang. Kisya sendiri tak menyadari kini dia sudah dalam pelukan sang kekasih hati. Jino menggendong kisya menuju ke dalam resto. Kisya masih memeluk Jino dengan erat.
Ada sebuah perasaan nyaman dan hangat ketika berada dalam gendongan pria tegap itu. Kepalanya memang merasakan sebuah denyutan yang membuatnya semakin sakit. Namun, debaran jantungnya tak kalah besar dari itu. Suaranya seolah mengalahkan pacuan kuda.
"Jangan sakit, sayang!" Jino berkata sambil menggendong kisya berjalan menuju ke meja yang sudah mereka pesan tadi.
Kini setiap mata memandang. Kisya yang masih dalam gendongan Jino tak bisa mengelak karena tubuhnya begitu terasa lemah. Salah satu pelayan resto membantu Jino untuk memberikan jalan agar orang tidak menghalangi langkahnya. Sampailah kini Jino di depan meja tempat keluarnya yang kini sedang sibuk membahas pesta pernikahan.
Seluruh keluarga masih belum menyadari kehadiran Jino dan Kisya.
Jino memperhatikan mimik muka seluruh keluarga. Dia melihat mama murni dan bunda Nisya masih tertawa membahas hal yang menyangkut pesta resepsi. sedang Jeff masih membahas pekerjaan dengan sang papa. Matanya kini terhenti pada bayi mungil yang kini tengah tertidur lelap di dalam strolernya.
Hati Jino bergemuruh. Diantara semuanya mereka berdua yang sangat menderita. Hati Jino dan Kisya yang begitu terluka karena keadaan dan sebuah kata yang bernama takdir. Takdir yang memisahkan mereka berdua.
Bersambung❤️
__ADS_1
kiriman gambar dari sahabat Jino dan Kisya.. seorang author juga yang sekarang sedang kuliah keperawatan.. aciiee mau menikah juga ya,, makasi banyak ya Miss Yongzheng.