
Setelah berbincang lama akhirnya Lintang pamit untuk pulang. Bunda Nisya sangat berterima kasih karena Lintang mau datang dan membuat Kisya tersenyum walau hanya sesaat. Karena satu senyuman Kisya sangat berarti untuk sang bunda. Karena Kisya adalah sebuah harapan satu-satunya bunda.
Bunda Nisya duduk dan masih termenung memikirkan perkataan Lintang. Tanganya tak henti mengelus kening sang buah hati yang kini masih tertidur lelap karena pengaruh obat antipsikotik. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu. Lalu masuk ke dalam ruangan. Dan ternyata itu adalah Tuan dan Nyonya Geovandra.
Bunda Nisya tersenyum melihat kedatangan besannya.
"Kisya masih tidur?" Mama Murni bertanya sambil menghampiri Kisya yang tengah terlelap. Bunda Nisya mengangguk kecil.
"Apa jeng Nisya sudah makan?"
"Sudah jeng, tadi Lintang membawakan kami makanan." Jawab Bunda Nisya dengan senyuman. Mana Murni pun tersenyum tipis. Nereka lalu duduk berhadapan di sofa. Entah kenapa mereka bertiga seolah sedang berfikir semua. Tak ada bahasan apapun. Dan ruangan terasa hening.
"Tadi pihak hotel plaza menghubungi kami." Mama Murni membuka percakapan.
"Apa?" Bunda Nisya terkejut. Dia lupa dengan acara pernikahan yang hanya sisa hari esok saja.
"Iya jeng, mereka memastikan katering, ternyata ini sudah H-2. Semua persiapan sudah 99 persen selesai. Tetapi pengantinnya tidak ada." Mama Murni kembali terisak. Tak tahan lagi membendung semua asa dalam jiwanya. Bunda Nisya ikut menitikan air matanya ketika mendengar ucapan dari Mama Murni. Hati orang tua mana yang tak sakit jika semua ini terjadi secata tiba-tiba.
Tetapi mereka hanya manusia yang tak bisa menolak datangnya takdir dari tuhan.
"Kolega saya dari luar negri sudah memberikan beberapa hadiah, dan itu membuat hati saya tercabik." Ucap Papa Geovandra dengan suara rendah.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?
Tanya Bunda Nisya dengan mata yang memerah.
__ADS_1
Sesaat semua terdiam. Papa Geovandra menatap Mama Murni dengan lekat. Mama Murni lalu menghela nafas beratnya. Dan berkata dengan suara bergetar.
"Mungkin sudah saatnya Jino untuk bertanggung jawab."
Deg.
Ucapan Mama Murni membuat Bunda Nisya berdetak tak karuan. Dia masih belum bisa menerima Jino dengan sepenuh hati.
"Apa maksud jeng Murni, bahkan kisya masih istri sah nya Jeff, dalam ajaran islam mengatakan wanita hanya boleh menikah ketika sang suami dinyatakan hilang tanpa kabar selama 6 bulan dan sang suami meninggal. Dan saat sang suami meninggal dunia pun, wanita tersebut tidak boleh langsung menikah. Wanita tersebut harus mengalami masa-masa idah yang jaraknya selama seratus hari, atau tiga bulan lamanya. Sedang Jeff baru hilang selama 2 hari." Ucap bunda Nisya lantang.
"Iya betul sekali Bu Nisya, tapi manusia di dalam air hanya bisa bertahan 15 menit saja, sedang putra kami Jeff sudah kami cari selama dua kali dua puluh empat jam, masih saja belum bisa kami temukan, karena itu saya dan istri menganggap bahwa Jeff telah pulang ke sisi yang maha kuasa." Tutur tuan Geovandra dengan mata yang berkaca-kaca.
Bunda Nisya terkejut dengan ucapan Tuan Geovandra. Dia mengela nafas dengan sangat berat.
"Jadi apa sekarang rencana kalian?
"Saya menutuskan agar Jino menjadi pengantin pengganti, bukan saya tidak menghargai Jeff sebagai seorang anak, karena mereka berdua adalah anak-anak saya, tetapi mungkin ini adalah sebuah jalan agar Jino bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatanya, dan bayi kecil itu akan menadapatkan keluarga yang utuh." Ucap Papa Geovandra dengan tegas.
Bunda Nisya dan Mama Murni terdiam dengan saliva yang mereka telan.
"Jeng Murni sendiri bagaimana?" Bunda Nisya bertanya pada ibu kandung Jeff. Bunda ingin tau apakah sama ucapan Ibu kandung dan Ayah tiri. Mama Murni menatap Bunda Nisya sesaat lalu berkata.
"Saya akan mecoba iklas menerima takdir dari tuhan, jika Jeff masih belum pulang dengan selamat pada hari esok. Maka saya akan merestui Jino dan Kisya menikah. Tetapi saya akan selalu berharap bahwa suatu saat Jeff akan pulang dan kembali le dalam pelukan saya, itu keputusan saya." Ucap Mama Murni dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
Bunda Nisya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Helaan nafas terdengar. Sesaat suasana terasa hening. Mereka bertiga hanyut dalam pikiran masing-masing. Keputusan keluarga Geovandra tak bisa Bunda Nisya tolak. Hatinya masih belum bisa menerima Jino dengan sepenuhnya. Tetapi dia membuka hati dan berharap suatu saat jino bisa merebut hatinya dan membuat dia memaafkan Jino.
__ADS_1
"Jika besok, resepsi itu terjadi, Jino dan Kisya duduk di pelaminan, bahkan Kisya belum bisa menikah dengan Jino, karena masa idah itu adalah seratus hari. Selama itu Kisya tidak boleh bertemu dengan pria manapun sampai masa idahnya selesai." Ucap bunda Nisya.
"Mereka bisa bertemu, tetapi tidak boleh terlalu dekat dan tidak boleh hanya berdua." Ucap Papa Geovandra. Dan itu memang benar adanya.
"Setelah seratus hari masa idah, mungkin itu juga akan menjadi masa seratus hari kepergian Jeff."
"Tidak, tidak ada upacara seperti itu, Jeff hanya sedang berjalan jalan saja, suatu saat dia akan pulang." Ucap Mama Murni dengan mata yang berkaca-kaca. Bunda Nisya terdiam mendengar ucapan besannya.
"Setelah masa idah itu selesai, mereka akan menikah secara agama dan memiliki buku nikah." Ucap Papa Geovandra.
"Jadi, besok itu dunia akan mengenal Kisya sebagai Nyonya Georjino." Ucap Bunda Nisya pelan. Papa Geovandra mengangguk dan meneguk minuman dalam botol.
"Apa Kisya sendiri akan setuju, mengingat mental dia belum stabil." Ucap Bunda Nisya sambil menatap ke arah sang putri tercintanya.
"Bayi kecil itu akan meluluhkan semua keegoisan ibunya." Papa Geovandra berkata dengan lugas. Ucapan Papa memang benar adanya. Kisya memang selalu Luluh oleh Baby Vano.
"Baiklah, kalo itu memang sudah menjadi keputusan anda, saya akan berusaha membahas ini bersama Kisya."
"Jangan dulu bu, sebaiknya kita bahas di rumah saat bersama dengan baby Vano saja, karena itu akan menenangkan pikiran Kisya dengan sendirinya, sehingga kita tidak perlu kesulitan untuk membujuk Kisya." Ucap Tuan Geovandra.
"Benar juga." Bunda Nisya mengangguk. Dia memang sudah setuju dengan keputusan yang telah diambil. Tetapi kenapa hatinya masih belum bisa mempercayai Jino dengan sepenuh hati. Bunda Nisya masih ragu. Dia takut jino akan kembali berbuat kasar setelah kelak Kisya menikah Dengan Jino.
Tetapi ini adalah keputusan akhir yang keluarga ambil. Karena persiapan pesta resepsi sudah sembilan puluh sembilan persen selesai. Maka tidak mungkin di batalkan dan sangat tidak mungkin berubah menjadi upacara kematian. Bunda Nisya berfikir mungkin dia akan memaafkan Jino pelan-pelan.
Bersambung 🌺
__ADS_1
wow mau adegan ini engga? siapa yang mau ayo angkat tangan😂😂