
"Jangan ikut campur semua urusanku kak, tugas kamu hanya melindungi diriku!" ucap Rania sambil pergi meninggalkan Ardi sendirian. Ardi merasa sangat gagal menjadi seorang kakak. Dia memang bersalah kepada Rania karena meninggalkan dia sendirian. Pada saat itu. Tetapi apalah dayanya. Dia harus mengikuti semua ucapan sang Ayah demi masa depannya.
Tangan Ardika mengepal. Dia sangat frustasi karena perbuatan sang adik. Dia tidak tahu caranya bagaimana mengubah adiknya menjadi adiknya yang manis dan baik hati seperti dulu lagi. Entah dirinya harus apa. Semuanya terasa buntu kali ini. Tidak ada cara dan ide untuk mengembalikan adiknya menjadi orang yang baik. Selain...
Selain rumah sakit jiwa.
Tetapi dia tidak tega kalau harus memasukan adiknya ke dalam rumah sakit jiwa. Dia sangat menyayangi adiknya. Karena Rania adalah adiknya satu-satunya. Ardika lalu menelepon seseorang.
"Hallo!" suara seorang gadis terdengar begitu merdu.
"Hallo Allana, ini aku." Ardi berbicara dengan pelan. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apalagi. Dia sangat kebingungan. Dia harus bercerita kepada seseorang. Agar pikirkan tidak terlalu tegang.
"Wendy." ucap Allana dengan senyuman yang mekar.
"Hmm iya aku Wendy.. sudah lama kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu." ucap Ardi dengan senyumannya.
"Iya.. Ardika Wendy Budiman, ada perlu apa Tuan perwira?" tanya Allana halus.
"Aku ingin mengajakmu makan malam, aku sedikit pusing dengan perilaku adiku, aku ingin bercerita sedikit kepadamu!" ucap Ardika dengan pelan.
"Hmm, sebagai Ardi aku bisa, tetapi sebagai Wendy sepertinya aku tidak bisa, maaf!" ucap Allana.
"Hmm, kamu sudah memiliki orang baru ya di hatimu?" Ardi merasa kecewa.
"Entahlah, tapi aku bisa makan malam denganmu, jika kamu menjadi Ardi saja!" ucap Allana.
"Baiklah, aku akan menjadi Ardi dan aku mengajak temanku untuk makan malam, bagaimana Dokter Allana?"
"Baiklah tuan perwira, aku akan datang, kita mau makan di mana?"
"Kita akan makan di tempat biasa kita makan, bagaimana?" ucap Ardi.
"Baiklah, aku akan datang jam 19:00 WIB. Aku tepat waktu loh!" ucap Dokter Allana dengan senyum kecilnya.
"Baiklah, ayo kita bertemu jam 19:00 WIB."
__ADS_1
"Oke, Ardi bye."
"Bye."
Lalu merekapun memutuskan sambungan telepon tersebut. Ardika adalah mantan kekasih Dokter Allana. Dan mereka putus ketika Dokter Allana masih di kuliah semester dua. Wendy adalah sebutan sayang yang Allana berikan kepadanya. Allana mengatakan bahwa selama mereka berpacaran, maka Allana akan memanggil Ardi dengan sebutan Wendy. Dan mereka setuju hal itu.
Namun mereka putus karena lost kontak. Ardi tidak menghubungi Allana selama beberapa bulan dan membuat Allana sedih. Dan beberapa tahun kemudian mereka bertemu lagi setelah Allana menjadi seorang Dokter dan Allana telah menikah dan menjanda. Saat itu Ardi pergi karena Ardi harus melanjutkan pendidikannya di akademi kepolisian selama tiga tahun. Dia bukan hanya meninggalkan Allana tetapi Ardi juga meninggalkan Rania sendirian.
🌺🌺🌺
Dokter Allana menutup teleponnya. Kini dia sedang menatap seorang pria tampan di hadapannya. Seorang pria yang masih tertidur dengan lelap dan indah. Pria itu seolah tidak mau bangun dari dunia mimpinya. Dokter Allana membenarkan infusanya. Lalu memgambil air untuk menyeka tubuh pria tersebut.
Kulit pria itu tidak terlalu putih tetapi halus dan bersih. Matanya behitu sipit dan dagunya lancip dengan hidung yang sangat mancung. Dokter Allana dengan telaten membersihkan seluruh badan pasiennya itu. Bahkan dirinya yang sudah membayar semua biaya perawatan pasiennya itu. Dokter Allana berharap pria tampan itu lekas bangun.
Karena sepertinya dia sudah tidak bisa lagi membantunya dalam hal biaya perawatan. Karena biayanya sangat mahal dan semakin hari semakin membengkak. Dokter Allana memakai seluruh tabunganya untuk membayar semua tagihan rumah sakit. Namun Dokter Allana iklas mengeluarkan semua uangnya asalkan pasien itu sembuh.
Setelah selesai menyeka seluruh tubuh si pasien. Dokter Allana lalu membantu pasien itu mengenakan bajunya.
"Kapan kamu bangun, aku mohon bangunlah, biaya rumah sakit sudah menghabiskan seluruh tabunganku, aku sudah tidak sanggup lagi membayar tagihan dari rumah sakit." Ucap Dokter Allana berbicara kepada pria yang masih terbaring koma itu.
"Aku akan pergi dulu bertemu dengan mantan kekasihku, sebenarnya aku malas bertemu dengan dia, tetapi aku kasihan padanya , dia sedang ada masalah dan tidak punya teman, itulah dia, dia tidak punya teman, aku pergi dulu ya!" ucap Allana sambil bersiap. Allana lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan pasien tersebut. Pasien itu sama sekali tidak ada respon.
Terlihat seorang pria tegap dengan wajah khas dan mata yang redup sudah menunggunya. Dari kejauhan pria itu sudah tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Dokter Allana menorehkan senyumnya dan segera berjalan menghampiri dia.
"Sudah lama?" Tanya Allana dengan senyuman manisnya.
"Baru saja sampai, aku tidak mau kamu menunggu!" Ardika tersenyum dengan manisnya. Membuat Allana membalas senyum pria itu. Allana duduk dan langsung memesan makanan.
"Kamu sudah pesan makanan?" Tanya Allana dan Ardi hanya menggeleng.
"Kita pesan makanan yang biasa kita pesan saja ya." Sahut Allana. Dan ardi hanya mengangguk saja.
Allanapun memesan makanan untuk berdua. Allana kebetulan sudah sangat lapar. Karena dia sudah lelah merawat pasien pribadinya.
"Kamu terlihat bad mood."
__ADS_1
Ardi hanya mengangguk.
"Adikmu kenapa lagi?" Tanya Allana.
"Dia sudah sakit jiwa menurutku."
"Hah?"
"Dia sudah berbuat terlalu banyak kekacauan, dia menggangu ketenangan orang lain!" Ardi terlihat kecewa saat membicarakan soal adiknya Rania.
"Hmm, awalnya bagaimana?" Tanya Allana.
"Awalnya dia gadis yang baik dan imut, tetapi semenjak kepergian seseorang yang sangat dia cintai, ternyata membuat dia menjadi seseorang yang jahat dan pendendam, aku sudah pusing melihat tingkahnya!" Ardika terlihat sangat malas. Dia begitu kesal dan kebingungan, bagaiama caranya merubah Rania agar bisa menjadi orang baik.
"Kekasihnya meninggal?" Tanya Allana.
"Iya kekasihnya meninggal karena sebuah kecelakaan, kekasihnya tenggelam."
"A apa, tenggelam?" Allana terkejut. Dia langsung mengingat pasienya yang kini sudah terbaring selama delapan bulan karena koma. Pasien itu juga tenggelam. Beruntung dia masih bisa diselamatkan walau memang kondisi otaknya rusak dan dia koma. Allana menelan ludah dan dia enggan menceritakan semuanya kepada Ardi.
"Iya, kekasihnya meninggal karena tenggelam, sungguh Tragis, semenjak saat itu, adiku menjadi sering menangis dan histeris." Tutur Ardika.
"Sudah aku bilang kalau dia harus diobati!"
"Mana bisa, dia sepetinya tidak akan mau, dia begitu membenciku!" ucap Ardika. Dan kini Allana pun seolah berfikir dan bagaimana cara membawa adiknya ardi berobat.
"Dia harus diobati Ardi!" ucap Allana.
"Bisakah kamu memberi tahu aku cara, agar adiku mau pergi ke rumah sakit?" Tanya Ardika.
Allana terdiam. Dia pun kebingungan dengan pertanyaan dari Ardi.
"Aku tak bisa berfikir lagi Lana, aku sangat mencintai adiku, aku selalu melindungi dia, tetapi dia selalu berbuat jahat, aku harus bagaimana?" Ardi sungguh kebingungan. Dan Allana pun hanya terdiam dalam kebingungannya.
"Nanti aku konsultasi dulu dengan Dokter psikiater, aku kan Dokter umum jadi kurang mengerti." Tutur Allana. Dan Ardi pun mengangguk. Ardi begitu bersyukur ada Allana yang bisa dia ajak untuk bercerita tentang semua keluh kesahnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺
Bersambung.