
Bunda Nisya masih menjadi penonton dan sama sekali tidak menggangu pasangan itu. Mereka bersama memang membuat Bunda Nisya marah pada awalnya. Tetapi melihat perlakuan Jino begitu lembut memperlakukan Kisya , Bunda Nisya menjadi luluh. Dan sepertinya dia akan bisa memaafkan Jino. Walau memang belum ada kepastian dia memafkan Jino atau tidak.
Cekrek.
Suara pintu terbuka memecahkan lamunan semua yang ada di dalam. Ternyata yang masuk suster hendak memberikan Kisya obat. Jino lalu melepaskan pelukan dan mambawakan Kisya minum supaya dia bisa meminum obatnya dengan cepat. Kisya akan sembuh, itu sebuah keyakinan yang kuat.
Setelah meminum obat lalu Kisya mulai kembali mengantuk. Pengaruh haldol sangat kuat. Halopuridol adalah obat antiropika yang Kisya konsumsi untuk menenangkan pikiran Kisya. Dokter sudah memberikan resep itu saat pertama Kisya defresi setahun lalu dan Kisya cocok meminum obat itu. kini Kisya mulai tertidur.
Gangguan cemas dan halusinasi yang Kisya rasakan sungguh membuat Jino begitu iba dan semakin mencintai gadis itu. Seolah Jino tak mau melepaskan pelukan gadis itu dan ingin selalu mendekapnya dengan erat. Namun sayang sekali pagi itu Jino harus segera bergabung dengan tim SAR untuk mencari keberadaan Jeff kembali.
Ini adalah hari kedua Jeff menghilang. Jino dengan segera pamit kepada Bunda Nisya dan bergegas menuju ke TKP. Sesampainya disana Mama Murni dan Papa Geovandra sudah menanti Jino sepagi itu. Mama Murni sudah menyiapkan nasi goreng untuk Jino sarapan. Jino langsung memakan masakan Mama Murni dengan lahap. Jino sangat menyukai nasi goreng.
Setelah selesai makan, Jino langsung mengganti kostum dan memulai pencarian. Mama Murni duduk termenung bersama sang suami. Hatinya masih berdebar dan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Mana Murni sudah siap dengan berbagai kemungkinan. Walau memang rasanya akan sangat sakit dan hancur. Tetapi Mama Murni akan berusaha tegar dan menerima takdir dari tuhan.
Pandangan mata sang Mama tanpa arah dan tujuan. Terkadang air mata itu menetes tanpa permisi. Rasa sakit dalam hatinya membuat air matanya mengalir deras. Papa Menggenggam tangan Mama dengan sangat erat. Papa nenguatkan Mama dengan pelukan dan genggaman tanganya. Mama Murni yang terdiam dengan kesakitanya sebenarnya dalam hatinya terus berdoa agar putra kesayangannya seegra di temukan dengan selamat.
Tetapi jika mengingat bahwa manusia tidak akan bertahan selama itu didalam air. Maka Mama Murni berharap Jeff bisa ditemukan walau apapun keadaanya. Pasti akan terada sakit jika saat itu terjadi. Tetapi lebih sakit lagi jika tanpa kejelasan. Namun harapan pasti selalu ada. Mama berharap Jeff sudah ditemukan oleh seseorang dan selamat. Walau harapan itu sangat kecil. Tapi harapan itu yang bisa menguatkan hatinya sebagai seorang Ibu .
*****
Rania terbangun dan tubuhnya terasa amat lelah. Dia beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Rania nengenakan baju dan keluar dari kamarnya. Terlihat Ardi sudah siap di meja makan menunggu Rania untuk makan bersama.
"Sepagi ini kakak sudah di sini?" Tanya Rania ketus.
__ADS_1
"Iya." Ardi cuek dan terus melanjutkan sarapan paginya.
"Untuk apa datang?" Rania memberikan wajah masam pada Ardi. Ardi meneguk minumannya dan menatap Rania dengan tajam.
"Untuk kamu." Ucap Ardi lalu ardi mengambil koran dan membacanya. Rania mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan selay nanas dan taburan ceres yang terlihat menggugah. Rania mengigit roti tersebut.
"Kita ke TKP lagi, mau ikut tidak?" Ucap Ardi tanpa menatap wajah Rania.
"Hmm ." Jawab Rania singkat.
"Kamu minumlah multivitamin ini, lalu selesai makan kita langsung berangkat, aku tidak mau kamu sakit dan menyusahkanku." Ardi berkata tanpa menatap Rania sama sekali. Rania membuang muka dan menghela nafas dalam-dalam. Rania merasa tidak mau bertemu dengan Ardi. Dan perhatian Ardi sama sekali membuatnya muak.
"Aku ingin hamil anaknya kak Jeff." Rania berkata sambil mengelus perutnya dengan lembut. Ardi terkejut mendengar ucapan Rania.
"Aku sudah menyerah pada kak Jeff, dia pergi karena menjauhiku, karena itu aku akan pergi membawa bayinya dalam rahimku." Rania berkata pilu.
"Sudah tidak cinta dia lagi huh?" Tanya Ardi.
"Jangan tanyakan itu, karena sudah pasti jawabannya adalah sama, aku sangat mencintai kak Jeff, tetapi, aku menyerah."
"Menyerah secepat itu?" Ucap Ardi sambil menatap Rania intens. Rania mengangguk pelan. Dia masih mengelus perut ratanya. Masih berharap bisa mengandung bayinya Jeff.
"Aku menyerah, karena sangat mencintainya, aku menyerah karena aku yakin aku bisa mengandung bayinya kak Jeff."
__ADS_1
"Kamu terlalu yakin, sudahlah ayo kita pergi ke TKP!" Ajak ardi sambil berdiri dan menarik tangan Rania dengan lembut. Mereka lalu berjalan menuju ke mobilnya Ardi.
"Pasang sabuk pengamanmu, kamu gak mau kan bayimu kenapa-napa." Ucap Ardi sambil melihat jalanan dan menyetir dengan santai. Rania yang saat itu hanya bisa diam ,dengan segera memasang sabuk pengaman. Dia benar-benar suka dengan ucapan Ardi yang mengkhawatirkan bayinya. Padabal Rania belum hamil sama sekali, Rania dan Jeff baru berhubungan 4 hari lalu, dan mana mungkin langsung terdeteksi hamil.
Tetapi Rania teguh pada keyakinannya. Bahwa dia akan segera dapat kabar bahagia dengan berita kehamilanya. Dia akan sabar menunggu bulan depan tiba, menunggu datang bulannya tidak datang. Saat itu tiba Rania akan sangat bahagia karena bisa mengandung bayinya Jeff. Walaupun Jeff sudah tidak ada.
Kini Ardi dan Rania sudah berada di TKP. Mereka langsung menghampiri Tuan dan Nyonya Geovandra. Ardi dan Rania memberikan salam. Rania hanya bisa terdiam sambil melihat danau yang begitu luas. Tanpa terasa air matanya menetes lagi. Dia sangat berharaf sebuah keajaiban muncul dam Jeff selamat.
Mama Murni sesaat melihat sikap Rania yang aneh. Rania terlihat pucat dan cemas.
"Apa kamu temanya Kisya yang waktu itu?" Tanya Mama Murni.
"Iya Tante, saya Rania, ternyata tante masih ingat saya." Rania menorehkan senyum pada Mama Murni. Mama Murni lalu membalas senyum Rania.
"Jeff pasti akan segera di temukan." Ucap Mama Murni dengan senyuman hampa. Matanya sudah berkaca dan hendak menangis. Tetapi dia menahanya. Karena tidak mau terlalu rapuh di lihat oleh banyak orang. Karena memang sebenarnya dia sangat rapuh. Hatinya bahkan sudah hancur menjadi debu. Untunglah Papa Geovandra selalu menjadi suami yang penyayang dan selalu mendampingi sang istri. Sehingga Mama Murni bisa menghidupkan kembali sebagian harapanya yang sudah mati bersama dengan hilangnya Jeff.
"Tante sangat kuat." Ucap Rania meneteskan air matanya.
"Ini semua demi Jeff, Jeff pasti takan senang melihat mamanya terus terusan menangis, Jeff itu sebenarnya sangat manja, ya tuhan sesak sekali dada ini." Mama Murni mengehela nafas berat menahan tangis. Dan rania Menggenggam tangan Mama Murni dengan lembut.
Bersambung🌺
Kisya terpuruk.
__ADS_1