Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Berpisah


__ADS_3

Saat itu di pagi hari. Hujan pun turun secara tiba-tiba. Padahal waktu itu bukan musim hujan. Seolah langit tahu betapa hati perempuan itu begitu pedih harus ditinggal oleh sang suami tercinta. Jino mengecup kening Kisya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia sungguh berat harus meninggalkan istri tercintanya jauh dan agak lama.


Mengingat bahwa setiap hari mereka merasakan rindu yang menggebu dan cinta yang bergelora. Tidak berjumpa beberapa jam saja itu sudah membuat mereka tak berdaya menahan kerinduan.


"Sayang, aku pergi ya, tolong jaga diri baik-baik, dan jaga buah hati kita ya sayang!" ucap Jino dengan mata sendu karena tidak tega harus pergi meninggalkan sang istri.


Kisya mengangguk dengan diam. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Dia tidak mau menangis di hadapan sang suami. Dia tidak mau suaminya berangkat dalam keadaan resah dan gelisah. Jino pergi untuk mengemban tugas yang besar demi kelancaran perusahaan. Dan jika Jino melihat Kisya menangis maka dia tidak akan tenang meninggalkan sang istri dalam kepedihan yang mendalam.


"Sayang, aku pergi hanya sementara saja, bukan untuk pergi selamanya sayang, aku janji aku akan membersihkan virus di perusahaan kita dalam waktu seminggu, semoga saja semua berjalan dengan lancar ya, doain aku bisa menuntaskan semua masalahnya ya sayang!" ucap Jino sambil memeluk tubuh sang istri yang sudah mulai bergetar.


"Aku akan menunggu kamu pulang sayang!" Kisya mencoba menstabilkan suaranya. Walau tubunya sudah bergetar begitu hebat untuk menahan semua tangis yang hampir saja meledak.


"Iya sayang, tunggu aku pulang ya!" sekali lagi pria itu memeluk dan mengecup kening istri tercintanya. Seolah dia begitu enggan untuk melepaskan pelukan itu. Berat rasanya pergi meninggalkan istrinya seperti ini. Tetapi mau tidak mau dia harus berangkat ke Belanda. Jino pun akhirnya naik ke dalam mobil alfarnya. Dan supir mulai melajukan kendaraanya dengan segera.


Kisya menatap kepergian sang suami dengan hati yang sangat berat. Sungguh berat dan menyakitkan. Pasalnya ini adalah kali pertama Jino meninggalkanya jauh seperti ini. Tetapi sebagai seorang istri yang baik. Kisya akan selalu mendukung tugas dan pekerjaan sang suami dengan sepenuh hati. Walau memang terasa berat dan menjadi beban dalam hatinya.


Kisya sudah tidak tahan menahan semua tangisnya. Setelah mobil Jino tidak terlihat lagi. Dengan segera wanita itu berlari ke dalam kamarnya. Mama dan Papa melihat Kisya berlari sambil meneteskan air matanya. Sebetulnya Papa tidak tega memisahkan mereka berdua. Tetapi Papa tidak punya jalan lain selain ini. Karena ini merupakan masalah yang besar dan demi kelangsungan perusahaan.

__ADS_1


Kisya berlari dengan derai air mata yang tak bisa dia tahan lagi. Sesampainya dia di kamar. Tak kuasa lagi dia menahan semua tangis. Kisya lalu menangis dengan tersedu. Dia merasakan beban hati yang mendalam ketika suaminya berangkat. Dia merasa tidak sanggup hidup berjauhan dengan sang suami. Jino memang menjanjikan seminggu disana. Namun jika urusan Jino sudah selesai. Tetapi jika urusan Jino belum selesai. Maka Jino akan menunda kepulangannya dan akan berada di sana sampai semua masalahnya tuntas.


Kisya kini hanya bisa menangis sambil memeluk gulingnya. Mama Murni mengintip Kisya dari balik pintu yang agak terbuka. Dia tidak tega melihat menantunya menangis seperti itu. Tetapi untuk sekarang biarlah Kisya menangis untuk meluapkan semua emosi dalam jiwanya. Mama lalu turun kembali ke lantai bawah. Dan menceritakan semuanya kepada Papa. Papa juga merasa sedih. Namun apa boleh buat. Semuanya butuh pengorbanan.


Masalah yang kini di hadapi oleh perusahaan begitu besar sehingga Jino memang harus turun tangan sendiri untuk membereskan semuanya. Membereskan sampai ke akar masalah dan mencabutnya.


"Biarkan saja Kisya menangis dulu Ma, biarkan dia sendiri dulu!" ucap Papa dengan wajah sendunya.


"Iya Pa, baiklah kalau begitu. Tetapi apa tidak sebaiknya kita menelepon Lintang untuk sekedar menemani Kisya!" ucap Mama sambil menatap sang suami tercinta.


"Boleh juga ide Mama, mereka berdua memang sangat dekat, telepon saja Lintang, Kisya pasti akan merasa sangat terhibur ketika Lintang ada di sampingnya!" ucap Papa sedikit menyunggingkan bibirnya. Dan Mama Murni terseyum. Tanpa basa basi Mama Murni menelepon Lintang dan meminta Lintang untuk datang.


Kisya masih terisak walau kini isakan itu sudah mulai melemah. Sepertinya dia tertidur karena lelah sehabis menangis. Maklumlah semalaman dia tidak bisa tidur sama sekali. Jadi sekarang Kisya tertidur. Dengan mata yang basah. Mana Murni masuk hendak memberikan beberapa camilan untuk Kisya. Tentunya itu hanya allasan sang Mama mertua yang bertujuan untuk melihat kondisi putri menantunya itu.


Setelah masuk dan melihat bahwa Kisya sedang tertidur lelap. Maka Mama Murni tidak berani membangunkan sang nenantu. Mana Murni keluar dengan sangat pelan dan hati-hati. Mama merasa tenang Kisya sudah tertidur dan berhenti menangis.


"Kita biarkan saja kikis tidur, biarkan saja!" ucap Papa Geovandra dengan suara seraknya. Dia kini sudah bersiap akan berangkat ke kantor. Dua agenda yang harus Papa tangani. Yaitu Papa akan berkunjung ke perusahaan Kisya baru setelah itu ke perusahaannya Sendiri.

__ADS_1


Sampai jam sepuluh pagi, wanita itu masih terlelap dengan cantik. Baby Vano mulai rewel ingin bertemu dengan sang Mommy. Tetapi Mama Murni tidak mau sang cucu menggangu tidur lelap sang menantu. Dan beberapa saat kemudian Lintangpun datang beserta Baby Cery dan pengasuh bayinya. Lintang di sambut hangat oleh sang Mama. Lintang sudah lama sekali tidak berkunjung ke mansion daviz. Sudah sangat lama setelah terakhir baby Vano baru lahir.


"Ayo duduk dulu sayang, Mama akan memasakan makanan kesukaan kamu ya nak!" ucap Mama dengan senyuman penuh kasih sayang. Mama Murni memang sudah menyayangi Lintang. Karena Lintang begitu lama jadi kekasihnya Jino, ya lima tahun lamanya Lintang menjadi kekasih Jino. Dan Jino sering mengajak Lintang untuk makan di rumahnya. Karena itu Mama Murni sudah hapal dengan jelas makanan kesukaan Lintang.


Lintang begitu senang saat melihat Mama Murni memasak. Lintang bisa sekalian belajar masak kepada sang Mama. Karena Lintang tidak sepandai Kisya dalam hal memasak. Lintang hanya bisa memasak mie dan telur dadar saja. Sisanya Boy yang suka memasakan makanan yang enak untuk dirinya.


🌺🌺🌺


Bersambung.


Hai sayangku sahabat Jino dan Kisya. Apa kalian rindu padaku setelah tiga hari tidak berjumpa.. ahh.


Kalian rindu padaku apa rindu sama Jino dan Kisya? Hehehe.


Eh iya sekedar info saja ya.. Novel ku yang berjudul MY BABY sudah ready loh. Dah jika ada yang mau pesan silahkan hubungi nomor HP admin ya.


087779966421

__ADS_1


Salam sayang dariku Lee (Evangelin_Harvey).



__ADS_2