Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Rasa Perih


__ADS_3

Suara isak tangis masih terdengar. Mama Murni masih lirih dengan air matanya. Semua terdiam dengan seribu kekalutan yang mendalam. Kisya mendengar, Hawar-hawar semuanya. Dengan perlahan gadis itu membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling. Terlihat bunda Nisya dengan tatapan kosong menatap ke arah jendela. Lalu dia melihat ke arah Jino. Jino masih dalam keresahanya. Pikiran Jino entah kemana. Bahkan Jino tidak menyadari bahwa Kisya sudah bangun.


Kisya mendengar ratapan Mama Murni yang bergitu nenyedihkan. Mama Murni masih terduduk di lantai dan Papa masih memeluknya dengan erat.


"Sudah Mama tenang dulu, Papa yakin Jeff pasti akan segera ditemukan." Ucap Papa Geovandra menenangkan sang istri yang sedang terluka.


Deg.


Kisya baru menyadari bahwa dirinya dan jeff telah mengalami sebuah kecekaan. Dia berfikir keras . Ternyata dia mengingat semua kejadian dimana suara letusan ban mobil yang pecah membuat mobil yang mereka kendarai oleng, terbalik dan meluncur bebas ke dalam danau.


Tiba-tiba rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhnya.


Hatinya seolah remuk dan tak berbentuk. Kisya mendengar semua rintihan kesakitan Mama Murni. Membuat hatinya ikut menangis dan menjerit. Kisya terbangun dengan cepat. Itu membuat Bunda Nisya dan Jino terkejut.


"Nak kamu sudah bangun." Ucap Bunda Nisya pelan, Bunda Nisya sangat senang Kisya sudah terbangun. Jino menatap kisya namun Kisya tidak menatap Jino sama sekali. Kisya bangun dan berjalan ke arah Mama Murni dan Papa.


"Mama, bangun Ma, ayo kita cari kak Jeff!" Ucap Kisya dengan mata yang merah menahan tangis. Tubuh Kisya sudah bergetar tak karuan. Bahkan dirinya tak memiliki tenaga yang begitu kuat.


"Kis." Mama Murni nenatap Kisya dengan mata yang basah. Mama Murni berdiri dan memeluk Kisya dengan erat. Lalu menangis lagi.


"Apa yang Mama lakukan, kenapa Mama menangis?... Ayo kita cari kak Jeff, ayo Ma!" Kisya berusaha menahan tangisnya. Padahal tubuhnya sudah bergetar hebat. Air matanya menetes tanpa dia sadari. Hatinya tak sanggup menahan semua rasa sakit ini. Serangan kesakitan yang membuatnya tak berdaya dan terasa amat hancur.


"Kis, Jeff hilang nak, sudah lama mereka mencari, tetapi jeff belum bisa ditemukan. Kira harus sabar, Jino akan mencari Jeff lagi besok." Ucap Mama Murni sambil memeluk Kisya. Kisya mendorong Mama Murni tatapan matanya penuh dengan kemarahan.

__ADS_1


"Tidak, kita harus mencarinya sekarang, kak Jeff tidak akan kuat sampai hari esok, dia pasti akan kedinginan di dalam air, ayo kita cari Ma!" Kisya mulai menangis dia meluncurkan semua air mata yang sedari tadi ia bendung.


"Ini sudah malam Kis, pencarian akan dilakukan besok pagi." Ucap Papa pelan mencoba meyakinkan Kisya.


"Tidak, kak jeff harus segera ditemukan, manusia tidak akan bisa kuat didalam air selama semalaman!" Jerit Kisya Dengan sangat melengking.


Jino hanya terdiam menatap Kisya yang begitu sedih. Bunda Nisya lalu menghampiri Kisya.


"Besok kita cari Jeff lagi nak, lihat wajah Jino sudah selelah itu sedari tadi mencari jeff." Ucap Bunda Nisya dengan mata yang berkaca-kaca. Kisya lalu menatap jino. Mata basahnya tak henti mengeluarkan air. Kisya berjalan ke arah jino. Jino berdiri dan menatap kekasih hatinya.


"Ayo kak, kita cari lagi, kasian kak jeff, dia takkan bisa kuat berlama-lama disana." Kisya terus menangis sambil menatap Jino.


"Besok kita cari ya, hari ini aku sudah sangat lelah." Ucap Jino pelan.


Semua terkejut mendengar teriakan Kisya.


"Sayang." Ucap Jino pelan, Jino mencoba memeluk Kisya namun Kisya meronta.


"Kalian, kalian sengaja membuat kak Jeff kedinginan disana, kak Jeff kak Jeff, maafkan aku kak Jeff, maafkan aku karena keluar lebih dulu, seandainya waktu bisa di putar kembali, aku memilih tidak keluar dari dalam air dan menemanimu di sana, maafkan aku kak Jeff!" Jerit Kisya tak terelakan lagi. Perawat datang karena mendengar keributan.


"Nona ayo tenang dulu!" Ucap seorang perawat yang datang.


"LEPASKAN!" Jerit Kisya.

__ADS_1


"Kis, tenang nak!" Ucap Bunda Nisya dengan air matanya yang menetes.


"Tidak, lepaskan aku, lepas, aku harus mencari kak Jeff , aku harus mancari dia, lepas lepas, kepaskan aku!" Kisya masih mengamuk dengan tangisanya. Tangisanya meluap-luap membuat sebuah kegaduhan.


"Sayang, tenang dulu!" Jino memeluk Kisya . Dan Kisya terus meronta dengan jeritanya. Suster lalu berlari meminta bantuan perawat lain. Dan Jino masih memeluk Kisya yang mengamuk.


Hati kisya yang sakit di penuhi dengan sebuah penyesalan. Dia tak tau akan terjadi hari ini. Hari dimana dia menyesali karena telah membuat hidup jeff menderita karena perbuatanya.


"Lepas kak lepas, huhuhu.. " Kisya masih menangis dan jino memeluknya dengan erat. Tiba-tiba saja beberapa perawat datang dan memberikan Kisya sebuah suntikan penenang. Seketika tubuh kisya melemah. Kisya lemas dan seolah tak bertulang. Pandangan matanya mulai kabur dan dia nerasakan sebuah kantuk yang tak bisa dia tahan lagi. Kisya pun tertidur dalam pelukan Jino.


Jino melihat Bunda Nisya seolah meminta ijin untuk menggendong Kisya menuju ke tempat tidur dan bunda nisya mengangguk. Jino menggendong Kisya dan merebahkan tubuh lemah Kisya di atas ranjang kesakitan. Perawat lalu pergi setelah memberikan suntikan penenang. Jino menggenggam erat tangan Kisya dan mengelus kening kisya dengan lembut. Mama Murni melihat perbuatan Jino dan merasa terkejut dengan sikap Jino yang mendadak menjadi lembut.


Selama ini Mama Murni tidak tau Jino bisa berbuat lembut seperti itu. Karena Jino selalu ketus terhadapnya. Bunda Nisya hanya melihat saja. Dia tidak perduli dengan apa yang Jino lakukan. Sedang Papa Geovandra terlihat pilu menatap Jino dan Kisya.


"Kisya sangat terkejut dengan kejadian ini, mentalnya tidak bisa menerima!" Ucap Papa Geovandra. Jino baru tersadar bahwa dirinya di depan banyak orang. Dia segera melepaskan genggaman tangan Kisya dan menjauhkan tubuhnya dari ranjang kesakitan.


"Kasian sekali, mereka bahkan akan melakukan resepsi pernikahan." Mama Murni kembali meneteskan air matanya. Dia masih terlalu sedih untuk bisa bersabar mengahadapi sebuah kenyataan yang begitu pahit baginya.


"Jino kamu belum makan dari pagi!" Ucap Papa sambil menepuk bahu Jino dengan lembut.


"Nanti saja Pa, aku masih mau disini." Ucap Jino pelan.


"Kamu harus makan, kamu tidak boleh sakit!.. kamu harus sehat agar bisa terus mencari keberadaan Jeff, karena selain tim SAR, kamu adalah harapan kami!" Ucap Papa Geovandra dengan penuh harap. Jino menatap mata sang Ayah dengan tatapan sendu. Jino akhirnya mengangguk . Dia beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kamar. Jino memang terasa begitu lemas. Sepulang dari swiss Jino belum makan apapun. Jino lalu pergi menuju ke kantin rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung❤️


__ADS_2