
Jino melepas semua pakaiannya. Dan membuang ke tong sampah. Jino lalu mengenakan pakaian yang lain yang ada di lemari kamar kantornya. Jino tahu bahwa Kisya masih marah. Baru kali ini Jino melihat Kisya semarah itu. Padahal selama ini Kisya selalu lemah lembut dan bertutur sapa dengan sopan.
Tetapi tadi, Jino melihat, Kisya mengguyur wanita itu dengan segelas air. Jino baru tahu bahwa istrinya dalam mode cemburu. Setelah selesai mengenakan pakaian. Jino lalu mendekati sang istri. Dia memeluk tubuh mungil sang istri dengan lembut. Namun Kisya mendorong tibuh Jino. Seolah Kisya enggan untuk menerima pelukan sang suami.
Jino kembali memeluk Kisya lagi. Dan lagi-lagi Kisya mendorong tubuh suaminya.
"Sudahlah dad aku gerah!" ucap Kisya pelan. Kisya lalu mengambil ponselnya dan malah memainkan ponselnya tanpa menghiraukan Jino.
"Sayang, jangan marah terus!" Ucap Jino berusaha membujuk sang istri.
"Gimana aku engga marah, ada perempuan lain duduk mesra di pangkuan suamiku?" Ucap Kisya masih mode kesal.
"Tapi kan sayang, aku tidak mengenalnya, dia datang tiba-tiba dan duduk di pangkuanku!" Ucap Jino membela diri.
"Jadi kamu membiarkan saja gadis itu duduk seenaknya di pangkuan kamu, kalau aku tidak datang, apakah kamu akan menikmati tubuhnya?" Kisya menetap Jino dengan mata yang memerah.
"Tentu saja tidak, aku akan tetap mendorongnya, aku tidak butuh pelukan siapapun, aku hanya butuh pelukan dari kamu sayang!" ucap Jino dengan nada penuh harap. Berharap sang istri segera memafkanya.
"Maafkan aku ya sayang!" Jino meratap.
Namun Kisya masih terdiam. Dia diam dan begitu malas melihat sang suami. Wanita itu datang ke kantor dan sukses membuat mood Kisya hancur sore ini. Kisya hanya bisa menatap sang suami penuh kekesalan.
"Sayang, aku beneran tidak akan mengulanginya. Aku takan memberi kesempatan siapapun menyentuh tubuhku!" Ucap Jino penuh harap. Kisya masih diam mematung.
"Ah, kesalnya!" Kisya beranjak dari duduknya dan berdiri hendak berjalan pergi. Namun Jino segera memeluk tubuh mungil sang istri dan mengecup leher belakang istrinya dengan lembut dan penuh kemesraan.
"Maafkan aku sayang!" Sekali lagi Jino memohon pengampunan sang istri. Kisya menghela nafasnya begitu berat. dia masih kesal. Tidak semudah itu menghilangkan rasa kesalnya. Mood Kisya sudah terlanjur jelek. Dan sangat susah untuk mengembalikan moodnya itu. Jino masih mode memelas. Masih mengecup leher belakang sang istri. Kemarahan Kisya membuat dirinya cemas. Pasalnya selama ini Kisya tidak pernah marah seperti itu.
__ADS_1
Kisya terdiam masih mematung. Entah dia harus berkata apa. Dirinya merasakan sebuah kecemburuan yang telah merasuk. Dia merasakan sesaknya rasa cemburu itu. Bagaimana tidak sesak. Kisya dengan buru-buru ingin bertemu dengan suaminya. Dia sangat merindukan Jino. Tetapi sesampainya di kantor dia malah melihat pemandangan tidak sedap dan membuatnya murka. Tiba-tiba saja.
Krucuuk.
Suara perut Jino berbunyi. Jino merasa sangat lapar karena belum makan sedari siang. Kisya melepaskan pelukan Jino dan menatap sang suami.
"Lapar?" Tanya Kisya. Jino mengangguk dengan wajah memelas. Seperti anak yang meminta makanan kepada ibunya. Kisya lalu keluar dari ruangan istrirahat itu dan keluar menuju ke dapur. Jino masih mengekor di belakang. Sekertaris Jino semuanya tersenyum. Melihat Jino mengekor pada kisya. Dan tiba-tiba saja ada staf laki-laki datang membawa beberapa berkas.
"Ya ampun maafkan saya tidak sengaja melihat!" ucap pria itu sambil menundukan wajahnya. Jino tersentak. Jino lupa Kisya masih mengenakan tank top. Dia lupa mengenakan kemejanya. Mata Jino membulat. Dan marah pada stapnya itu. Lalu pria itu segera menjauhi mereka berdua dari pada nanti dia kena amukan bos.
Kisya sudah sampai di dapur. Sedang Jino berlari kembali ke ruangan istirahat dan mengambil kemeja sang istri. Kisya masih memasak. Lalu Jino mengodorkan kemeja milik sang istri supaya segera di kenakan. Karena tubuh Kisya begitu putih dan seksi. Sehingga menggunakan tank top sepeti ini membuat mata orang lain seolah mau lepas.
"Apa ini?" Tanya Kisya.
"Pakailah dulu sayang!" ucap Jino dengan senyumannya.
"Tapi kamu jadi pusat perhatian sayang!" ucap Jino.
"Bukanya kamu suka yang seksi?" Kisya masih memotong sayuran.
"Iya sih sayang, tapi tidak di depan orang juga sayang!" Jino berkata dengan penuh kelembutan.
"Aku nyaman seperti ini, bahkan gadis itu tadi hanya menggunakan kemben saja kan?" ucap Kisya.
"Tapi kamu gak boleh sayang, kamu hanya boleh seksi di depanku saja. Lihatlah rokmu sudah sangat pendek. Sekarang kamu mengenakan tank top saja. Kamu semakin seksi, aku tidak suka mereka melihat istriku di lihat staf dengan pandangan mata buaya mereka!" Ucap Jino.
"Aku memang cantik dan seksi!" Kisya masih menjawab ucapan Jino.
__ADS_1
"Duh sayang, udahan dong marahnya, ayo kenakan dulu kemejanya!" Jino memohon dengan wajah memelas. Sedang Kisya hanya terdiam membisu. Dia sendiri masih bingung. Bagaimana cara mengembalikan moodnya yang hancur.
Kisya sama sekali tidak menghiraukan sang suami. Dia masih terus memasak dengan fokus. jinto akhirnya menyerah menyuruh kisya mengenakan kemejanya. Jino kini hanya duduk sambil memperhatikan sang istri yang sedang asik memasak.
Selang beberapa saat akhirnya Kisya sudah membereskan beberapa masakanya. Lalu mereka membawa masakan itu ke dalan ruangan Jino.
"Butuh batuan?" Tanya Angel. Jino menggeleng dan menyuruh Angel pergi. Kini Jino dan Kisya mulai menyantap makananya. Jino makan begitu lahap. Karena dia belum makan dan hari ini dia begitu sibuk. Sedang Kisya makan hanya sedikit. Sesekali Kisya menatap suaminya yang sedang makan. Dan sesekali Kisya terdiam mengingat kejadian tadi.
Kisya ingin tahu. Datang dari mana gadis murahan itu. Dia menggoda suaminya. Dan sangat menyebalkan. Kisya masih diliputi rasa cemburu. Walau sepenuhnya Kisya percaya kepada kesetiaan Jino. Namun Kisya tetap saja merasakan aura kecemburun yang menyeskaan dadanya.
"Sayang ko diam?" Tanya Jino sambil meneguk air putihnya. Kisya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kembali' menyantap hidanganya.
Kisya tidak bernafsu makan. Jino lalu selesai makan dengan cepat. Setelah itu Jino duduk mendekati sang istri yang masih melamun tidak jelas.
"Makan yang banyak mom, demi buah hati kita kelak!" bisik Jino.
"Buah hati yang mana, aku bahkan belum mengandung!" Ucap Kisya sedikit merekahkan bibirnya.
Jino terkejut melihat senyum istrinya yang begitu manis.
"Cantik sekali kalau tersenyum!" Jino tak henti menatap pantulan wajah cantik pujaan hatinya.
Mereka lalu saling bertatapan. Tatapan penuh rasa cinta dan kerinduan.
"Berjanjilah padaku, tidak boleh berduaan dengan wanita lain, siapapun dia, biarkan Angel menemanimu!" Ucap Kisya dengan penuh harap. Lalu Jino menganguk. Jino sadar betul istrinya masih sangat cemburu.
🌺 Bersambung 🌺
__ADS_1