
"Bangun kak, ini bukanlah mimpi." Seseorang berbisik lembut menggelitik ditelinga sebelah kanan Kisya. Kisya membuka matanya. Wajahnya terkejut dan jantungnya berdebar.
"RASYA." Kisya tersentak mendengar seolah rasya berbisik padanya.
"Kenapa sayang...?
Ucap Jino terkejut. Jino melepaskan pelukanya. Dan menatap Kisya penuh tanda tanya.
Debaran jantung Kisya seolah berpacu dengan waktu. Aliran darahnya seolah terhenti.
"Ini salah, ini salah." Ucap Kisya pelan dan air matanya menetes tanpa dia sadari.
"Ada apa?...
Sekali lagi Jino berkata pada Kisya. Wanita itu terlihat kacau dan hampir menangis. Matanya sudah merah dan tubuhnya bergetar.
Sesaat kisya menatap sang bayi kecil kesayanganya. Menatap dengan penuh inten dan tiba-tiba sebuah ketakutan muncul.
"Kak aku harus pulang."
Ucap Kisya dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Tapi ada apa, dan kenapa?...
Jino merasa kebingungan dengan sikap Kisya yang tiba-tiba berubah.
"Ini semua tidak benar kak, bahkan Rasya mengingatkan aku tentang ini semua. Kita tidak boleh saling bertemu lagi kak." Kisya mulai meneteskan air matanya. Bulir air mata jatuh membasahi pipi halusnya. Membuat Jino tersnetak melihat air mata Kisya yang membanjir.
"Ada apa sayang?...
__ADS_1
Ucap Jino merasa cemas.
"Kak ini salah, kamu itu calon kakak iparku, aku mau pulang kak." Ucap Kisya dengan air mata yang terus menetes. Jino merasa frustasi melihat wajah kisya yang bergitu sedih.
Kisya menidurkan Baby Vano di sofa dan Kisya berjalan menuju pintu keluar.
Jino melihat baby Vano menangis. Jino segera menggendong baby Vano karena Tangisanya semakin nyaring. Sedang kita kini sudah berlari ke arah pintu keluar.
"Sayang tunggu!...
Teriak Jino merasa frustasi.
Kisya berhenti di depan pintu keluar. Seraya berkata.
"Kak kita berhenti sampai di sini saja, aku tidak bisa selalu bersamamu, aku sangat takut tidak bisa lepas darimu jika kita masih selalu bersama seperti ini, kamu tau aku begitu mencintaimu, aku bahkan rela berbuat apapun demi cinta kita, tapi semua ini kesalahan kak, aku tidak bisa melanjutkan kesalahan ini." Ucap Kisya dengan lirih.
Jino tersentak mendengar ucapan Kisya. Kisya berkata dengan mulut yang bergetar. Dan itu membuat Jino sangat sakit. Rasanya hati jino seolah tercabik. Ucapan kisya pelan tetapi bisa menghancurkan hati Jino .
Kisya masih terdiam dengan Isak tangisnya. Baby Vano masih menangis menjerit jerit. Bayi itu tahu bahwa orang tua nya sedang dalam kondisi yang sensitif. Jino mencoba menenangkan baby Vano. Dia menggendong sambil mengayunkan agar bayinya bisa berhenti menangis. Namun baby Vano malah semakin kencang menangis.
Kisya terisak dan hatinya begitu sakit. Dia tak ingin berpisah dengan Jino bahkan dengan baby Vano. Tatapi suara Rasya barusan seolah memperingati nya agar tidak terlalu terlena. Ini hidupnya yang nyata, bukan sebuah mimpi. Dia harus melihat kenyataan pahit karena cintanya tidak bisa bersatu. Untuk menyatukan cinta mereka butuh air mata beberapa orang yang menyayanginya. Dan kisyabyak sanggup melakukan hal itu.
"Jangan salahkan cinta kita." Ucap Jino perlahan. Jantung Kisya masih berdegup, gantinya memanas. Dan selalu tubuhnya tak bertenaga lagi.
"Aku mencintaimu kak, tolong aku agar bisa menjadi orang baik, aku tidak mau menyakiti siapapun!.. Kisya masih dengan Isak tangisnya.
"Aku juga mencintaimu sayang, tolong jangan seperti ini ,jangan tinggalkan aku dan anak kita ." Ucap Jino tanpa sengaja menyebutkan ucapan anak kita.
Kisya tersentak. Dia berbalik dan menatap baby Vano dengan mata yang basah.
__ADS_1
"Baby Vano, sayang." Kisya menangis meraung Raung melihat bayi yang kini sedang dalam kondisi mengamuk . Hatinya sakit melihat bayi itu menjerit. Langkah kisya perlahan menuju ke arah Jino dan baby Vano. Jino hampir meneteskan air matanya. Matanya sudah memerah dan sembab. Helaan nafas berat Jino lontarkan untuk menahan semua gejolak sakit dalam hatinya.
Kisya mengambil alih baby Vano dalam peluknya. Lalu mengecup lembut penuh kasih sayang. Seperti sebuah sihir. Kisya membuat bayi yang mengamuk itu terdiam seketika.
"Dia bahkan tau mana ibunya." Ucap Jino dalam hatinya. Tak kuat menahan rasa sesak yang menumpuk dalam dadanya. Dia merasa sangat kasihan pada baby Vano ketika Kisya memutuskan akan meninggalkan mereka.
"Maafkan aunty sayang." Kisya berbisik lembut sambil mengecup kening sang bayi tampan itu.
Jino menelan Saliva dengan sangat sulit. Jino mengambil kunci mobilnya dan berjalan menghampiri Kisya dan buah hatinya.
"Ayo aku antar pulang...!
Ucap Jino dengan berat hati harus mengantar Kisya pulang ke rumahnya. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan kisya tadi. Tetapi dia juga harus menghargai keputusan Kisya. Kisya mengangguk dan mengekor pada Jino. mereka sampai di sebuah tempat parkir apartemen. Jino mempersilahkan Kisya masuk dan duduk. Jino masuk ke dalam mobil dan mulai memacu kendaraannya.
Di dalam mobil tak ada satupun kata yang mereka ucapkan. Kisya masih menatap Baby Vano penuh kasih sayang. Mata redup sang bayi yang merah sehabis menangis itu membuat Kisya begitu pedih. Karena dia bayi itu sampai menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Kisya merasa bersalah pada bayi tak berdosa itu.
Kini sampailah mereka di halaman mansion kediaman kisya. Jino lalu menelepon supirnya agar cepat ke mansionya Kisya. Karena Jino tak bisa menyetir sambil menjaga bayi.
Mereka masih terdiam dalam kesunyian. Jino lalu mengambil alih baby Vano dalam peluknya. Sesaat Jino menatap mata kisya yang basah. Dan Kisya hanya bisa terdiam. Hanya diam dan diam. Kisya masih duduk di jok mobil Depan tanpa beranjak. Dia seolah tidak mau turun dari mobilnya Jino. Tubuh kisya bergetar menahan tangis. Dia sudah banyak menangis.
"Selamat tinggal kak." Ucap Kisya sambil menatap Jino dengan mata basahnya. Jino pun mengangguk. Tanpa berucap sepatah katapun. Kisya lalu memeluk Jino tanpa segan.
"Ini untuk terakhir kalinya." Ucap Kisya bersbisik lembut. Sontak membuat Jino tak bisa lagi menahan tangisnya. Air mata Jino jatuh ketika mendengar ucapan terakhir kalinya. Hatinya tercabik dan bagai tertusuk ribuan pedang. Sakit yang tak bisa dia ucapkan saking sakitnya dia hanya bisa diam dalam kebisuan.
"Iya love you." Ucap Kisya pelan dan Kisya melepaskan pelukanya. Dia keluar dari mobil dengan hati yang perih. Hatinya seperti hancur karena terbakar . Dia berjalan pun seolah melayang.
"Dari mana saja Kis?..
Suara yang khas yang sangat dia kenal sontak membuat jantungnya seraya berhenti.
__ADS_1
Bersambung.