Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
ILU


__ADS_3

Terdengar Isak tangis Kisya dalam peluk Jino. Jino terkejut mendengar tangisan pilu wanita yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya.


"Ada apa, kenapa menangis?...


Ucap Jino sambil menyeka air mata Kisya dengan jemarinya .


Kisya masih menangis dan tidak menjawab ucapan Jino. Dia memeluk erat tubuh kekar itu seolah tak mau melepaskan dan tak mau berpisah dengan Jino.


"Jangan menangis lagi, aku tidak tahan mendengarnya!!!..


"Kak."


"Iya , aku disini."


"Kak."


"Iya sayang."


Ucap Jino Dengan penuh kasih sayang.


"Kak, kak Jino ."


Kisya masih menangis dengan lirih. Jino memeluk Kisya dengan erat dan mengecup kening kisya dengan sangat lembut.


"Ada apa?...


"Kak, aku, aku."


Tangis Kisya semakin lirih.


"Stt jangan bicara lagi, aku tau semua, ternyata perasaan kita sama."


Jino mengeratkan pelukannya .


"Malam ini tolong peluk aku dan jangan lakukan apapun, aku ingin kakak memeluku !.. Isak Kisya.


"Sayang, sudah jangan menangis, tangisanmu membuat hatiku sakit."


Jino merasa tak berdaya melihat Kisya Masi pilu dengan Tangisanya.

__ADS_1


"Kamu sangat populer di kepalaku. Bahkan saat aku tidur, kepalaku tetap disibukkan olehmu. Karena kamu selalu singgah dalam mimpiku.” Ucap Kisya dengan tangisan lirihnya.


Jino menelan Saliva dan menghela nafas beratnya.


"Terkadang aku merasa kesepian,


Tapi semakin lama aku merasa sepi,


Semakin terbiasa aku berteman sepi. Bagiku, rasa sepi hanyalah rasa yang datang sementara. Ia pergi begitu ada yang mengisi. Tak ada pilihan lain selain menerima sang pengisi. Karena sang pengisi Berhak mengusir rasa sepi. Dengan bangga aku menyembunyikan rasa cintaku. Bukan karena aku malu. Bukan karena aku tak mau,


Melainkan aku ragu. Ragu tuk menyatakan perasaanku padamu." Ucap Jino dengan mata yang berkaca-kaca .


Kisya semakin menangis mendengar ucapan dari pria yang kini sudah menguasai seluruh jiwanya. Dia mengeratkan pelukanya dan bulir air matanya menetes membasahi dada jino. Helaan demi helaan terdengar sangat jelas. Berat dan sangat sakit.


"Kak."


"Iya."


"Bisakah kita tetap selalu begini malam ini".


Kisya masih terisak.


Jino mengecup pelipis Kisya dengan lembut.


"Bahkan aku tidak ingin Tertidur kak, aku takut pagi segera datang, setelah pagi itu datang, maka aku akan menganggap semua ini adalah mimpi, dan rasa cintaku padamu juga hanyalah mimpi."


Jino merasa tercabik mendengar ucapan dari wanita yang sedang dia peluk itu. Jino tersadar bahwa mereka memang tidak bisa bersama. Jino baru teringat bahwa kisya adalah adik iparnya. Tak terasa air mata Jino menetes, dadanya terasa amat sesak. Rasa sakit mengelilingi hatinya. Seolah seseorang telah meremas hatinya dan menguras seluruh darahnya.


Kisya Masi menangis dengan lirih dalam pelukan Jino. Dan Jino menahan segala semua rasa sakitnya mencoba untuk bertahan dan menjadi kuat. Dia tak boleh lemah di hadapan wanita ini. Jino harus bisa menjadi kuat dihadapan seseorang yang kini harus dia jaga seumur hidupnya.  Saat ini Takdir memang  tidak memilih mereka sebagai pasangan, walau mereka saling mencinta dan membutuhkan kebersamaan untuk meluapkan rasa rindu mereka. Mereka harus bisa menerima kenyataan pahit bahwa mereka tidak bisa bersama.


Jino menarik nafas berat. Menelan Saliva dan mencoba menjaga pertahanan dari tetesan air mata. Tak boleh dia menangis dia harus kuat dan harus bisa diandalkan. Demi wanita yang sedang dia peluk, demi wanita yang kini sangat dia sayangi.


"Tak pernah ku sangka bahwa hari ini tiba, hari dimana aku mencintaimu, dan perasaan ini sangat besar, aku tidak menyangka bahwa kamu gadis yang ternyata bisa membuat hatiku sakit senang bahkan merindu, Kisya I love you." Ucap Jino dengan menahan semua tangisnya. Dia tak boleh setespun meneteskan air mata lagi. Dia tak mau terlihat lemah di hadapan kisya.


"Kak."


Tangis Kisya dengan sangat melirih.


Jino mengecup kening kisya dengan sangat lembut. Mengusap air mata yang membasahi pipi manisnya. Mata yang indah seperti manik mutiara itu kini basah dan memerah. Mata Jino sudah memerah tak tega rasanya dia melihat Kisya begitu tersakiti karena keadaan.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, tak cukupkah kamu mendengarkan bahwa aku mencintaimu."


Ucap Jino serak menahan rasa panas dalam dadanya. Batin bergejolak dan merasakan hatinya begitu perih.


"Jangan katakan itu lagi, kata-kata cinta dari kakak membuat hatiku semakin sakit , aku merasa menjadi orang yang sangat jahat untuk dia kak, untuk kak Jeff , karena perasaan ku terhadap dia sudah berubah, dan kini aku baru tau aku berubah karena kakak, itu membuat aku semakin sakit dan merasa bersalah untuk kak Jeff."


Kisya masih menangis dengan pilu . Seolah air matanya tak kunjung habis.


"Kali ini aku tak bisa lagi hanya berdiam diri, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Kis."


Jino merasa sesak mengingat bahwa dirinya telah berbuat salah pada Kisya membuat Kisya dilema akan perasaanya.


"Iya aku tau kakak mencintai ku, aku juga cinta sama kakak, tapi perasaan cinta kita sebuah kata-kata yang tak mungkin bisa terwujud. Kita tak mungkin bisa bersama kak ."


"Aku tau itu, aku tau kita tak mungkin bisa bersama, tetapi aku akan selalu mencintaimu Kis, malam ini adalah malam terindah selama kita bersama, aku bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Tetapi aku tak mungkin. Bisa menggapainya."


Dengan sekuat tenaga Jino menahan air matanya agar tidak menetes.


Tangis Kisya semakin melirih. Air matanya terus mengalir dan membuat dada jino semakin basah.


Kisya melihat ke arah Jino dan kini terlihat mata Jino sudah sangat merah. Kisya kembali memeluk Jino dengan sangat erat. Dan Jino pun hanya bisa mengelus rambut Kisya dengan lembut. Sesekali Jino mengecup pilipis Kisya dengan penuh rasa cinta. Dan Kisya pun hanya bisa memejamkan mata dengan tetesan air mata yang tak kunjung berhenti.


"Jangan menangis lagi sayang, jangan membuat pertahananku goyah.'


Jino memeluk Kisya dengan lembut. Dan Kisya masih dalam posisi nyaman tidur di atas dada jino.


"Oek oek oek."


Suara tangis bayi membuat kedua hati terbangun dari mimpi buruk mereka. Kisya langsung terbangun dan menghampiri bok bayi. Sebelum menggendong baby Vano Kisya menyeka air matanya dan langsung menggendong bayi yang sangat dia sayangi.


Jino bernajak dan kini berjalan menghampiri Kisya dan bayinya. Jino memeluk Kisya dari belakang. Kisya tersipu dengan wajah yang memerah karena Jino mengecupnya di daerah leher belakangnya.


"Baby Vano, lihat Daddy sm mommy bersama, apa kamu senang?..


Ucap Jino dalam hatinya sambil menatap buah hatinya yang mengisak selesai menangis.


Bersambung❤️


__ADS_1


__ADS_2