
Siang yang begitu terik. Saat itu Jino begitu sibuk dengan berkasnya yang sangat banyak. Setumpuk berkas harus dia selesaikan hari ini juga. Semuanya harus dia cek tanpa terkecuali. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu dan masuk. Ternyata orang itu adalah James.
"Siang bos!" Sapa James.
"Kamu bisa disini, istriku bagaimana?" tanya Jino dengan kecemasannya. Dia khawatir jika istrinya di tinggal sendirian tanpa penjagaan.
"Bos, istri anda hari ini tidak masuk kuliah, dia ada di rumah dengan beberapa penjaga. Saya di sini mau melaporkan banyak hal kepada anda!" tutur James.
"Ada apa, apa itu kabar baik?" Jino menatap James dengan tajam.
"Untuk beberapa kasus saya bisa membuat anda senyum, tetapi ada yang membuat anda kesal."
"Katakan dengan cepat, jangan bertele-tele!"
"Sekali lagi saya meminta maaf untuk kasus percobaan penabrakan Nyonya, sampai saat ini kami tidak bisa mencari barang buktinya sama sekali."
"Ah, apa saja kerjamu, aku menbayarmu mahal!" Bentak Jino.
"Maaf bos, untuk kasus paket juga kami tidak bisa melacak orang tersebut, sekali lagi maaf bos!"
"Bego!" Bentak Jino merasa sangat kesal. Jino yakin ada orang dalam yang membantu orang itu menyembunyikan barang bukti. Tangan Jino mengepal dan dia begitu marah.
"Maaf bos, tetapi untuk kasus wanita bernama Rebeka, kami sudah menemukan titik terang."
"Apa itu?" Jino menatap James penuh harap.
"Ternyata Rebeka adalah anak dari panti asuhan dan dia datang kemarin karena suruhan dari seseorang, dan orang itu adalah temannya Nyonya Kisya."
"Apa, teman Kisya?"
"Iya bos, dia kemaren sepulang dari sini langsung pergi ke sebuah panti , setelah itu dia langsung datang ke rumah seorang anak pejabat di negara kita."
"Anak pejabat?" Jino mengerutkan keningnya.
"Iya, Rebeka datang kesana dan sesuai dugaan Rebeka pulang kembali setelah di beri uang. Kami memantau dari kejauhan, dan kami melihatnya saat wanita itu memberi Rebeka segepok uang. Di perjalanan kami langsung membekap Rebeka. Sayangnya Rebeka tidak mau mengakui." Tutur James.
"Brengsek!" umpat Jino merasa sangat geram.
"Karena itu kami dengan segera melapor ke kantor polisi tentang pencemaran nama baik, sesuai dengan yang anda katakan."
"Bagus, apa sudah ada jawaban dari pihak kepolisian?"
"Sayangnya tidak ada respon!"
"Apa?"
"Iya bos, apa tidak sebaiknya bos sendiri yang melapor agar mereka merespon?" ucap James.
"Aku tidak bisa kesana, karena akan ada banyak wartawan meliput!" ucap Jino merasa sangat kesal. Dia berfikir dengan sangat keras. Apakah memang dirinya harus datang sendiri ke kantor polisi untuk melaporkan pencemaran nama baiknya. Jino kini hanya bisa diam dengan seribu kekalutannya.
__ADS_1
"Iya saya mengerti bos."
"Tapi jika sampai seminggu ini pihak kepolisian masih tidak ada respon, maka aku akan datang kantor polisi." Ucao Jino sambil berfikir dengan keras. Kenapa bisa belum ada respon dari pihak kepolisian. Bahkan dirinya adalah orang terpandang.
"Baiklah bos kalau begitu saya pergi dulu!" ucap James dan Jino hanya mengangguk saja. Setelah James pergi. Jino semakin berfikir tentang wanita yang bernama Rania. Bukankah dia adalah temannya Kisya. Kenapa bisa menyuruh orang untuk merayu suami temannya sendiri. Jino terdiam dengan pikiranya. Lalu dia mengingat Lintang.
Dengan segera dia mengambil ponselnya dan menelepon Lintang dengan cepat.
"Hallo."
"Hallo, eh kak ada apa?" Tanya Lintang sedikit heran, tidak biasanya Jino menelepon dirinya.
"Lintang, apa kamu sibuk?" Tanya Jino.
"Hmm sedikit sih, aku sibuk dengan aktivitasku sebagai seorang ibu."
"Hmm, bayimu cantik sekali, aku melihatnya di ponsel Kikis." Jino tersenyum kecil.
"Terimakasih, dia cantik karena aku cantik!"
"Iya, dia sangat mirif dengan kamu."
"Hmm kak ada perlu apa menelepon aku, tidak biasanya, sudah lama Kita bahkan tidak bertegur sapa!" Ucap Lintang.
"Begini Lintang, ada yang ingin aku pertanyakan, aku yakin kamu tau sesuatu hal."
"Apa iyu kak?" Lintang merasa heran.
"Hahz si Raniapun curut itu?" Lintang berteriak terkejut.
"Loh, aku kan belum bercerita apapun, kenapa kamu sudah terkejut saja?" Jino terkekeh.
"Ehhmm , karena aku tidak suka dengan dia kak."
"Betulkah?"
"Iya betul."
"Berarti kalian tidak akrab dong?"
"Jelas saja tidak, akrab dari mananya, dia selalu iri terhadap kedekatan aku dan Kisya, ah, aku sebal padanya." Ucap Lintang dengan kekesalannya.
"Oh jadi begitu."
"Iya kak, ada apa, kenapa tiba-tiba bertanya soal dia?"
"Ini karena gadis yang bernama Rania itu telah berani membuat masalah Denganku."
" Maksud kakak apa, apa yang telah wanita itu perbuat kepadamu,?"
__ADS_1
"Dia telah mengutus seorang wanita untuk datang ke kantor dan menggodaku."
"Apa, kapan itu?"
"Kemarin, dan untungnya Kisya tidak percaya dengan ucapan wanita jalang itu." Jino masih saja kesal mengingat kejadian kemarin.
"Yatuhan, brengsek sekali si Rania itu, apa tujuannya, aku sangat penasaran," ucap Lintang.
"Tujuanga jelas, Rania ingin membuat aku dan kisya bertengkar."
"Brengsek." Lintang mulai geram kepada si Rania. Dia sangat marah dan rasanya ingin sekali mengamuk.
"Apa kalian bermusuhan?" Tanya Jino.
"Tidak juga, kami biasa saja kok!"
"Aku ingin sekali tahu apa yang membuat dirinya berani mengusik ketenangan rumah tanggaku bersama Kisya?"
" Itu layak di selidiki kak, aku akan membantu."
"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya, terimakasi atas tawaranmu!"
"Baiklah kalau begitu, aku yakin kakak akan bisa mengetahui dengan cepat, kalau butuh bantuan apapun, tolong jangan sungkan ya!" Ucap Lintang.
"Baiklah, terimaksih banyak Lintang!"
"Sama-sama kak, kalo begitu kita tutup saja teleponnya ya, bayiku menagis."
"Oh, iya," lalu Jino menutup sambungan telepon selulernya itu. Jino kembali berfikir keras. Apa maksud awal dari semua ini. Siapa gadis yang bernama Rania. Kenapa dia berencana membuat hubunganya Dengan Kisya berantakan. Padahal mereka tidak ada masalah apapun. Bahkan Kisya dan Rania baik-baik saja.
Jino merasa pusing memikirkan itu semua. Lalu Jino menatap foto pernikahannya dengan Kisya. Tiba-tiba aura kesejukan datang padanya, padahal cuma melihat foto saja sudah membuatnya senang. Sebuah foto dirinya dan sang istri Dengan menggunakan gaun pengantin. Kini Jino tersenyum dengan manis.
Dia merasakan sebuah kerinduan kepada sang istri. Lalu Jino melihat mejanya masih penuh dengan berkas yang harus dia periksa.
"Aku harus segera menyelesaikan ini semua, agar bisa cepat pulang, aku sungguh sangat merindukan wanita polos itu." Ucap Jino dalam hatinya. Lalu Jino dengan segera memeriksa berkas itu satu persatu. Kerinduanya sudah sangat memuncak. Sehingga dia sudah tidak sabar ingin memeluk dan mencium sang istri kesayangannya.
Sampai akhirnya adzan magrib telah berkumandang. Jino baru bisa menyelesaikan semua pekerjaannya. Dan akhirnya dengan segera Jino pulang.
🌺 Bersambung 🌺
🌺🌼Catatan kecil Author.
Hallo sahabat Jino dan Kisya. Sampai sini apakah kalian sudah merindukan kehadiran Jeff?
Atau mungkin kalian ingin Jeff menghilang?
Pasti akan ada dua jawaban.
Ehhm... Setelah membaca kalian tidak lupa tekan jempol kan, dan aku lihat yang membaca masih sangat banyak, antara 50rb per harinya.. tetapi yang menekan jempol cuma 500 san😂😂. Jangan lupa jempol dan rating ya. Agar Jino masih bisa tampil dan terlihat. Terimakasih banyak, salan sayang dariku.
__ADS_1
Evangelin_harvey / Lee.