Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Bonus 5


__ADS_3

Koki di rumah Jino dan Kisya kini sudah mempersiapkan beberapa makanan untuk sarapan Tuan dan Nyonya besarnya. Mereka memasak hanya dalam lima menit saja. Karena perintah Jino masakan harus selesai selama lima menit. Setelah itu mereka bersiap untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar.


Tiba-tiba saja Baby Vano berjalan mengikuti koki tersebut di belakang. Bayi itu sudah mengetahui bahwa kokinya akan membawa makanan ke kamar Daddy-nya.


"Eat uncle?" tanya bayi itu dengan begitu menggemaskan. Tidak tahu Bibi pengasuh sedang berada di mana, karena Baby Vano bahkan kini menaiki tangga sendirian. Dengan perlahan-lahan bayi atau balita berusia dua tahun setengah itu kini sudah sangat pandai naik tangga. Walaupun memang yang melihat akan merasa ngeri dan ketakutan.


"Ya Tuhan, Tuan Muda kenapa ikut naik kemari. Nanti kamu jatuh!" Koki tersebut merasa terkejut melihat Baby Vano mengikutinya dari belakang. Ada dua koki di situ saat itu. Satu koki cepat berlari menyimpan makanannya lalu menggendong Baby Vano agar bisa menaiki tangga bersamanya.


"Daddy uncle, Daddy,"kata Baby Vano sambil menunjuk ke arah kamarnya Jino dan Kisya. Baby Vano sampai saat ini belum mengetahui bahwa Mommy kesayangannya sudah pulang ke rumah dan sudah dua hari satu malam berada di rumahnya.


"Iya. Ayo kita masuk ke dalam ya. Biar Uncle gendong, nanti kalau tidak Uncle gendong Tuan Muda akan terjatuh. Dan lain kali jangan sekali-kali berjalan di tangga sendirian. Kalau terjatuh nanti Tuan Muda akan sakit dan berdarah, apa Tuan Muda mau berdarah?" kata koki itu sambil menggendong Baby Vano dengan begitu perhatian. Lalu mereka pun sudah menaiki tangga dan koki tersebut melepaskan Baby Vano dari gendongannya. Dia benar-benar merasa bahwa Baby Vano sudah mengerti bahwa ibunya ada di dalam kamar itu.


Di sisi lain Jino yang sedang duduk sambil menyalakan televisi-nya. Sedangkan Kisya berusaha untuk bangun dan mencoba membereskan pakaian yang sudah bertebaran dimana-mana. Wanita itu hanya mengenakan handuk tipis aja dan kini membersihkan beberapa tisu yang sudah Jini lempar dan Jino buang sembarangan.


Tidak mungkin kan Kisya membiarkan koki masuk ke dalam kamarnya dalam kondisi kamar yang acak-acakan dan berantakan penuh dengan tisu basah bekas mereka saat mereka bercinta. Jika terlihat orang lain itu bahkan akan sangat memalukan. Karena itu walaupun badan kisya lemas, tubuhnya seperti tak bertulang dan tenaganya hampir saja kehilangan semua energinya. Dia berusaha untuk membuang semua tisu-tisu tersebut dan merapikan baju yang bertebaran di atas lantai itu.


Setelah bersih Kisya pun lalu kembali tidur diatas kasur empuknya. Karena dia memang benar-benar merasa kelelahan dengan apa yang terjadi pada kesehariannya selama dua hari satu malam. Memang saat itu mereka berjuang dan berusaha sangat keras.


"Tidak terasa ya ternyata sudah jam 11 siang saja," kata Jino sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang. Kisya benar-benar tidak menyangka. Ternyata sudah siang saja. Lalu Jino pun terbangun dan membuka gorden yang menutupi jendela kamarnya.

__ADS_1


Lalu setelah itu dia kembali tidur dan memeluk tubuh mungil istri kesayangannya.


"Sebentar lagi koki akan datang. Nanti Dad saja yang membuka pintunya ya!" kata wanita itu sambil memejamkan matanya, karena ingin tertidur kembali. Rasa lelah selalu saja datang bukan tanpa alasan. Tapi karena rasa lelah itu hinggap setelah mereka bercinta semalaman dan membuat Kisya benar-benar merasa tubuhnya lemah tak berdaya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat Jino tersenyum. Karena itu pasti adalah koki yang sudah membawa makanannya. Makanan yang sudah disiapkan oleh koki tersebut hanya dalam waktu lima menit saja.


"Tunggu sebentar!" ucap Jino sambil beranjak dari tempat tidurnya. Kali ini pun dia hanya mengenakan handuk sepinggang saja. Dia berjalan mendekati pintu dan membuka pintu kamarnya.


"Daddy-Daddy, Daddy-kuuu," teriak Baby Vano sambil memeluk kaki Jino dengan begitu erat. Pria itu tersenyum melihat kedatangan Putra kesayangannya. Dan pria itu langsung menggendong Baby Vano dengan penuh kasih sayang. Mengecupnya dengan penuh kelembutan. Lalu Baby Vano pun tersenyum begitu riang dan gembira melihat Daddy-nya sudah terbangun.


"Tuan saya sudah menyiapkan semua menu yang ada pesan. Kalau begitu kami undur diri dulu!" kata koki tersebut sambil tersenyum kearah Jino lalu mereka pun pergi setelah melihat anggukan dari Jino. Jino kembali Mengunci pintu kamarnya.


"Tahu tidak, ada seseorang di dalam kamar ini yang sangat kamu rindukan Baby," kata Jino berbisik kepada Baby Vano. Baby Vano mengerutkan dahinya dia melihat kearah sang Daddy-nya dan benar-benar ingin mengetahui siapa orang tersebut yang kini berada di kamar Daddy-nya.


Kisya sendiri sudah mengetahui bahwa Baby Vano kini sedang ada di dalam ruangan tersebut, dengan segera ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dia berniat untuk mengejutkan putra kesayangannya. Sebetulnya dia sudah sangat merindukan buah hatinya tersebut. Tetapi dia ingin memberi kejutan kecil untuk si buah hati.


"Siapa dia siapa siapa?" Baby Vano bertanya kepada Jino. Dia ingin mencari tahu siapa orang yang di maksud karena bayi itu tidak bisa menebak sama sekali.

__ADS_1


"Tentu saja orang yang sangat kita rindukan!" Jino menggendong Baby Vano dan membawanya untuk duduk di atas kasur empuk kesayangannya. Lalu Jino pun melepaskan Baby Vano dari gendongannya. Setelah itu Baby Vano lalu berdiri dan menaiki kasur tersebut. Baby Vano melihat seseorang tidur berkerumun selimut.


Anak kecil itu berusaha untuk membuka kerumunan selimut tersebut, karena balita itu begitu penasaran. Siapakah orang yang berada di balik selimut tersebut.


Kisya hanya terdiam di dalam selimut. Dia sudah berdebar dan bergetar ingin segera memelukmu buah hati kesayangannya. Tetapi dia ingin mengejutkan anaknya. Karena itu dia harus bersabar sampai Baby Vano bisa membuka selimutnya.


"Siapa?" ucap Baby Vano kepada sang Daddy yang kini sedang menatapnya.


"Open the blanket, Ayo buka selimutnya!" ucap Jino kepada buah hatinya dengan menorehkan senyum yang manis penuh kebahagiaan.


"Oke Dad," Balita itu mengangguk sambil membuka selimut yang telah menutupi tubuh Kisya.


Selimut itupun dengan mudah bisa Baby Vano buka dan kini telah terlihat seorang wanita yang telah nenutup wajahnya dengan kedua tangan. Baby Vano merasa kebingungan lalu Baby Vano pun mencoba melepaskan tangan yang menutupi muka tersebut.


"Surprise...." ucap Kisya sambil membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya, dan itu membuat Baby Vano menangis karena terkejut dan senang.


"Hu hu hu Mommy, Mommy," Balita itu menangis dan berteriak memanggil Mama nya. Dengan segera Kisya mendekat dan memeluk balita kesayangannya tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


Halo selamat pagi, terimakasih masih setia membaca Jino dan Kisya ya. Jangan lupa kasih bintang jenpol dan Vote ya untuk Jino dan Kisya. Dan ayo masuk grup biar bisa ngbrol dan sharing.


__ADS_2