Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Cemas


__ADS_3

BRUGGH.


Kisya terjatuh. Seseorang menarik tangan Kisya dengan sangat cepat ketika mobil itu hampir saja menabrak dirinya.


"Ahh, aw." Kisya kesakitan. Sikutnya agak berdarah. Dia melihat seseorang di sampingnya. Dia tergeletak bersamanya.


"Sayang." Ucap Kisya menatap Jino.


"Untung aku segera datang!" Ucap Jino menghela nafas lega.


"Ada apa?" Kisya masih terkejut.


"Mobil tadi ingin menabrakmu, sepertinya itu di sengaja!" Ucap Jino mencoba bangun. Lalu membantu sang istri untuk bangun pula.


"Kepalaku pusing yang!" Ucap Kisya.


"Apa ada yang terluka?" Jino merasa sangat cemas. Kisya menunjukkan ke arah siku tanganya saja. Lecet dan sedikit berdarah. Jino begitu mencemaskan Kisya sampai Jino sendiri tidak menghiraukan kepalanya yang terluka. Kisya sesaat melihat Jino dan terkejut melihat darah menetes dari kepala Jino.


"Da, Darah!" Ucap Kisya terkejut.


"Apa?" Ucap Jino.


"Kepala kakak berdarah!" Kisya merasa sangat cemas.


"Oh ini, tidak apa-apa, ayo kita bangun dulu." Jino dan Kisya bangun lalu mereka berjalan terpincang pincang. Semua teman-teman Kisya melihat kejadian dan mereka sangat terkejut. Mereka menyarankan Jino dan Kisya agar di obati duku di ruang kesehatan. Namun Jino menolak. Jino merasa baik-baik saja.


Mereka akhirnya duduk di dalam mobil. Jino dan Kisya duduk dengan hening. Jino masih merasa cemas dan takut karena tadi melihat Kisya hendak di tabrak oleh sebuah mobil. Jino merasa ada yang tidak beres.


"Sayang, apa kamu punya musuh?" Tanya Jino pelan.


"Engga yang, aku tidak pernah punya musuh!" Kisya menggeleng kepalanya.


"Aku melihat kejadian tadi dengan jelas. Mobil itu sengaja mengarahkan kemudinya ke arah kamu sayang, dia dengan jelas ingin melukai kamu!" Ucap Jino dengan kecemasanya yang teramat sangat.


"Ah, aku ceroboh malah berjalan terlalu tengah mungkin kak!"


"Tidak ko, aku lihat kamu berjalan di pinggir, dan mobil itu sengaja mengarahkan kemudinya kepadamu, sengaja ingin menabrakmu, sayangnya aku tidak sempat mencatat nomor polisi mobil tersebut." Ucap Jino dengan kening yang mengkerut. Jino khawatir pada keselamatan sang istri. Entah apa yang akan Jino lakukan untuk kedepannya.


Jino tidak mau istrinya kenapa-napa. Bahkan terluka. Itu hal yang sangat jino takutkan. Jino terus berpikir.


"Kak, kenapa?" Tanya Kisya.


"Sayang, apa sebaiknya aku menyewa pengawal untuk keselamatan kamu!" Ucap Jino sambil menatap Kisya dengan sangat tajam. Tatapan penuh dengan kecemasan. Jino takut sekali jika seseorang melukai istri kesayanganya.


"Ah, jangan, aku kan bukan artis atau pejabat, kakak sayang, tadi itu siapa tau hanya faktor ketidak sengajaan!" Ucap Kisya.

__ADS_1


"Kamu bukan artis atau pejabat, tetapi kamu itu adalah hidupku!" Ucap jino sambil menggenggam tangan sang istri dengan sangat lembut. Jino merasakan sebuah hawa ketakutan dalam dirinya. Dia merasa sangat tidak tenang membiarkan istrinya sendirian. Dia sendiri tidak bisa selalu menjaga Kisya setiap saat. Karena dirinya harus pergi ke kantor untuk bekerja.


"Aku tidak akan kenapa-napa sayang, jangan terlalu mencemaskan itu!"


Ucap Kisya sambil memberikan sebuah senyuman manis kepada suaminya.


"Yasudah kita bahas nanti saja, ayo kita ke kantor!" Ucap Jino.


"Untuk apa?" Ucap Kisya.


"Temani aku bekerja, aku tidak mau jauh darimu sayang!" Jino menorehkan senyum manisnya.


"Apa ini?... Manjanya!" Ucap Kisya terkekeh. Dan Jino pun hanya tersenyum. Jino lalu melajukan kendaraanya dengan cepat menuju ke kantor. Seampainya di kantor semua pegawai menatap kedatangan Jino dan Kisya. Pasalnya kondisi luka di kepala jino masih mengeluarkan darah walau cuma sedikit. Mereka juga memperhatikan tangan ksiya yang lecet.


"Yatuhan pak, kalian kenapa?" Ucap Angel terkejut.


" Kami kecelakaan, angel bawa kotak obat!" Jawab Jino datar. Jino masih menggandeng tangan sang istri dengan mesra. Lalu mereka masuk ke ruangan kerja Jino. Jino duduk di sofa dan kisya lalu mencuci tangannya yang luka. Angel datang membawa kotak obat. Dengan segera kisya mengobati luka Jino. Jino masih memikirkan hal yang tadi. Pikiranya menerawang jauh. Jino yakin orang itu adalah orang yang sama dengan yang mengirim kisya sebuah pesan.


"Sayang."


"Hmm ." Jawab kisya.


"Ada kejadian apa di kampus tadi?" Ucap Jino.


"Adakah yang mendekatimu dan berbicara kepadamu?"


"Jelas saja ada, aku kan berbicara dengan banyak orang yang!" Ucap Kisya.


"Maksudku, orang yang tidak menyukaimu?"


"Hmm, aku tidak tau pasti sih, tapi tadi Rania, dia mulai membicarakan soal hubunganku dengan kak Jeff." Ucap Kisya pelan.


"Rania, dia siapa?" Jino merasa heran.


"Dia temanku tetapi dia sepetinya tau banyak tentang aku dan kak Jeff!" Ucap Kisya pelan.


"Tahu banyak?" Jino bertanya.


"Iya, dia tahu banyak soal pernikahan ku bersama kak Jeff!"


"Apa, mana mungkin, bahkan hanya keluarga saja yang tahu soal itu, orang luar tidak mungkin tahu!" Jino merasa terkejut. Pasalnya tidak ada orang luar satupun yang tahu masalah itu. Jino semakin berpikir bahwa rania adalah dalang dari semuanya.


"Rania bilang, dia tau dari kak Jeff!"


"Tidak mungkin, Jeff tidak mungkin berkata seperti itu kepada orang lain, aku tau Jeff sedari kecil, dia tidak mudah akrab denga orang baru, dan dia takkan mengumbar aib keluarga?" Ucap Jino.

__ADS_1


"Aib keluarga?" Kisya heran dengan ucapan Jino.


Jino keceplosan. Dia menelan saliva dan langsung tersenyum untuk mengalihkan pembicaraan.


"Seumpamanya sayang!" Ucap Jino lalu mengecup kening dang istri dengan sangat lembut. Kisya memejamkan matanya ketika Jino mengecupnya.


"Sini duduk!" Jino menyuruh kisya untuk duduk di pangkuannya. Kisya tersenyum dengan malu tetapi dia langsung duduk di pangkuan sang suami. Mereka berdua tersenyum dalam sebuah kemesraan.


Mereka lalu tertawa begitu senang. Sebuah ikatan suci kini telah mengikat mereka. Tidak ada lagi yang melarang mereka untuk bersama. Jino lalu mengecup kening sang istri dengan lembut. Lalu Jino mengecup bibir mungil itu dengan penuh kasih sayang. Kisya tersenyum begitu manis. Jino seraya mabuk oleh senyum Kisya yang sangat cantik. Senyum Kisya melebihi indahnya mawar yang mekar. Itu semua membuat Jino begitu mabuk.


"Sayang." Ucap Jino lembut.


"Hmm."


"Sayang." Jino sekali lagi menyapa Kisya.


"Kenapa sayang?" Ucap kisya dengan senyuman manisnya.


"I love you." Ucap Jino dengan tatapan elangnya. Sedang Kisya hanya tersenyum dengan malu. Tidak ada kata yang Kista ucapkan. Kisya hanya terus tersenyum sambil memandangi wajah tampan sang suami.


"I love you." Sekali lagi Jino berkata. Jino lalu kembali mengecup bibir sang istri tetapi tiba-tiba saja seseorang datang.


🌺 bersambung 🌺


Catatan kecil author.


Hai selamat siang sahabat. Ga terasa ya udah eps 152lagi.. mau tanya nih, apa mau lanjut atau saya tamatkan besok?


Kalo mau lanjut aku lanjutkan, tetapi kalo mau tamat, aku tamatkan besok juga, karena tadi ada yang tanya kapan tamat thor?...


Makanya aku tanya kalian semua sahabat tersayang. Memang masih banyak misteri yang belum terkuak, tetapi jika mau tamat ya saya tamatkan besok.


Kalo saya sendiri masih mau lanjut🤭😔 karena bang jeff bahkan belum ketemu.


Tolong beri comentar


A. Hiatus besok


b. Tamat dadakan besok


c. Lanjut besok


saya akan ambil suara terbanyak. sekali lagi mohon maaf karena saya hanya bisa menulis seperti ini. saya tidak bisa menulis sesuai keinginan sabahat semuanya. kalau memamg tidak suka sebaiknya jangan di baca. dari pada membuat kalian semua kesal.


Salam sayang dari Lee 🌺 Evangelin_harvey

__ADS_1


__ADS_2