Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Lampu hijau


__ADS_3

"Jino kamu mau kemana?" Bunda Nisya bertanya pada Jino dengan mata yang memicing.


"Aku akan beristirahat di luar bu, ini sudah hampir pagi, aku harus menyiapkan energi untuk besok, semoga besok aku bisa menemukan Jeff secepatnya!" Jino berkata sambil menatap Bunda Nisya nanar. Bunda Nisya menghela nafas dengan dalam lalu mengeluarkan sembarang.


"Tidurlah di sini, ada dua sofa , kamu bisa memakainya satu!" Bunda Nisya berkata tanpa melihat ke arah Jino sama sekali. Jino tersentak dengan ucapan bunda Nisya. Kenapa tidak biasanya dia baik seperti ini padanya. Padahal biasanya Bunda Nisya selalu ketus padanya. Jino tersenyum kecil dan membalikan badannya lalu duduk di sofa.


"Terimakasih bu?" Jino tersenyum senang.


Jino lalu nerebahkan tubuh lelahnya dan memejamkan mata karena begitu berat. Dia harus menabung tenaga untuk besok. Besok di perkirakan akan sangat berat baginya. Menyelam ke dasar danau bukanlah hal yang mudah. Apalagi mencari keberadaan seseorang . Bunda Nisya melihat Jino sudah memejamkan mata. Lalu Bunda Nisya membantu membuka baju Kisya dan menggantinya dengan baju yang kering.


Jino tau Bunda Nisya sedang menggantikan baju Kisya. Karena itu Jino terus memejamkan mata dan berpura-pura tertidur. Kini Kisya sudah berganti baju. Dan dia tidur dengan lelap. Sekali lagi bunda Nisya melihat ke arah Jino. Kini Jino benar-benar telah tertidur lelap. Bunda Nisya melihat wajah lelah itu. Iya, Jino terlihat begitu lelah karena seharian mencari keberadaan Jeff.


"Anak itu, apa dia bisa berubah?" Ucap Bunda Nisya dalam hatinya sambil terus memandangi wajah Jino yang sedang terlelap. bunda Nisya lalu menatap Kisya dengan lekat. Putrinya ini begitu cantik. Tetapi sayang nasibnya tidak pernah bagus. Setelah dinodai dan melahirkan bayi dari hasil pemerkosaan dia kini harus menanggung beban berat kembali, dengan kehilangan suaminya.


Setiap orang yang kehilangan akan merasakan rasa sakit dan perih. Tetapi jika istri yang kehilangan suami, maka bukan sakit lagi yang terasa. Melainkan sebuah kehancuran jiwa. Lebih buruk dari apapun. Karena dia telah merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Bunda Nisya merasakan saat Ayahnya Kisya pergi karena kecelakaan setahun lalu.


Dia merasakan apa yang Kisya rasakan saat ini. Dia ingin mengikuti suami ke alam kematian. Namun dia harus tetap kuat agar bisa terus menjaga dan merawat kedua buah hati mereka. Karena itu Bunda Nisya sangat iba pada posisi Kisya saat ini. Kisya juga pasti merasakan apa yang  dia rasakan dahulu.


Tangan lembut sang Bunda mengelus lembut kening putri kesayangannya. Air matanya kini jatuh tanpa dia sadari. Rasa sayang dan iba bercampur menjadi satu. Dia ingin sekali melihat tawa di bibir buah hatinya. Karena sudah lama sekali Kisya tidak tertawa dengan lepas seperti sebelum kejadian itu.


"Bunda ingin kamu bahagia anaku!" Bunda Nisya menyeka air matanya. Dan kembali mengelus lembut kening putri tercintanya. Kasih sayang seorang Ibu seluas samudra. Kini Bunda Nisya hanya bisa berdo'a kepada Tuhan. Agar Kisya bisa diberikan kebahagiaan dalam hidupnya. Dia sudah tak sanggup lagi hidup jika putrinya bahkan tidak hidup dengan bahagia.


"Jangan lagi ada air mata, Bunda berjanji akan selalu menjaga dan mendukung semua keinginan Kikis, Kikis juga harus berjanji, harus bisa tersenyum dengan manis. Bunda hanya punya Kikis. Harapan Bunda hanya Kikis. Bunda tidak berharap banyak pada Rasya. Dia masih bernafas saja itu sudah luar biasa. Tapi Kisya tidak boleh hanya bisa bernafas, Kikis harus hidup dengan bahagia dan melahirkan banyak keturunan untuk Ayah dan Bunda nak, hiduplah dengan bahagia nak, dan lupakanlah Jeff!"


Ait mata itu sudah tak terbendung lagi. Tangisan lirih Bunda Nisya sebenarnya di dengarkan oleh Jino dan Kisya.

__ADS_1


Namun mereka berdua hanya terdiam berpura-pura tertidur saja. Bunda Nisya lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Karena air matanya tak berhenti mengalir. Mungkin dengan membasuh wajahnya, air mata Bunda Nisya akan berhenti. Kisya membuka matanya perlahan. Air mata Kisya menetes tanpa dia sadari.


Jino sendiri membuka kelopak matanya dan menatap ke arah Kisya.


Deg.


Dua pasang bola mata yang sayup bertemu dan saling memandang. Tatapan mata Jino penuh cinta yang mendalam. Sedang Kisya sendiri menatap jino dengan sebuah kerinduan yang dia pendam.


"Bisakah aku melupakan kak Jeff, dengan seribu sesal yang menggunung?" Ucap Kisya dalam hatinya sambil terus menatap Jino. Jino sendiri seolah mengerti apa yang di ucapkan dalam hati Kisya. Jino mengangguk dan memberikan senyum manis pada Kisya.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi terbuka. Bunda Nisya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Dengan segera sepasang kekasih itu memejamkan mata mereka dan jembali berpura-pura tidur dengan lelap. Bunda Nisya menatap Kisya dan beralih menatap Jino. Lalu dia duduk di sofa dan mulai memposisikan tubuhnya untuk beristirahat kembali.


Bunda Nisya pun memejamkan mata dan tertidur.


Sampai kapan perasaan itu akan hinggap di dadanya. Siapa yang mau merasakan sebuah penyesalan. tidak ada satupun manusia yang mau nerasakan sebuah penyesalan. Karena perasaan itu sangat jahat dan terlalu kejam karena menyiksa dalam setiap hembusan nafas.


Kisya bangun dari posisi tidurnya. Dia membayangkan Jeff datang dan menghampiri. Jeff tersenyum dan Menggenggam tangan Kisya dengan lembut. Kisya tersenyum dengan manis ketika Jeff mengecup kening Kisya dengan kecupan penuh kasih sayang.


"Kak, apa kamu baik-baik saja?" Kisya bertanya. Dan Jeff tersenyum dengan anggukan halus.


"Tiga hari lagi resepsi pernikahan akan segera di laksanakan, aku beranji akan menjadi istri tang taat, aku tidak akan lagi membagi hatiku pada siapapun." Kisya meneteskan air matanya. Jeff tersenyum sambil memeluk Kisya dengan erat. Kisya terus menangis dengan sesegukan. Air matanya membanjir.


"Bagunlah jangan begini!" Ucap seseorang yang kini memeluk Kisya dengan erat.

__ADS_1


"Kak jeff maafkan aku, mukutku telah berdusta padamu, aku telah membagi rasa denganya, aku mohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku dalam sesal ini lagi!" Kisya memeluk erat tubuh Jeff. Padahal yang dia peluk itu adalah Jino. Kisya mulai berhalusinasi .


"Sayang, sadarlah ini aku!" Ucap Jino pelan. Bunda Nisya hanya menatap saja. Kisya membuka matanya karena terkejut mendengar suara Jino. Kisya lalu mendorong tubuh jino dengan kasar.


"Sayang." Ucap jino pelan. Kisya menatap Jino penuh kebencian. dan kini Kisya menangis dengan sejadi-jadinya. Bunfa Nisya lalu memeluk Kisya dengan erat. Dia sangat sedih melihat putrinya defresi kembali. Jino merasa sangat sedih karena cintanya kepada Kisya bisa membuahkan sebuah sesal yang mendalam untuk Kisya.


"Bunda, Bundaa." Tangis Kisya.


"Iya sayang, ini Bunda nak!" Suara halus Bunda begitu nyaman terdengar di telinga Kisya.


"Aku berdosa pada kak Jeff, Kikis harus bagaimana?"


"Kamu tidak berdosa nak, Kikis akan berdosa jika Kikis tidak melanjutkan hidup dengan bahagia, Kikis harus hidup dengan bahagia, Jeff juga pasti menginginkan hal yang sama pula." Ucap Bunda Nisya masih memeluk sang buah hati tercinta.


Jino hanya bisa terdiam memandangi kedua wanita yang kini tengah menangis di hadapannya. Rasa bersalah Kisya terlalu dalam. Sehingga Kisya seolah tak memaafkan dirinya sendiri.


Bersambung 🌺


Catatan kecil author🌼


Hmmm sampai sini bagaimana?...


Apa tim masih sedih , seperti kisya yanv begitu sedih kehilangan jeff?


jalan masih panjang dan masih banyak perkiraan. jadi untuk Tim jeff mohon maafkan aku. dan tetap semangat😍

__ADS_1


eeehhh sahabat jino dan kisya tidak lupa menekan love dan like kan?.. itu jempol kadang terlewatkan untuk di tekan, heheheh.. jangan lupa ya. pokonya lope lope deh untuk kalian semua. babay😘😘😘😘😻


__ADS_2