Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Hampir saja


__ADS_3

Kisya sudah menjadikan dada Jino sebagai bantal. Kisya kini memeluk tubuh sang suami dengan erat. Tanpa Kisya sadari Jino sudah terbangun. Kisya terus memainkan bahu Jino. Sesekali mengeratkan pelukanya dan merasa gemas terhadap tubuh kekar sang suami. Kisya berani melakukan hal itu karena Kisya tau Jino sedang tidur dengan lelap. Jadi Kisya tidak merasa malu atau apapun.


Sesekali Kisya menatap wajah Jino dan memainkan rambut sang suami. Jino hanya diam pura-pura tertidur. Sebetulnya jantung Jino sudah sangat berdebar dengan Kisya memeluknya seperti itu.


"Kakak ko tidur terus, aku sudah bangun." Rengek Kisya manja.


Jino tersemyum sambil terus berpura-pura tertidur. Jino sebenarnya ingin segera bangun dan menerkam sang istri. Semuanya sudah membuat Jino bergetar. Dan membuat tubuh Jino menegang. Kini Kisya tanpa sengaja menyentuh Niple nya Jino. Dan Jino langsung membuka mata. Jino tanpa menunggu lama langsung mengubah posisi dan menjadi menindih sang istri.


"Kyaa...." Kisya merasa terkejut.


"Sayang, kamu berubah jadi gadis nakal dan penggoda ya!" Ucap Jino sambil menatap mata redup sang istri. Kisya tersenyum malu. Wajanya memerah seperti tomat. Dia begitu tegang dengan posisinya saat ini.


"Kapan kakak bangun?" Tanya Kisya dengan malu-malu, menatap mata elang sang suami yang sungguh sudah menusuk ke dalam hatinya.


"Semenjak kamu memainkan anggota tubuhku, dan saat itu aku bangun dan adiku juga terbangun.


"Adikmu, oh ya ampun, kamu mesum kak." Kisya tersenyum malu. Jino lalu mengecup kening sang istri dengan lembut.


"Kamu meninggalkan aku tertidur, aku gelisah semalaman." Jino berbisik lembut sambil mengecup telinga sebelah kiri sang istri. Itu sontak membuat Kisya merasa sangat geli. Kisya memejamkan matanya karena Jino terus menghujani Kisya dengan kecupan penuh kasih sayang. Sentuhan dan kecupan sang suami membuat tubuhnya bergetar begitu hebat.

__ADS_1


" Ah, kak geli." Ucap Kisya saat Jino memainkan telinga Kisya dengan bibirnya. Namun Jino tidak memperdulikan hal itu. Jino terus mengecup bibir Kisya yang ranum dan Kisyapun membalas kecupan sang suami.


Mereka saling bertaut dalam indahnya nada cinta yang indah. Jino lalu mulai memberikan beberapa tanda bintang pada leher sang istri tercinta. Kisya mulai menggeliat merasakan geli yang bertubi-tubi. Namun Kisya hanya bisa pasrah ketika suaminya menyentuhkan seperti itu.


Tangan Jino mulai menelusup ke dalam baju tidur yang tipis itu. Mulai menyenyuh area punggung dan mengelusnya lembut. Lalu Jino mengecup dada sang istri.


"Ah, kak hmm." Kisya sudah tidak tahan akhirmya mengeluarkan suara manjanya. Kini baju Kisya sudah sangat berantakan. Jino menyentuh bagian perut Kisya dan mulai turun menelusup ke dalam kain satin dan mulai bermain nakal. Perasaan Kisya sudah tak karuan. Jantung pasangan pengantin itu sudah seperti mau meledak saja. Mereka terbuai dalam indahnya rasa cinta.


"Sayang , kita akan melakukanya sekarang, apa kamu sudah siap?" Tanya Jino sambil menatap Kisya dengan pandangan mata penuh kabut dan sesaat suasana hening. Jino sama sekali tanpa pergerakan sebelum Kisya mengijinkan. Tetapi Kisya sangat malu di buatnya. Dia hanya bisa mengangguk dengan wajah yang merah. Bahkan saat itu tomatpun kalah dengan merahnya pipi sang pengantin perempuan .


Jino begitu bahagia dan senang ketika melihat sang istri sudah mengangguk pertanda mengijinkannya untuk melakukan sebuah ritual malam pertama. Pagi itu si pengantin pria begitu bersemangat. Dia melepas seluruh kain yang menempel pada dirinya dan sang istri. Kisya sangat malu metika itu. Dia hanya tersenyum dengan kegugupannya.


"Tubuhmu sangat indah." Jino menatap seluruhan tubuh milik sang istri seolah Jino sedang memeriksa. Bagai Dokter yang sedang memeriksa pasiennya. Dia sudah membuka kaki sang istri. Jantung Kisya bergetar begitu cepat. Begitu pula Dengan jantung Jino. Dia sudah tidak tahan. Dia menahan semuanya semalaman. Dan kini dia begitu bahagia karena dirinya hendak melakukan ritual suci itu. Jino sudah memegang adik kecilnya hendak memposisikan ke arah labia mayora Kisya yang memerah begitu indah. Kini labia mayora itu sudah tersentuh lembut dengan benda yang keras dan tumpul. Dia akan melakukanya dengan sangat perlahan  dan penuh kelembutan.


"Maafkan aku, aku sudah tidak sabar!" Ucap Jino sambil mengelus rambut sang istri dengan lembut. Kisya mengangguk dan Jino ingin menekanya. Tetapi tiba-tiba saja.


Ting tong, ting tong.


Suara bel memecah konsentrasi pengantin yang baru saja mau melakukan percintaan mereka. Mata Jino membulat begitupun dengan Kisya. Mereka belum bercinta tetapi sudah ada yang menggangu mereka.

__ADS_1


"Sayang ada tamu." Ucap Kisya pelan.


"Ya tuhan, kenapa tamu datang di saat yang tidak tepat? Jino merasa snagat frustasi di buatnya. Jino merasa kecewa dia gagal melakukan hubungan intim bersama sang istri.


"Kita bisa melakukanya lain waktu kak!" Ucap Kisya lembut.


"Aku sudah tidak sabar, semua sudah menumpuk di ubun-ubun ku." Ucap Jino merasa sangat kecewa. Jiwa lelakinya meronta ketika dia gagal untuk menyetubuhi sang istri. Padahal saat ini syarafnya sudah menegang dan ingin segera di lemaskan.


Kisya terkekeh. Mereka bangun dan mengenakan kain mereka kembali. Merapihkan busana yang mereka kenakan. Jino terduduk dalam suasana yang membuatnya kesal. Kisya tersenyum melihat tingkah sang suami yang seperti anak-anak. Pasalnya Kisya baru melihat Jino merajuk seperti itu. "Jangan memperlihatkan wajah menekuk begitu kak, kita masih banyak waktu untuk melakukan hubungan malam pertama kita." Kisya terkekeh.


Namun Jino hanya terdiam. Jino duduk di sofa dan menyalakan televisi. Sedang Kisya merapihkan spray yang kusut itu. Setelah terlihat rapih, kisya lalu berjalan ke arah pintu dan mencoba membuka pintu tersebut. Ternyata ada bunda Nisya dan Mama Murni. Kisya terkejut melihat bayinya sudah menangis dengan wajah sangat sedih.


"Ya ampun sayang kenapa?" Kisya langsung memeluk tubuh kecil yang meronta itu.


"Maafkan kami Kis, kami menggangu kalian berdua, tetapi putra kalian tidak mau diam, dari tadi dia menangis dan menjerit sangat kencang, kami sangat kebingungan dibuatnya!" Ucap Mama Murni.


"Tidak apa apa Ma, kalian tidak menggangu, sebaiknya kalian masuk dulu yuk!" Ajak Kisya. Dan kedua wanita paruh baya itupun masuk ke dalam kamar pengantin itu. Kedua wanita itu lalu duduk di sofa. Memperhatikan ke sekeliling kamar.


"Mana Jino?" Tanya Bunda Nisya.

__ADS_1


"Di kamar mandi Ma!" Ucap Kisya sambil mengayun sang buah hati. Baby Vano sudah terdiam dalam pelukan Kisya. Bayi itu dia seketika tenang. Seperti ada sihir yang membuat bayi itu terdiam. Padahal Baby Vano dari tadi mengamuk. Tetapi kini Baby Vano bahkan sangat tenang.


🌺 Bersambung 🌺


__ADS_2