
Kring, kring, kring.
Suara telepon milik Papa Geovandra menggema di kamar rawat inapnya Baby Vano. Saat itu Papa melihat bahwa itu adalah nomor sang putra kesayangannya. Dengan hati yang berdebar Papa lalu menerima panggilan telepon tersebut.
"Hallo!" ucap Papa terbata.
"Hallo Pa, ini Jino." ucap Jino dengan suara yang pelan. Jino masih lemah setelah operasi. Tangannya pun masih merasakan rasa sakit yang sangat tak bisa dia ungkapkan. Tetapi dia menguatkan diri karena dia adalah seorang laki-laki. Mana boleh seorang suami dan seorang Ayah cengeng. Karena itu Jino selalu menguatkan dirinya.
"Jino, apa kabarmu nak?" Papa begitu senang mendengar suara putranya walau suaranya terdengar menyakitkan. Karena Papa tahu dengan betul bahwa putranya itu baru selesai di operasi. Tubuh Papa bergetar menahan haru yang tidak tertahankan. Sebagai seorang ayah, Jino adalah satu-satunya putra yang menjadi kebanggaannya saat ini. Tidak ada yang lainya yang papa cemaskan. selain keselamatan putranya.
"Baik Pa, tolong jangan khawatir, ini hanya luka kecil!" ucap Jino.
"Papa tahu itu nak." ucap Papa sambil tersenyum dengan lega. Nafasnya seolah begitu ringan dan beban dalam dadanya seolah berlari dan tidak menyisakan apapun lagi. Kisya melihat dan Mama Murni mendengar Papa menerima telepon dari sang suami. Hatinya menjadi memanas dan sudah tidak tahan ingin sekali berbicara dengan sang suami. Kisya hanya bisa terdiam berbalut rindu yang menggebu.
Rasa rindunya hampir saja meledak dan mengalahkan kuatnya ledakan anak Krakatau. Kisya terus menatap sang Papa sambil menguping pembicaraan Ayah mertuanya itu. Dia sungguh merindukan suara khas itu. Suara bariton yang sungguh sangat dia sukai. Tubuh Kisya sudah bergetar menahan semua kerinduannya. Dia sangat ingin berbicara dengan suami yang selama empat hari bahkan tiada kabar. Dan membuat dirinya merasa kosong dan hampa.
"Rahasiakan ini semua dari Kisya Pa, Jino tidak mau dia cemas karena masalah ini, Papa tahu sendiri, Kisya gampang sekali kepikiran, bahkan hal sepele juga membuat dirinya rapuh!" ucap Jino pelan.
"Itu sudah Papa lakukan nak!" ucap Papa. Papa sudah tahu dari awal bagaimana sikap menantunya itu. Sehingga Papa berfikir dua kali untuk memberika info kepada sang menantu. Berbohong adalah satu-satunya cara untuk kebaikannya bersama.
"Terimakasih Pa, sekarang bisakah Papa membantu Jino dari sana,!"
"Bantu apa!" ujar Papa.
"Tolong telepon Rosaline untuk datang ke Belanda, jika Rosaline datang, maka Jacob pasti akan menyerah!" tutur Jino.
"Sudah berapa lama dia lari dari rumah, Si Jacob berengsek itu memang tidak pantas menjadi Ayahnya, Rosaline terlalu polos untuk menjadi putri si brengsek itu!' Papa sedikit emosi. Ketika menbahas tentang orang yang sudah hampir membuat perusahaannya bangkrut.
__ADS_1
"Hampir 5 atau 6 tahun Pa, Jino pikir sudah saatnya Rosaline pulang dan membantu kita, dan satu hal lagi, kita butuh sahamnya Rosaline untuk membatu kita memulihkan formasi, karena ternyata banyak anggota dewan sudah menyerahkan sahamnya kepada si Jacob. " ucap Jino dengan pelan namun jelas.
"Baiklah, Papa akan meminta tolong kepada Rosaline untuk menyerahkan sahamnya kepada kita, untuk sementara waktu. Tetapi yang pasti, kamu baik-baik saja itu sudah membuat Papa tenang dan lega nak!" ucap Papa. Dia merasakan sebuah aura kesegaran dalam hatinya ketika sang putra menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Pa, Jino tadi sudah menghubungi Kisya, tetapi nomor ponselnya tidak aktif, apakan Kisya ada di sana?" tanya Jino dengan penuh harap sang istri ada di dekat papanya. Sehingga Jino bisa langsung berbicara kepada sang istri dan melepaskan semua kerinduannya.
"Iya nak, ini Kisya dan Baby vano ada di sini, silahkan kalian berbincang!" ucap Papa.
"Iya Pa syukurlah." Jino merasa lega akhinya bisa berbicara dengan istri yang dia rindukan.
Papa menyerahkan ponselnya kepada sang menantu. Dengan senang hati Kisya mengambil ponsel itu dan langsung berbicara dengan sang suami tercinta.
"Hallo sayang?" ucap Kisya dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia sungguh merindukan suaminya. Kerinduan itu sudah memuncak dan hampir saja meledak.
"Mommy, sayang." ucap Jino pelan. Tiba-tiba saja Kisya langsung menitikan air matanya ketika mendengar suara sang suami yang sangat dia rindukan selama beberapa hari ini. Isak tangis bahkan terdengar begitu jelas. Papa dan Mama hanya bisa melihat saja.
"Ampuni aku sayang, aku sangat sibuk sampai lupa menyimpan ponselku berada di mana, aku merindukanmu sayang!" ucap Jino pelan dan tubuhnya seolah bergetar. Benar adanya bahwa Jino juga begitu merindukan sang istri. Sudah empat hari lamanya dia tidak bersenda gurau bersama sang istri. Istri kesayangannya yang sangat dia rindukan.
"Hiks hiks hiks, jahatnya kamu sayang, kamu bahkan tidak memberi aku kabar dalam empat hari ini, betapa aku merindukanmu, terutama aku tuh mencemaskan dirimu sayang, selama ini aku berharap kamu baik-baik saja disana, tetapi tetap saja aku merasa rindu dan cemas." Kisya mulai menangis dengan kencang.
Jino merasakan hatinya bagai teriris sembilu, ketika mendengar tangis dang istri. Jino sungguh tidak tega mendengar isakan dari mulut istri tercintanya.
"Maafkan aku sayang, hukumlah aku ketika aku pulang sayang, aku mohon berhentilah menangis!" ucap Jino merasakan kecemasan yang berlebihan ketika suara tangis sang istri sudah berhasil membuat hatinya porak poranda.
"Kapan kamu pulang sayang?" Kisya berkata dengan suara isakannya. Sebisa mungkin dia tahan rasa sedih dan tangisanya. Akan tetapi semua percuma. Karena air mata tetap jatuh tanpa bisa dia bendung.
"Entahlah sayang, belum bisa di pastikan." Jino mengehela nafas beratnya dia berfikir sesaat. Masalah di perusahaan itu terlalu rumit dan tidak bisa dia selesaikan secara cepat.
__ADS_1
Kisya merasa kecewa mendengar jawaban dari sang suami.
"Bisakah kita selalu berkomunikasi, aku tidak tahan jika kamu mematikan ponselmu!"
"Bukan mematikan ponsel sayang, tetapi ponselnya mati, dan aku lupa!"
jawab Jino.
"Aku dan Baby Vano rindu kamu sayang!" Kisya mulai dengan isakan lagi.
"Baby, Baddy juga rindu kalian, do'akan semua masalah Disni selesai, agar Daddy bisa cepat pulang ya sayang!" ucap Jino merasakan sebuah kesesakan yang membuat dirinya sulit untuk bernafas.
Baby Vano terdiam mendengarkan suara sang Daddy. Kisya memang sengaja menekan pengeras suara pada ponselnya. Agar Baby Vano bisa ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Semuanya terasa begitu haru namun sangat indah. Sebuah kerinduan kini hinggap dihati keduanya. Hati mereka kini sudah berbalut dengan rindu yang menggebu. Ingin sekali rasanya mereka bertemu dan saling melepas rindu.
🌺🌺🌺
Bersambung.
Testimoni buku **My Baby
Siapa lagi yuk yang mau pesan buku mumpung masih tersisa.
**
__ADS_1