
"Jika ini adalah mimpi, aku juga tidak akan bangun sayang, aku hanya ingin terus berada di dunia mimpi. Bersamamu selamanya." Kisya berkata dengan tatapan mata yang redup seindah redupnya kerlip bintang. Jino menelan saliva. Tersadar dengan semua keindahan yang dia lihat.
Betapa indahnya mahluk ciptaan Tuhan yang kini menjadi miliknya.
"Kita tidak sedang bermimpi, kita bertemu dalam sebuah kerinduan, sayang. Aku merindukanmu sampai ke ubun-ubun, sayang aku merasakan dadaku sesak ketika kita berjauhan, tersadar dalam lamunanku, bahwa ternyata aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, kekasihku!" Jino kini mengecup bibir sang istri yang ranum.
Wanita itu menerima semua perlakuan istimewa sang suami. Dimana dirinya begitu terbuai untuk sama-sama melepaskan kerinduan yang menggebu. Mereka masih saling bertaut dalan kecupan indah penuh kasih sayang. Saliva yang mereka telan silih berganti membuat aura cinta mereka semakin menggebu.
Pria itu mengecup manisnya bibir sang istri. Seolah tidak ada lagi hari esok. Mereka sungguh kehausan, setelah berminggu-minggu kekeringan tanpa belaian kasih sayang masing-masing. Kisya terlihat kesusahan bernafas. Dia mencengkram erat bahu sang suami. Jino tersadar istrinya kehabisan nafas. Lalu dia melepaskan kecupannya. Memberikan ruang dan waktu untuk sang istri menghirup udara untuk bernafas.
"Kita ada di Korea sayang, kita sedang. Berbulan madu." Jino berkata dengan senyuman yang begitu manis dan sangat menawan.
"Benarkah sayang, kita ada di Korea?"
Wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh sang suami. Dia melihat ke arah kiri dan kanan. Mencari keberadaan jendela di kamar hotel itu.
Sesaat dia melihat sebuah jendela kaca. Lalu dia menarik tangan sang suami untuk mendekati jendela itu. Kini wanita itu bisa menikmati indahnya kota Seoul dari lantai dua belas. Senyum lebar dia torehkan. Ketika. Melihat betapa indahnya kota itu. Tidak menyangka Jino akan memilih Korea untuk menjadi tempat honeymoon mereka.
"Ya-Tuhan indah sekali." wanita itu begitu takjup dengan pemandangan kota yang dia lihat.
"Iya, ini sangat indah, karena ada kamu kota ini nenjadi begitu indah, seindah apapun kota yang aku datangi, jika aku datang sendiri tanpamu, kota itu akan terasa biasa saja, tidak ada nilai keindahan sama sekali," Jino memeluk sang istri dari belakang. Dengan posesif tangannya memeluk perut sang istri.
__ADS_1
Mereka masih menikmati kota Seoul dengan segala keindahan dan aura romantis. Sesekali pria itu mengelus perut sang istri dengan lembut. Perut yang kelak akan mengandung beberapa bayi lagi. Beberapa buah cinta mereka kembali. Kisya lalu menyentuh tangan sang suami yang kini sedang mengelus lembut perutnya.
"Aku belum bisa mengandung sayang, aku sangat sedih aku belum bisa memberikan kamu keturunan." Kisya menunduk dengan mata merahnya menahan semua tangis. Wanita iu sungguh ingin sekali memberikan sang suami keturunan. Jino kembali terkejut mendengar ucapan sang istri yang sangat ingin mengandung keturunannya.
"Sayang jangan sedih seperti itu, Baby Vano adalah keturunan kita, sayangnya kamu tidak tahu hal itu, jika suatu saat kamu tahu kenyataanya, bahwa Baby Vano adalah buah hati kita berdua, apakah kamu akan menyayangi bayi itu?" Jino berkata dalam hatinya hembusan nafas berat dia lontarkan. Pria itu tidak mau sang istri merasakan kepedihan seperti ini. Dia harus berusaha membuat istrinya tersenyum.
Jino lalu membalikan tubuh sang istri menjadi saling berhadapan denganya.
"Sstttt, tidak apa-apa sayang, kita bisa mencoba setiap hari, setiap waktu dan bahkan setiap saat."
Kisya menatap mata sang suami dengan sanga intence. Tatapan mata Kisya yang basah membuat batin Jino bergejolak. Dia tidak tega melihat air mata yang jatuh dari pelupuk mata sang istri. Jino menyeka air mata Kisya dengan lembut. Jino melihat betapa istrinya sangat pedih saat ini.
"Aku ingin mengandung bayimu sayang, bukan berarti aku tidak mencintai Baby Vano, tetapi aku ingin memberi kamu keturunan, bayi yang akan aku kandung dan akan aku lahirkan sendiri." Kisya mulai menitikan air matanya.
Begitu halnya dengan Kisya. Perasaan itu kini hinggap di sanubarinya yang terdalam. Dia begitu ingin mengandung dan melahirkan bayinya. Bayi keturunan dari sang suami. Sebetulnya Jino haruslah merasa bangga. Karena Kisya begitu menyayangi dirinya sehingga dia sangat ingin mengandung bayi keturunan darinya.
Tetapi Jino malah merasakan sesak nafas. Karena identitas Baby Vano tidak di ketahui sang istri. Sehingga Jino merasa kasihan kepada bayi itu. Ingin sekali Jino mengatakan semuanya pada saat ini. Tetapi itu semua sangatlah tidak mungkin dia ucapkan. Itu sama halnya dengan bom bunuh diri untuknya.
"Lahirkan beberapa bayi untuku, tetapi jangan melupakan Baby Vano, dia anak kita!" Jino mengelus lembut rambut sang istri dengan penuh kasih sayang.
Kisya tersenyum dengan manis. Istrinya itu begitu indah ketika tersenyum. Membuat Jino merasa mabuk dibuatnya.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan selalu menyayangi Baby Vano, walau dia bukan darah dagingku, tetapi aku sudah sangat sayang kepadanya, kenapa Daddy berkata seperti itu?" Kisya masih tersenyum dengan sangat manis.
"Karena Daddy takut, suatu saat ketika bayi lain lahir, Mommy akan melupakan Baby Vano dan lebih fokus dengan bayi baru kita." ucap Jino dengan tatapan sendu menatap sang istri.
"Tidak akan seperti itu sayang, Mommy akan selalu sayang sama Baby Vano, walau ada Baby yang lain, dan itu tidak akan merubah apapun!" mereka lalu saling bertatapan dengan kekalutan masing-masing. Jino yang merasakan sebuah kesakitan karena harus terus menyembunyikan identitas putra kesayangannya. Dia bahkan tak sanggup untuk berbuat lebih dari diam, hanya diam dan cuma diam saja.
Kini Jino menatap mata Kisya yang penuh harap. Berharap bahwa dirinya akan segera mengandung seorang bayi keturunannya. Betapa inginnya Kisya mengandung sampai Kisya menangis terisak karena rasa itu membuat hatinya tersiksa.
Kisya sangat menggebu-gebu menginginkan seorang bayi perempuan. Bayi yang dia lahirkan sendiri. Dengan taruhan nyawanya sendiri. Jino menyadari keinginan sang istri adalah hal yang wajar. Tetapi kenapa selalu ada rasa kasian terhadap Baby Vano. Karena Kisya selalu menganggap Baby Vano adalah anak tirinya.
Walau kasih sayang Kisya terhadap Baby Vano begitu besar, sebesar lautan. Tetapi terbukti bahwa Kisya menginginkan bayi yang dia kandung dan dia lahirkan sendiri. Dan itu yang membuat Jino merasa kasian terhadap Baby Vano.
"Baiklah, ayo kita buat bayi yang cantik!" Jino lalu menggendong sang istri dan merebahkannya di atas tempat tidur.
🌺🌺🌺
Bersambung.
Hallo sayang apa kabar... Kalian udah baca What aku hamil belum?.. novel itu pindah loh ke aplikasi webnovel. Jadi kalian bisa tetap baca. Dengan judul Jessika.
Ingat Jessika.
__ADS_1