Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Obatnya Cuma. . . .


__ADS_3

Jino keluar dari kamar rawat inapnya Lintang. Dia berjalan di lorong rumah sakit dengan kesakitan yang menerpanya. Wajahnya penuh memar dan ada darah di sudut bibirnya. Sesekali Jino menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dan setelah itu Jino begitu lemas. Jino duduk di kursi yang ada di lorong rumah sakit.


Seseorang datang membawa bungkusan makanan. Ternyata itu kisya hendak membawa makanan untuk Lintang. Kisya terkejut melihat sang suami sudah Babak belur begitu


"Ya Tuhan kak?" Kisya nembulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Wajah sang suami penuh luka memar dan darah segar masih menetes.


"Sayang!" Ucap Jino pelan.


"Kamu kenapa kak?" Kisya mulai menangis. Dia sesungguhnya sangat tak tega melihat kondisi sang suami.


"Ayo pulang dulu, aku ingin tidur!" Ucap Jino pelan.


"Sebentar, biar aku memberikan makanan ini untuk Lintang dulu." Jino pun mengangguk.


Kisya berjalan begitu cepat menuju ke kamar Lintang. Kisya masuk tanpa mengetuk pintu. Terlihat Boy sedang mengelus dan menciumi perut sang istri.


"Maaf Lintang ini makanannya!" Ucap Kisya sambil memperhatikan Boy yang babak belur seperti Jino. Kisya langsung menebak kalo Boy dan Jino sudah berkelahi dengan hebat. Sampai wajah mereka babak belur seperti itu.


"Jadi kalian berkelahi?" Ucap Kisya dengan mengerutkan keningnya. Boy dan Lintang terdiam sesaat.


"Apa permasalahanya?" Sekali lagi Kisya bertanya. Namun Boy dan Lintang masih terdiam. Lintang memberikan kesempatan pada Boy untuk menjelaskan kepada Kisya.

__ADS_1


"Kenapa masih terdiam?" Kisya berkata lagi.


"Iya Kis, tadi kami berkelahi, tadi itu aku cemburu pada Jino karena berduaan dengan istriku." Ucap Boy pelan.


"Yatuhan kak, kenapa bisa sepertu itu, bahkan Lintang dan kak Jino sudah lama putus, harusnya kakak lebih mempercayai Lintang, seperti aku yang mempercayai suamiku!" Ucap Kisya.


"Iya kis, aku bersalah, maafkan aku!" Ucap Boy.


"Bukan pada ku meminta maafnya, tapi sama suamiku!" Ucap Kisya. Boy terdiam dengan egonya.


"Yasudah kakak kumpulkan keberanian kakak dulu, aku mau pulang, Lintang ,aku pulang dulu ya!" Ucap Kisya dengan senyuman manisnya. Dan Lintang ikut tersenyum dengan bahagia. Lalu Kisya pun pamit. Boy tidak menyangka bahwa kisya hanya menegurnya seperti itu. Boy bahkan mengira kalo Kisya akan marah padanya. Boy sekarang baru mengerti bahwa persahabatan Kisya dan Lintang tak bisa terusik oleh apapun.


Kisya keluar dari kamar rawat inap Lintang menuju ke arah dimana sang suami sedang menunggunya.


Jino hanya ingin Kisya duduk dengan manis di sampingnya. Dalam perjalanan mereka tak berbicara apapun. Tetapi Jino terus menggenggam tangan Kisya dengan erat. Mereka tersenyum dengan bahagia. Sesampainya di rumah. Alangkah terkejutnya Papa Geovandra melihat keadaan Jino seperti itu. Papa memberondong Jino dengan sejuta pertanyaan. Dan Kisya yang menjelaskan bahwa Boy salah faham dan cemburu.


Papa Geovandra mengerti dan tidak meyalahkan Boy. Karena memang dia tahu Jino dan Lintang adalah mantan kekasih. Jika mereka tampil berdua Pastilah akan membuat pasangan mereka cemburu dan salah faham. Papa bertanya kepala Kisya. Apa Kisya sndiri cemburu kepada Lintang? Kisya tersenyum dan menggeleng. Kisya mengatakan bahwa dia sangat mempercayai Lintang dan suaminya. Sehingga dia tidak perlu merasa cemburu.


Papa Geovandra sangat puas dengan jawaban Kisya. Dia sangat yakin bahwa menantunya ini memiliki hati yang putih dan selembut awan. Akhirnya setelah berbincang lama. Mereka memulai makan malam mereka. Mereka berdo'a sebelum makan. Mereka berdo'a demi keselamatan seluruh keluarga dan berterimakasih kepada Tuhan karena sudah membuat Jino ketiduran dan ketinghalan pesawat. Sehingga Jino terjaga dari marabahaya. Semua berdo'a dengan penuh kesungguhan.


Setelah itu mereka mulai makan malam. Mereka menikmati makan malam mereka dengan lahap. Ya kecuali Jino karena dia merasa kesakitan. Setelah menyelesaikan makananya mereka berkumpul di ruang keluarga dan menonton televisi. Sedang kisya mengobati luka memar Jino dengan betadin dan salep. Jino meringis kesakitan ketika sudut bibirnya di berikan obat antiseptik. Tetapi Kisya langsung mengecup bibir yang meringis itu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Jino merasa sembuh seketika. Luka-luka pada wajah Jino terasa tak sakit lagi ketika Kisya mnegecup semua luka memar tersebut. Kecupan kisya begitu halus dan penuh kasih sayang. Jino begitu nyaman dan sangat bahagia. Kisya begitu memperhatikan dan merawat dia dengan sangat baik. Papa Geovandra lalu memberikan Jino beberapa tablet obat anti nyeri. Dan Jino menolaknya.


"Tidak perlu Pa!" Ucap Jino.


"Loh kenapa?" Tanya Papa merasa heran.


"Karena Jino sudah dapat obatnya pa!" Jino sedikit menyunggingkan senyum manisnya.


"Kamu harus cepat sembuh nak!" Papa terus memaksa.


"Jino akan sembuh Pa, karena Jino sudah dapat obat, dan obatnya cuma_." Ucapan Jino terhenti. Kisya dan Papa terdiam menunggu kelanjutan kalimat Jino.


"Obatnya cuma_." Jino lalu mengecup kening Kisya dengan lembut.


Papa Geovandra terkekeh melihat betapa manjanya putra kesayangannya itu. Dia senang Jino dan Kisya bisa dekat dan romantis seperti itu. Papa tau rasa cinta mereka berdua begitu besar. Sehingga sangat jelas terlihat dan tak bisa di sembunyikan lagi. Papa lalu duduk di samping sang Mama yang sedang memainkan Baby Vano dengan gemas.


Kisya merona merah ketika Jino mengecupnya di hadapan sang Ayah mertua. Sedang Jino kini menempel kepada Kisya. Mereka menonton televisi dan Jino terus memeluk Kisya dengan penuh kasih sayang. Malam itu mereka menonton televisi sampai larut malam. Karena acara televisinya begitu seru. Sampai akhirnya Jino dan Kisya ketiduran di sofa tersebut.


Mama Murni lalu membangunkan Jino agar segera pindah ke kamar mereka. Jino terbangun dan melihat sang istri sudah terlelap. Jino yang masib mengantuk lalu mencoba bangun dan mengumpulkan nyawanya. Dia mencoba menggendong sang istri yang sedang tertidur. Jino menggendong kisya dengan perlahan karena takut membangunkan sang istri tercinta. Dia merebahkan tubuh sang istri dengan lembut di tempat tidur.


Lalu jino menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal. Jino sangat mangantuk malam itu. Dan Jino memeluk sang istri dengan erat lalu memejamkan matanya kembali. Malam itu mereka terlelap dan di buai oleh mimpi yang indah. Sedang Baby Vano sudah tidur juga di kamarnya Mama Murni. Mungkin karena lelah setelah berkelahi jadi insomnia Jino mendadak hilang seketika.

__ADS_1


🌺 Bersambung 🌺


__ADS_2