
Kisya menatap Jino dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa kesal dalam hatinya memuncak ketika itu. Istri mana yang merasa tenang jika melihat sang suami kini menggandeng wanita muda dan cantik di sampingnya. Gadis itu bahkan masih abege. Jino benar-benar telah bersanding dengan gadis cabe-cabean, setidaknya itu yang ada dalam pikiran Kisya.
Dan kini Jino menatap Kisya dengan penuh kerinduan. Pria itu selalu merindukan sang istri siang dan malam. Sampai Jino sendiri sulit untuk tidur setiap malam, hanya karena merindukan Kisya. Mata mereka kini bertemu sesaat dan mereka saling memandang.
Mereka saling bertatapan. Tatapan Jino adalah tatapan penuh cinta, namun Kisya sendiri hanya menatap sang suami dengan kebimbangan. Hati Kisya merasakan kesakitan yang datang secara tiba-tiba. Mungkin ini adalah gejolak rasa cemburunya.
"Oh... Jadi ini wanita yang pergi dari rumah dan meninggalkan suami serta anaknya. Kak Jino sayang, ko kamu betah bertahan sih? Kaliankan sudah tak sepaham, kenapa kalian tidak bercerai saja!" ucap Tasya sinis sambil menatap Kisya.
Kisya menelan ludah saat mendengar bahwa dia adalah wanita yang meninggalkan suami dan anaknya. Kisya benar-benar tidak bisa mengelak, perbuatannya memang salah. Tapi hatinya belum siap untuk bercerai. Kisya menolak untuk bercerai dengan Jino.
"Tasya. Jangan seperti itu!" bentak Jino.
"Ayolah kak logika aja. Dia sudah tak mau bersama kakak. Kakak menunggu apa lagi? Kan kasian Baby Vano," kata Tasya datar.
"Ada apa ini?" tanya Ardika.
"Waw siapa lagi ini?" ucap Tasya terkekeh melihat ke arah Ardika.
"Ada apa, Kis?" ucap Ardi heran.
"Kak Ardi duduk saja, tungguin Lintang. Ini hanya masalah keluarga," pinta Kisya dengan pelan. dan Ardi pun menurut.
"Maap Nona. Kenapa anda memerintahku. Supaya aku dan kak Jino bercerai. Jika kak Jino memang ingin menceraikanku, maka aku akan menerima tanpa harus di perintah olehmu," ucap Kisya sambil menahan tangisnya.
"Sayang," ucap Jino sambil menatap Kisya dengan wajah kecewa.
"Ia itu gimana kak Jino sih. Wanita itu banyak kak, bukan cuma istrimu ini, tapi dia tidak pantas kamu sebut istri. Bukankah dia sudah meninggalkan kalian berdua," kata Tasya.
"Iya, jika kak Jino ingin kita bercerai, mari kita bercerai," ucap Kisya sambil membalikan badan dan tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi manisnya. Wanita merasakan kesakitan yang begitu dalam ketika harus mengucapkan kata perceraian. Kisya sungguh berat untuk bercerai dengan Jino. Tapi dia pun masih berada dalam keraguan yang malah mengusurnya pada kebimbangan yang mendalam.
Rasa sesak kini sudah menyelimuti dada kisya. Secara tiba-tiba seseorang memeluk tubuh Kisya dari belakang. Seraya berkata. "Tidak ada kata perceraian sayang. Aku akan setia nungguin kamu pulang, hanya kamu cintaku, hanya kamu sayangku, aku sangat mencintaimu, jadi mana mungkin aku akan menceraikan kamu cintaku," bisik Jino dengan mesra. Membuat bulu kuduk Kisya berdiri secara tiba-tiba.
__ADS_1
Kisya merasa hatinya begitu hangat mendengar ucapan dari bibir Jino. Entah kenapa dia ingin menangis dan memeluk Jino. Benar saja Kisya langsung berbalik dan memeluk Jino dengan satu tangannya, karena tangan lain menggendong Baby Vano. Kisya memeluk Jino sambil menangis. Mereka kini saling berpelukan. Jino merasa begitu bahagia ketika Kisya kini membalas pelukannya. Jino lalu mengecup kening Kisya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
"Kalau kakak mau kita bercerai, aku bisa apa, aku hanya akan menuruti semua keinginan kakak," ucap Kisya sambil menangis dengan tersedu. Wanita itu menangis sambil memeluk sang suami dengan begitu erat.
"Tidak sayang, tidak akan ada perceraian. Jangan dengarkan sepupumu yang nakal itu," ucap Jino dengan penuh kasih sayang.
"hiks hiks hiks... Aku masih membenci kakak. Tapi aku tak mau bercerai dari kakak. Aku masih tidak yakin dengan perasaanku. Tapi aku bersungguh-sungguh aku tidak mau kakak menceraikan aku," Kisya berkata dengan begitu manja. Menangis dalam pelukan sang suami yang begitu mencintai dirinya.
"Sayang. Jangan nangis lagi. Aku mengerti semua perasaan bencimu padaku. Sudah yuk kita duduk. Kasian nih Baby Vano liatin kamu terus," kata Jino.
Kisya tersadar kalo sedari tadi Baby Vano terus melihat Kisya menangis. Baby Vano terjepit di antara tubuh orang tuanya. Dan balita itu benar-benar terdiam tidak menggangu Jino dan kisya yang sedari tadi mengungkapkan isi hati mereka. Balita itu sebetulnya terjepit dan terlihat sesak. Tapi baby Vano seolah mengerti dan baby vano membiarkan dirinya terjepit demi Daddy dan Mommy-nya.
Saat Kisya menanyadari bahwa Baby Vano terjepit. Maka dia begitu terkejut.
"Maapkan Mommy sayang!" Kata Kisya cemas takut baby Vano kesakitan.
Saat itu Kisya merasa sangat malu setelah tersadar bahwa dia menjadi tontonan Lintang, Ardi dan Tasya. Lalu tasya tertawa dengan begitu kencang.
"Hmm," ucap Kisya.
Kini semuanya duduk dalam satu meja. Kisya dan Jino masi terdiam. Kisya begitu malu atas tingkah lakunya. Tetapi Kisya memang tidak mau bercerai dengan Jino. Tapi dia masih belum siap untuk bersama.
"Jadi gimana nih Kis. Kalian tidak jadi bercerai?" kata Ardi datar.
"Eh kamu siapa?" ucap Jino kesal.
"Aku ardika, teman SMP-nya Kisya,"
"Brengsek, ini cowok yang di kantor polisi itu kan," batin Jino merasa bergejolak.
"Kenalkan saya Georjino, suaminya Kisya dan sudah saya bilang kita tidak akan pernah bercerai!" Jino berkata dengan tegas.
__ADS_1
"Kis. Sampai kapan kalian akan hidup terpisah. Kalian bahkan memiliki Baby Vano yang harus kalian beri kasih sayang," ucap Lintang penuh penuh harap.
Kisya masih terdiam dalam kebisuannya.
"Ehmm, kalo gitu mending kalian bercerai!" sahut Ardi.
"Tidak!"
"Tidak!"
ucap Kisya dan Jino secara bersamaan.
"Wah keren. Jawabannya ko bisa bareng begitu?" Tasya terkejut. Lalu menyunggingkan senyum.
"Sayang aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Kami bakalan nunggu kamu pulang ke rumah!" kata Jino bersungguh sambil menggengam tangan Kisya dengan lembut.
Deg.
Jantung Kisya serasa berdetak begitu kencang mendengar ucapan Jino. Tiba-tiba saja kepala Kisya terasa pusing.
"Ah... Kepalaku sakit," ucap Kisya sambil kesakitan lalu Kisya tiba-tiba saja pingsan. Jino dan yang lain begitu terkejut dan langsung membawa Kisya ke rumah sakit.
Dokter mengatakan Kisya mungkin mengingat hal yang hilang pada ingatannya. Berpikir dengan keras dan membuat syaraf otak nya tidak kuat. Makanya Kisya pingsan.
Jino ingin mendampingi Kisya. Namun Bunda menyarankan Jino untuk pulang karena Kisya pasti tidak ingin bertemu Jino dulu. Dan Jino menyanggupi. Terpaksa Jino pulang ke rumah, berharap Kisya cepat sembuh dan mengingat kembali rasa cintanya dan kembali ke pelukan Jino.
Bersambung.
Uwuu kakak sisa satu chapter lagi hiks hiks hiks aku ko tidak iklas.
Bagaimana ini apa kalian siap?
__ADS_1