Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Lagi dan lagi


__ADS_3

"Apa maksud Ayah, kenapa Ayah memberikan Rania uang sebanyak itu?" Ardi mengerutkan keningnya. Dia sedikit kesal dengan tindakan sang Ayah.


"Tidak ada maksud lain, Ayah hanya ingin adikmu kembali kepada pelukan kita lagi, menjadi adikmu yang manis dan penurut!" pria itu berkata sambil menatap sang putra dengan seragam yang dia kenakan.


"Tapi Yah, Ayah tidak tahu apa yang dilakukan oleh Rania, dia sudah membuat sebuah tindakan kriminal Yah," Ardi menjelaskan kepada sang Ayah tentang perbuatan adik bungsunya.


"Tindakan kriminal apa?" jawab sang Ayah dengan santainya.


"Dia, sudah berusaha mencoba menabrak seorang teman kempusnya, dia, mengirim paket teror, dan kemarin dia hampir menculik seorang anak kecil, anak buah yang Ayah pinjamkan padanya telah melakukan penusukan dan, bahkan mereka terluka parah, dan langsung melaporkan ke kantor kepolisian!" Ardika berbicara dengan sangat menggebu-gebu. Dia begitu kesal dengan tindakan sang adik. Dia berharap Ayahnya tidak sembarang memberi Rania uang dan kekuasaan.


"Terus, apa lagi, apa bisa kamu selesaikan semua?" tanya sang Ayah.


"Sudah," Ardi berkata pelan.


"Bagus, itulah kenapa Ayah menyekolahkan kamu ke Akademi kepolisian, agar kamu bisa membantu ayah dan membantu sodaramu yang lainya jika mereka butuh bantuan." ujar Tuan Pratama dengan santai.


"Apa?" Ardika tersentak.


"Iya, nama baik Ayah sebagai seorang Mentri ada di tanganmu sekarang. Jika kejahatan adikmu terungkap maka habislah Kita!" tuan Pratama berbicara sambil meminum teh duduk bersandar di kursi kebanggaannya.


"Apa maksud Ayah, sampai kapan aku harus melawan hukum, terus membela kesalahan Rania?" Ardi mengerutkan dahinya dia tidak percaya dengan sang Ayah yang bergitu santai berkata seolah semuanya itu mudah. Selama ini Ardi sudah berusaha menutupi kejahatan Rania. Dia menyembunyikan semua barang bukti hasil kejahatan sang adik. Dan ada laporan tentang kejadian percobaan penculikan dan penusukan, Ardi pun harus menutupi semua kejahatan sang adik.


Dia tidak habis pikir dengan pikiran Ayahnya. Membiarkan putrinya berbuat jahat demi nama baik. Seorang Mentri dalam Negeri yang harusnya menjunjung tinggi nilai hukum. Malah menyarankan dirinya untuk menipu hukum dan membiarkan anaknya sendiri menjadi seorang penjahat.

__ADS_1


"Selamanya, selama kamu masih jadi anakku dan menjadi kakaknya Rania!"


"Apa, apa aku tidak salah dengar Yah, apa benar ini sebuah perintah?" Ardi terheran Dengan ucapan sang Ayah.


"Iya jelas, ini perintah dari seorang Ayah, kamu sebagai anak tertua, harus melindungi keluarga!"


"Ya-Tuhan Ayah, apa ini kata-kata bijak dari seorang Ayah?" Ardi tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya!"


"Kamu menyuruh aku melindungi adiku yang terus berbuat kejahatan?"


"Iya, karena dia adikmu, masa kamu tega memasukan adikmu sendiri ke dalam sebuah jeruji besi, apalagi dia seorang perempuan."


"Karena Ayah adalah seorang Mentri, dan wakil rakyat, maka tidak boleh ada satupun berita miring tentang Rania, apalagi kalau sampai Rania masuk penjara, bisa hancur karier Ayah sebagai seorang Mentri. Karena itulah ,tugas kamu melindungi keluarga, melindungi Rania dan nama baik Ayah, kamu juga harus urus Rosita, adik bungsumu, sepetinya, dia hamil !" ucap sang Ayah


"What, siapa yang menghamili dia?" Ardi tersentak.


"Entahlah, kalau bisa gugurkan saja bayinya, cari Dokter yang bisa membantumu mengugurkan bayi Rosita!"


"Ya-Tuhan, apa lagi ini?" Ardi begitu stres dengan kemelut dalam keluarganya. Kejahatan adik kandungnya saja masih harus dia sembunyikan. Sekarang dia harus membantu mengaborsi kehamilan adik tiri-nya. Itu membuat kepalanya terasa mau pecah. Rasanya Ardi tidak tahan dengan keluarganya yang sudah seperti kapal pecah. Semuanya berantakan.


"Pokonya bereskan semuanya, Ayah tidak mau tahu!" tuan Pratama mulai beranjak dari kursinya dan berdiri. Dia lalu meninggalkan sang putra sulung dengan santai. Sedang Ardi sendiri hanya bisa terdiam berbalut sebuah kebingungan dan berselimut kekecewaan. Ardi menghela nafas beratnya. Dia tidak menyangka keluarganya separah ini. Padahal mereka berlebel seorang Mentri dalam Negeri. Namun ternyata isinya hanya seonggok sampah masyarakat.

__ADS_1


Ardi begitu kecewa dengan kondisi keluarganya. Dia hanya bisa terduduk dengan dilema yang dia rasakan. Dia harus bertemu dengan seseorang agar bisa menenangkan hatinya. Dia lalu melihat layar ponselnya. Dan langsung melakukan panggilan telepon. Tersambung ke sebuah nomor seorang Dokter cantik.


Dokter cantik itu kini sedang membantu seorang pasien koma mengganti pakaian. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dan itu begitu mengagetkannya. Dia belum bisa mengangkat teleponnya. Karena dia sedang kesusahan membantu pasien menggunakan celana panjang.


"Kamu sudah mandi dan ganti baju, ah, kamu selalu saja merepotkan ku, kalau saja kamu tidak mirip dengan seseorang, aku tidak akan membantumu sampai sejauh ini, awas ya, kalau kamu tidak bangun juga, lihat saja nanti, kamu akan aku buang ke tempat pemakaman, hehe sadis kan aku, hei Tuan tampan, aku ingin tahu siapa namamu, setidaknya berbicara lah padaku, awas ya kalau suatu saat kamu bangun, kamu harus mengganti semua uangku yang sudah kamu habiskan, dengarkan aku Tuan,


Tabunganku sudah habis untuk biaya perawatanmu, sekarang aku sedang  mengajukan sebuah pinjaman bank, dengan jumlah yang sangat banyak, 500 juta rupiah. Ah, jangan sekali-kali kamu menyia-nyiakan kepercayaanku. Jika kamu masih belum bangun setelah uang itu habis. Maka aku tidak punya apa-apa lagi, dengan terpaksa aku harus melepas semua alat bantu pernapasanmu. Ingat itu Tuhan, karena itu bangunlah sebelum uang pinjaman itu habis!" Dokter cantik itu terus menggerutu. Sambil memotong kuku sang pria tampan yang kini masih terbaring koma.


Dokter muda itu tidak menghiraukan suara dering telepon. Karena dia sedang fokus membersihkan sang pasien pribadinya. Saat Dokter itu tanpa sengaja memotong daging di sela kuku sang pasien. Maka tiba-tiba saja jari pasien itu bergerak seketika.


"Ya-Tuhan, tukang tidur, tanganmu bergerak?" Dokter cantik itu begitu terkejut karena melihat tangan pria itu bergerak walau hanya satu sesaat.


"Padahal cuma sebentar kamu bergerak, tapi hatiku rasanya senang sekali," bulir air mata menetes di pipi lembut dan putih Dokter cantik itu. Dokter Allana begitu senang ketika melihat pergerakan tangan si pria tukang tidur itu. Entah kenapa hatinya begitu haru. Dia sampai menitikan air matanya saking merasa begitu senang.


Di elusnya tangan yang bergerak sesaat itu, dengan lembut. Dia berharap ada keajaiban untuk pria itu sehingga bisa hidup kembali seperti manusia normal lainnya. Air mata wanita cantik itu terus menetes tanpa bisa dia tahan. Harapannya sangat besar. Pria itu harus bangun. Harus bangun dan wajib bangun. Dia sudah banyak menghabiskan uangnya. Dan kini bahkan dia sudah mengambil pinjaman Bank untuk perawatan sang pria yang sama sekali tidak dia kenal.


Beruntung sekali pria tersebut karena ternyata pria itu begitu di perhatikan oleh wanita yang begitu baik hati. Yang rela dan iklas mengeluarkan. Seluruh hartanya demi biaya perawatan orang asing yang hidup tetapi mati.


"Bergeraklah lagi, aku mohon!" Tangis Dokter Allana dengan semua air mata yang tertumpah.


"Hiduplah, aku mohon!" Wanita itu masih terisak dengan pilu. Tak bisa lagi dia tahan rasa sedih dan haru yang menyatu. Wanita itu sungguh ingin pasiennya sembuh dan bangun serta hidup normal seperti manusia lainnya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2