Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Cemburu


__ADS_3

Benar saja, Kisya datang ke rutan. Kisya menemui Rosaline. Kini Rosaline sudah duduk di hadapannya di temani oleh sipir.


Rosaline tertawa dengan puas secara tiba-tiba.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Kisya menatap wanita jahat itu dengan penuh kebencian.


"Oh tidak, aku tidak tertawa, aku hanya puas membunuh bayi kalian ha ha ha. Aku do'akan kalian tidak memiliki bayi seumur hidup kalian,"


ucap rosalinye dengan tawa ejekannya.


"Tidak mungkin Tuhan mengabulkan do'a orang jahat sepertimu. Dan kamu perlu tau nona pembunuh. Aku sama kak Jino memiliki anak yang sudah besar. Selamat kamu sudah berhasil membunuh janin dalam rahimku. Itu kehamilan ke dua ku. Aku yakin aku akan hamil lagi dan membesarkan anak pertama kami dengan bahagia. Sedangkan kamu akan membusuk di sini selamanya. Dan mendengar berita kebahagiaan kami, aku akan memberikan info langsung kepadamu, jika aku hamil kembali, aku pasti akan hamil kembali, dan kak Jino pasti akan senang," ucap Kisya datar namun tegas.


Rosaline terkejut mendengar bahwa Jino dan Kisya telah memiliki bayi lain. Rosaline menitikan air matanya.


"Aku sangat mencintai Jino sedari aku kecil. Tetapi jino selalu mengabaikanku untuk si Lintang. Dan kini demi kamu yang hanya orang baru, dia mengabaikan aku kembali. Aku benci melihat Jino menggendong kamu dan bahagia di atas luka hatiku. Tapi aku tidak berniat membuat kamu keguguran," ucap Rosaline menitikan air matanya.


Dan Kisya pun hanya terdiam.


"Ma-ap!" kata Rosaline denganĀ  tersedu.


"Kalau saja maap mu bisa mengembalikan nyawa janinku. Aku pasti akan memaapkanmu Nona pembunuh," ucap Kisya tegas lalu pergi meninggalkan Rosaline.


Kisya berjalan dengan tergesa-gesa dan langkahnya terhenti saat dadanya merasa sesak. Kisya menghela nafas serasa sangat berat, dan air matanya pun jatuh tak tertahan. Hatinya serasa sakit mengingat bahwa kini bayinya sudah tak ada lagi di perut nya. Bayi yang kabar kehadirannya membuat dia sangat bahagia. Bahkan Jino pun Sangat bahagia, namun kebahagiaan itu sirna dalam sesaat.

__ADS_1


Kisya mencoba menarik nafas panjang, mencoba untuk menahan tangisnya. Kakinya serasa lemas dan hampir saja kisya terjatuh. Untungnya seseorang memegang tangannya. Seorang polisi yang sangat tampan dan sangat gagah.


"Terimakasih, pak!" ucap kista pelan.


"sama-sama sama kis," ucap perwira Polisi itu dengan tenang.


"Maap bapak kenal saya?" tanya kisya terheran menatap ke arah polisi yang kini sedang berada di depannya.


"Nakisya. Ini aku Ardi," ucap pria itu dengan senyumannya.


"Ardi. Maap kak Aldi kakak kelas ku di SMP?" ucap kisya terkejut dan bibirnya menorehkan senyum manis pada kakak kelasnya itu.


Aldi tersenyum dengan manisnya. Membuat Kisya memerah.


Ardi mengajak Kisya bertukar nomer ponsel dan Kisya pun menyanggupi.


Kisya dan ardi berbicara banyak hal dan tertawa. Lalu Ardi mengatakan ingin bertemu lagi dengannya di lain waktu. Dan Kisya pun menyanggupi. Lalu Kisya tersenyum dan pamit. Ardi tersenyum dengan bahagia sambil melihat Kisya berjalan menjauhinya.


Jino yang melihat sedari tadi merasa sangat geram dan sangat cemburu. Jino memukul stir mobilnya dengan sangat kencang. Apalagi melihat Kisya tersenyum dengan lebar pada pria itu. Rasa cemburunya membakar hati nya. Pria itu Benar benar sangat kesal.


Lalu Jino memutuskan untuk menghampiri Kisya saat itu juga. Pria itu benar-benar sangat berapi-api dan ingin sekali menghajar pria yang telah mendekati istrinya.


"Sayang," ucap Jino dengan suara yang lantang menatap kearah Kisya dan Ardika. Jino begitu cemburu kepada Polisi tersebut Padahal Ardi hanya menyapa saja, sama sekali tidak pernah sedikit pun tersirat untuk menggoda Kisya.

__ADS_1


"Kakak kenapa ada disini?" Wanita itu begitu terkejut mendapati suaminya telah ada di hadapannya. Wajah Jino yang memerah dan rahangnya terlihat mengeras, membuat kisya benar-benar terkejut Kisya tahu dengan benar bahwa suaminya sedang di landa api cemburu.


"Sedang apa di sini sayang? Ayo kita pulang!" ucap Jino dengan penuh penekanan, sambil menatap Kisya lalu beralih menatap ke arah Ardika. Andika hanya tersenyum dengan ramah kepada Jino.


Dengan kemarahan yang memuncak Jino mendekati Kisya dan Andika. Tangan Jino sudah mengepal dan Kisya sudah mengetahui bahwa suaminya begitu marah. Kisya dengan segera memeluk sang suami dan mengelus lembut Pipi Jino.


"Ayo kita pulang, Kak!" Kisya menatap lembut wajah sang suami dan Jino pun menatap Kisya. Rasa marah Jino yang membludak ini turun seketika. Jino benar-benar melumer ketika Kisya memeluknya dan menyentuh lembut pipinya.


"Ayo pulang sayang, jangan pernah dekat dengan laki-laki lain. Aku tidak bisa melihatmu tersenyum kepada pria lain!" Kata Jino begitu pelan sambil menatap sang istri dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dan Kisya hanya mengangguk.


Lalu tersenyum kepada Ardi, dan berniat untuk berpamitan, mereka pun langsung pergi meninggalkan Ardika.


Tetapi sesampainya mereka di dalam mobil. Kisya terdiam dengan wajah yang memerah karena marah. Jino terkejut melihat perubahan wajah dari sang istri.


"Sayang," kata Jino sambil menatap Kisya dengan lembut.


"Kakak tidak usah mencampuri kehidupan aku. Biarkan aku bebas berbicara dengan siapa pun, aku tidak suka di kekang seperti itu, Jangan pernah melakukan apapun yang tidak aku sukai, Ardika itu adalah temanku, tolong kakak menghargai itu, tidak seharusnya kakak marah kepadaku dan kepada Ardika, kami tidak melakukan hal apapun. Dan akupun tidak berbuat lebih jauh, karena aku memang masih istrimu," ucap Kisya dengan mata yang berkaca-kaca.


Sedangkan Jino benar-benar merasa sangat kesal kepada dirinya sendiri. bisa-bisanya dia cemburu seperti itu, dan membuat Kisya menangis lagi.


"Maafkan aku sayang, aku hanya merasa cemburu. Aku hanya tidak mau kehilanganmu, dan aku sangat mencintaimu!" Katanya Jino dengan tatapan yang penuh cinta, menatap sang istri dengan sangat lekat.


Kisya sendiri tidak bisa berkata apapun dia merasa sangat tersentuh dengan ucapan Jino barusan. Sepertinya sedikit demi sedikit kata-kita cinta yang di katakan oleh Jino mulai merasuk ke dalam hatinya. Membuat Kisya merasa tidak sanggup untuk berkata apapun, karena tiba-tiba saja jantungnya berdebar begitu kencang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2