Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Mencari tahu dan menjaga


__ADS_3

"Tolong lacak nomor telepon yang masuk ke rumahku, semuanya tanpa terkecuali!" Ucap Jino pada beberapa anak buahnya.


"Siap bos!"


"Yasudah kalian pergi, terus suruh James kemari!"


"Siap bos!" Lalu merekapun pergi meninggalkan Jino. Jino duduk di kursi kebesaranya. Dia meminum teh hangatnya sambil membaca dokumen penting.


"Pak." Angel datang sambil membawa setumpuk berkas.


"Apa itu?" Jino mengernyitkan dahinya.


"Ini arsip laporan bulan lalu, mau saya simpan!"


"Terus untuk apa kamu kesini?" Jino menatap Angel heran.


"Ada telepon dari Ausi pak."


"Hah, kapan itu?" Jino terkejut.


"Tadi pagi sewaktu bapak sedang bersama dengan para hackers."


"Ya ampun, Angel, itu telepon penting,   Rosaline bilang apa?" Ucap Jino dengan penuh rasa ingin tahu.


"Dia bilang akan menelepon besok!" Ucap Angel.


"Baiklah, terimakasih Angel, tolong Kalau lain kali sesibuk apapun aku, jika ada telepon dari Ausi, tolong katakan padaku!" Ucap Jino dengan suara seraknya.


"Baik pak, akan saya ingat." Angel lalu pergi meninggalkan Jino. Tiba-tiba saja seseorang masuk. Seorang pria dengan jaket kulit berwarna hitam. Mengenakan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam. Dia begitu tanpan dengan janggut tipis di dagunya. Menambah maskulin penampilanya.


"Bos!" Pria itu menyapa Jino.


"Hai James, bagaimana, buktinya sudah ketemu?"

__ADS_1


"Belum bos, semua kamera CCTV raib," Ucap James.


"Bego kamu!" Bentak Jino.


"Maaf bos!" James menunduk.


"Sekarang tugas kamu menjaga anak dan istriku, jangan menakutinya, jaga mereka dari jarak yang agak jauh, kisya pasti tidak mau jika kamu terlalu dekat!" Ucap Jino.


"Baik bos!"


"Satu hal lagi.. jangan berbicara apapun dengan istriku kecuali dalam keadaan darurat, jangan menyentuhnya atau menatapnya!" Ucap Jino dengan penuh penekanan.


"Bos kamu takut istrimu jatuh cinta padaku ya!" Ucap James terkekeh.


"Bodoh, diam!" Jino membentak.


"Siap!" James langsung menutup mulutnya. Sebenarnya dia ingin tertawa melihat bosnya terlihat begitu takut istrinya di sentuh. James melihat hawa posesif di mata pria dengan jas abu itu. Jino memang begitu posesif terhadap Kisya. Jino sangat tidak mau orang lain menyentuhnya walau cuma seujung rambut. Karena Kisya adalah miliknya dan hanya miliknya.


"Kalau terjadi seseuatu terhadap anak dan istriku, maka aku akan membunuhmu!" Ucap Jino dengan tegas.


"Siap bos!"


"Siap bos, saya permisi!" James lalu pergi meninggalkan ruangan Jino. Jino duduk dan mengehela nafas. Dia bingung dengan anak buahnya. Kenapa bisa tampan sepertu itu. Pantas saja banyak gadis menyukainya. James sebenarnya adalah teman SMP nya Jino. Namun karena keadaan ekonomi keluarganya yang miskin kini James menjadi orang suruhan Jino. Dan sekarang James menjadi bodyguard nya Kisya.


Jino tidak mau seseuatu hal terjadi kepada anak dan istrinya. Teror telepon lagi tadi sudah cukup membuat hatinya berdebar. Dia tidak mau ambil risiko Dengan membiarkan Kisya terluka. Apalagi buah hati mereka. Jino lalu menandangani beberapa dokumen dan langsung keluar dari ruang kerjanya. Kini Jino melangkah menuju ke ruang kerja sekertarisnya.


"Angel!" Ucap Jino.


"Iya pak?" Angel berdiri dari duduknya.


" Aku mau ke perusahaan Papa, aku akan makan siang disana, jika ada seseuatu hal tolong handle semuanya, kecuali sangat emergensi!" Ucap Jino.


"Oke , siap pak!" Angel mengangguk dan tersenyum dengan manis.

__ADS_1


Jino lalu berjalan menuju ke parkiran gedung. Dan mulai mengemudikan kendaraanya menuju ke perusahaan sang Papa. Sesampainya disana Jino langsung memberitahu kepada Papa soal teror telepon yang mereka terima pagi tadi. Tentu saja Papa sangat terkejut mendengar semua ucapan Jino. Papa pun merasa aneh siapa yang tahu kalau Jeff sudah menikah dengan Kisya.


Setahu Papa, hanya keluarga saja yang tahu kalo Jeff itu sudah menikah dengan Kisya.  Mereka sesaat terdiam memikirkan apa yang harus mereka lakukan. Jino sudah mengatakan jepada Papa bahwa dirinya telah membayar orang untuk menjadi pengawal Kisya dan juga menjadi pencari data. Tidak tanggung Jino menyewa 3 orang hackers untuk melacak nomor telepon yang sudah berani menteror Kisya.


"Sebaiknya kamu memang tinggal bersma kami saja, Kisya akan sering di rumah sendiri saat kamu tidak ada di rumah, Papa cemas keselamatan mereka." Ucap Papa dengan gurat kecemasan yang terlihat di mimik wajah tua nya.


"Iya pa, Jino juga berfikir seperti itu, kami sementara akan tinggal bersama Papa dan Mama!" Ucap Jino.


"Heran, kenapa bisa ada hal yang seperti ini, apa kamu punya musuh Jino?" Tanya Papa.


"Jelas saja tidak Pa!" Tangkas Jino.


" Atau apa mungkin saja orang yang membenci Kisya?"


"Bisa jadi pa, tapi dengan allasan apa dia membenci Kisya, setahu Jino Kikis tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun Pa, Kikis orang yang sangat baik dan pemalu!" Ucap Jino.


"Iya Papa tahu itu, tetapi sudah ada kejadian seperti ini, apa kamu tidak mencurigai seseorang, Jino?" Tanya Papa.


"Tidak Pa," Ucap Jino dengan menggelengkan kepalanya. Mereka berdua di landa kebingungan. Karena sudah ada dua kejadian yang ganjil.


Sesaat suasa begitu hening mereka berdua sama-sama berfikir mencari tahu jawaban dari semua kejadian ini.


🌺🌺🌺


Kisya sudah terlalu lama di rumah Lintang. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah Mama Murni. Kisya membawa Baby Vano dalam gendonganya. Hari sudah mulai sore dan Kisya harus pulang untuk memasak menyambut kepulangan sang suami dari kantor.


Kisya memang sangat suka memasak. Dia sangat senang jika Jino memakan masakanya Dengan sangat lahap. Makanya Kisya sebisa mungkin meluangkan waktunya hanya sekedar untuk memasak untuk sang suami tercinta. Kisya kini sudah dalam perjalanan pulang. Sesampainya di rumah Mama Murni sudah menyambut.


Mama Murni langsung menggendong cucu kesayanganya. Dan menidurkanya di kamarnya. Mama Murni memperlakukan Baby Vano begitu spesial. Rasa sayangnya terhadap Baby Vano melebihi rasa sayangnya kepada Jino dan Kisya. Baby Vano bahkan selalu tidur bersama dengan Mama dan Papa. Jika sehari saja Baby Vano tidak datang ke rumahnya. Maka Mama Murni akan menyusul Baby Vano ke rumah Jino dan Kisya.


Sementara mama menidurkan Baby Vano. Kisya mulai mempersiapkan bahan untuknya memasak. Lalu Kisya mulai memasak dengan hati yang senang dan semangat. Dia tidak sabar ingin berjumpa dengan sang suami. Padahal mereka baru berpisah tadi pagi, tetapi anehnya Kisya sudah merasa rindu kembali.


Begitupula dengan Jino. Jino selalu ingin cepat pulang ketika pekerjaannya sudah selesai. Dia sudah sangat merindukan istrinya yang cantik. Jino selalu merasa rindu terhadap wanita yang kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya itu. Wanita yang kini menjadi nyawanya dan ibu dari anaknya. Jino dan Kisya saling merindu Padahal mereka baru berpisah beberapa jam saja.

__ADS_1


🌺 Bersambung 🌺


__ADS_2