
Akhirnya Lintang bisa menemukan obat untuk sang Papa. Papa sudah kesakitan. Wajahnya membiru karena sesak nafasnya Sudah menjalar.
"Pa, ini minum obatnya!" Ucap Lintang membantu Papa meminum obatnya. Papa Geovandra mencoba menelan obat tanpa minum. Dan selang lima menit. Papa Geovandra sudah sedikit bisa bernafas dengan lega. Papa Geovandra memang memiliki penyakit jantung. Dan akan kambuh tiba-tiba jika ada hal yang membuat dia terkejut.
Kisya mulai membuka matanya.
"Mana kak Jino, mana Lintang?" Kisya kembali menangis dengan histeris.
"Kisya." Ucap Papa pelan.
"Papa." Kisya menjerit dengan sangat nyaring. Kisya memeluk tubuh sang papa yang lemah.
"Papa kenapa, Lintang Papa kenapa?"
"Penyakit jantung Papa kambuh." Ucap Lintang dengan mata basahnya. Kisya begitu iba melihat Papa begitu lemah. Kisya mengeratkan pelukanya. Dia begitu takut Papa kenapa-napa.
"Kamu jangan menangis lagi, siapa tau Jino tidak jadi berangkat?" Ucap Papa pelan. Kisya mengangguk dan mulai menyeka air matanya. Saat ini hati Kisya tercabik. Dia sangat ingin tahu keberadaan sang suami.
"Apa kita telepon Mama sama Bunda Pa?" Tanya kisya dengan sesegukan.
"Jangan dulu nak, kita tunggu informasi sebentar ya, kita berdoa semoga saja Jino gagal berangkat!" Ucap Papa sambil mengatur nafasnya.
"Apa Papa mau ke rumah sakit?" Tanya Lintang.
"Tidak Lintang, kita tunggu saja disini ya, Papa sekarang sudah baikan." Ucap Papa pelan.
__ADS_1
"Aku cari minum dulu ya!" Lintang beranjak dan pergi mencari minuman untuk Papa. Hati Lintang sebenarnya sakit. Tetapi dia harus kuat. Karena papa Geovandra juga butuh perhatian. Lintang merasa sangat syok melihat Papa seperti tadi. Dan itu membuat Lintang ketakutan.
Di sisi lain Kisya masih duduk bersama sang Papa. Hanya terdiam sambil memandang hal yang tidak penting. Tatapan Kisya begitu kosong. Yang ada dalam pikiranya hanya tentang keselamatan Jino suaminya. Kisya merasa tuhan tidak adil padanya. Jika dia mengambil Jino seperti ini.
Tidak bisa dia bayangkan bagaimana nasib dirinya bersama buah hati mereka tanpa sang suami.
"Kak, aku merindukanmu, kak kamu di mana?" Kisya berkata dalam hatinya. Wanita itu begitu merindukan sang suami. Dia menyesal selama sebulan pernikahanya dia bahkan tidak pernah berbincang dengan suaminya sama sekali. Dia merasa sangat menyesal. Jika waktu bisa di putar. Maka dia tidak akan berbuat bodoh seperti itu lagi.
Kisya meneteskan air matanya kembali. Hatinya seolah tertusuk rubuan pedang. Dia melihat ke sekelilingnya. Ada banyak orang yang menangis dan menjerit. Bukan cuma dirinya yang sedang berduka. Namun semua yang ada di sana sedang berduka. Kisya terus meneteskan air matanya. Rasa sesak di dadanya membuat dia tak berhenti menangis.
Lintang sayang dan duduk di samping Papa dan Kisya. "Kis ini minumannya, pa ini minum dulu!" Lintang menyodorkan minumanya kepada dua orang yang kini telah terduduk dengan lemah. Papa mengambil air mineral itu dan langsung neminumnya. Sedang Kisya hanya memegangnya saja. Kisya masih tak bisa menerima keadaan ini. Tubuhnya lemas dan seolah tak bisa bergerak.
Padahal itu hanya perasaanya sendiri. Kisya masih menutikan air maya sambil membayangkan wajah sang suami. Tiba-tiba seseorang menelponnya. Teryata itu Mama Murni. Mama Murni melihat berita dan ingin memastikan informasi. Kisha hanya bisa menangis tak bisa berkata apapun pada Ibu mertuanya. Batinnya tersakiti. Kisya menangis dengan pilu.
Mama Murni begitu terkejut mendengar isak tangis sang menantu. Tubuh Mama Murni bergetar. Dia lalu menutup teleponya. Dan langsung bergegas Menggendong Baby Vano untuk berangkat ke bandara. Mama Murni diantar oleh sopir. Sepanjang jalan Mama Murni terus menangis. Dia tak bisa kehilangan kedua putranya dengan cara seperti ini. Air matanya terus mengalir deras.
"Sudah Jeff, dan tidak boleh lagi, Jino tidak boleh pergi!" Ucap Mama Murni sambil terus menangis.
Baby Vano untungnya kali ini anteng dan tenang. Dia mengenggam dasi sang Daddy yang menjadi benda kesayanganya. Entah kenapa dasi Jino harus dia bawa kemanapun. Mama Murni masih terus menangis. Sampai akhirnya mereka sampai di bandara. Mama Murni lalu mencari keberadaan keluarganya. Dia berjalan sambil mendorong stroler Baby Vano yang kini malah tertidur dengan nyaman.
"Mama, Kis itu Mama sedang mencari kita." Ucap Papa pelan. Kisya lalu menyeka air matanya dan langsung melambaikan tanganya. Mama langsung melihat lambaian tangan sang menantu.
"Kis," ucap Mama dengan mata yang basah. Kisya langsung memeluk sang Mama dan kembali menangis. Mereka berdua menangis dengan pilu. Terlalu banyak cobaan dalam keluarga Geovandra. Semuanya terlalu menyakitkan. Kisya dan Mama adalah bukti wanita yang tersakiti oleh permainan takdir tuhan yang begitu kejam.
"Papa kenapa?" Ucap Mama Murni dengan kecemasanya saat melihat suami terduduk dengan lemas. Muka Papa memang terlihat sangat pucat. Mama begitu khawatir lalu Mama menyentuh kening sang suami. Dan Papa berkeringat dingin.
__ADS_1
"Papa kenapa?" Sekali lagi Mama bertanya.
"Sakit Papa tadi kambuh Ma." Ucap Kisya pelan. Aku sendiri tidak tau, karena tadi Lintang yang membantu Papa." Ucap Kisya pelan.
"Benarkah Pa, Lintang , terimakasih sudah membantu Papa!" Ucap Mama dengan senyumannya.
"Sama sama Ma." Ucap Lintang. Kisya lalu menatap Baby Vano yang sedang tertidur dengan lalap. Baby Vano masih menggengam dasi milik sang Daddy. Entah kenapa hati Kisya tiba-tiba saja tenang. Tidak biasanya Baby Vano setenang ini. Mungkin saja memang benar apa yang Papa katakan, bahwa Jino tidak jadi berangkat ke belanda. Kisya mengelus dan nengecup kening bayi tampan itu.
"Baby sayang, kamu tidur dengan setenang ini!" Kisya menitikan air matanya. Ketika memandangi putra kesayanganya. Baby Vano masih anteng dengan mimpinya.
"Apa sudah ada informasi?" Tanya Papa kepada Lintang. Lintang menggelengkan kepalanya. Mereka terdiam sesaat. Memendam rasa perih yang mereka rasakan dalam hati masing-masing. Sebuah harapan masih tersimpan dalam hati. Mereka masih berharap Jino ada di samping mereka. Tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri mereka.
"Papa,!" Ucap seorang Pria dengan suara yang khas. Semua mata tertuju ke arah suara yang sangat mereka kenal.
"Yatuhan!" Lintang berteriak spontan. Matanya membulat menatap pria yang berdiri kokoh di hadapan mereka semua.
"Putraku." Jerit sang Mama dengan Tangisanya yang meledak. Mama langsung berdiri dan berlari menuju ke arah pria yang ada di hadapannya.
🌺 Bersambung 🌺
Hayoo siapa yang datang coba tebak.. Maafin ya aku udah bikin kalian kesel heheh. Yang kesal sama aku, sini aku peluk. Wkwk aku lihat hampir semua kesal. Maaf yaa imaginasiku agak jahat hehe.
Salam sayang dariku muaachh.
Babay 🌺Lee Evangelin_Harvey
__ADS_1
Sampai jumpa besok.