Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Pirasat


__ADS_3

Pagi itu Jino hendak sarapan pagi di resto bersama ke empat rekannya yang dia bawa dari Negaranya. Saat dia hendak meminum kopinya. Ternyata kopinya terlalu panas.


"Aw." Jino merasa kepanasan dia simpan cangkir kopi tersebut dengan segera, tetapi malah jatuh ke lantai.


"Prankk." Cangkir kopi itu remuk dan berserakan di lantai resto.


"Anda tidak apa-apa kan pak?" Tanya Nona Sani merasa terkejut. Tangan Jino tiba-tiba saja bergetar. Entah kenapa dia seperti itu.


"Hatiku tidak tenang," Jino lalu meraba sakunya. Dia mencari ponselnya hendak menghubungi Kisya dan Baby Vano.


"Anda mencari sesuatu Pak?" Tanya Nona Sani sekali lagi.


"Ponselku, aku tidak melihatnya beberapa hari ini." Jino mulai gelisah mencari ponselnya.


"Mungkin ada di kamar Pak!" Ucap Nona Sani.


"Iya mungkin saja, aku akan mencarinya!" Tanpa menyelesaikan sarapannya Jino lalu beranjak dan kembali ke dalam kamar hotelnya. Dia masuk ke kamar dan mencari keberadaan ponselnya. Dia mencari dan mencari sampai akhirnya Jino bisa menemukan ponsel tersebut.


"Ini dia!" Jino tersenyum senang lalu melakukan pengisian batrai. Lewat pawerbank dan ponselnya lalu dia masukan ke dalam tas. Lalu Jino kembali ke resto dan mengajak semuanya untuk bersiap berangkat ke kantor. Karena pekerjaan mereka masih banyak. Jino bergegas hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja.


Dorrr.


Seseorang menembak lengan kiri Jino.

__ADS_1


"Ahh..." Jino terlihat kesakitan sambil memegang tangan kirinya. Kedua bodyguard Jino lalu mencari keberadaan penembak itu. Sedang Jino segera di bawa oleh Nona Sani dan Edward ke dalam mobil. Mereka bergegas untuk pergi ke rumah sakit terdekat karena Jino sudah sangat kesakitan.


Edward melanjukan kendaraanya dengan sangat cepat. Dia melihat Jino mengeluarkan banyak darah di daerah tangan yang tertembak.


"Edward cepat kasian Pak Jino sudah mengeluarkan banyak darah!" Nona Sani berteriak dengan sangat lantang sambil memegangi bahu Jino. Nona Sani hendak memeluk Jino karena merasa iba dan kasian. Tetapi Jino tidak mau Sani memeluknya. bahkan Jino segera menjauh dari sekertarisnya itu. Jino menepis tangan Nona Sani dengan perlahan. dia sedang menahan segala rasa sakitnya. namun Jino memang sangat tidak suka tubuhnya di sentuh oleh orang lain. sekalipun itu adalah sekertarisnya sendiri. Jino memang sudah kebiasaan sedari dulu. senakal-nakalnya Jino, dia tidak akan mau di  sentuh apalagi menyentuh perempuan yang tidak dia sukai.


Sekalipun kondisinya seperti ini. tak berdaya dan begitu lemah tetapi dia tidak mau Nona Sani menyentuhnya. tangan Jino sudah mengeluarkan banyak darah. sesampainya di rumah sakit. Jino langsung masuk Instalasi gawat darurat dan segera mendapatkan penangan medis.


"Dok, saya sudah tidak kuat." ucap Jino dengan suara lemah. (menggunakan bahasa english).


"Sabar Pak, kami akan segera melakukan operasi Pengangkatan peluru." ucap Dokter dengan menorehkan sedikit senyum. dan Jino mengangguk.


Perawat segera memberikan infus dan beberapa perisapan untuk masuk ruang operasi. dan tidak menunggu lama Dokter segera melakukan operasi Cito terhadap Jino. selama Jino di dalam ruang operasi, Nona Sani dan Edward sangat cemas. Nona Sani lalu melakukan panggilan telepon kepada Tuan Geovandra. beberapa saat kemudian telepon itupun tersambung.


"Hallo Pak Presdir, maaf saya menggangu, ada yang mau saya laporkan kepada anda." ucap Nona Sani dengan suara bergetar. Nona Sani saat itu sunguh cemas dan ketakutan.


"Ada apa?" Tuan Geovandra mengerutkan keningnya mendengar suara sekertarisya yang bergetar seperti itu.


"Pak presdir, ada hal serius yang menimpa direktur." ucap Nona Sani masih bergetar.


"Ada apa Nona Sani?"


"Ini soal direktur Pak, tadi ada sebuah insident penyerangan, lebih tepatnya penembakan yang terjadi di luar hotel Pak, dan hal itu mengenai tangan direktur."  Nona Sani masih bergetar.

__ADS_1


"APA?" Tuan Geovandra merasa terkejut mendengar ucapan dari sekertarisnya. matanya membulat dan sangat cemas. wajanya berubah pucat dan keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya. Mama Murni melihat sang suami yang tiba-tiba memucat. tubuh Papa Geovandra bergetar. dia tidak percaya mendengar kabar seperrti itu.


"Nona Sani, tolong jelaskan semuanya!" ucap Papa Geovandra sambil keluar dari ruang rawat inap sang cucu. Papa tidak mau Mama Murni dan Kisya mendengar semua berita buruk itu. apalagi sekarang kondisi Kisya begitu rapuh karena Baby Vano yang masih dalam kondisi sakit.


"Baik Pak Presdir, Ini semua terjadi satu jam yang lalu Pak, sekarang kedua bodyguard sedang mengejar sniper tersebut." ucap Nona Sani.


"Bagaimana kondisi putraku saat ini?" suara Papa melemah ketika menanyakan hal itu. kabar tentang putranya yang sangat dia sayangi. sungguh dia sangat cemas dan ketakutan. Papa sangat takut Jino terluka parah dan tidak bertahan. saat ini hanya Jino lah tujuan hidupnya. dia satu satunya putra yang sangat dia andalkan.


"Pak direktur sekarang sudah berada di dalam ruang operasi pak, tadi pak direktur masih kuat dan dia masih berbicara dengan Dokter dan mengeluhkan rasa sakitnya." tutur Nona Sani.


"Syukurlah, aku yakin Jino pasti akan kuat, dia tidak selemah orang lain, aku yakin itu." ucap Papa Geovandra dengan memejamkan matanya dan bernafas dengan lega. dia sangat meyakini dengan sepenuh hati bahwa putranya pasti akan kuat dan bertahan.


"Pak presdir, lantas apa yang harus saya lakukan?" tanya Nona Sani.


"Nona sani kamu tinggal saja di rumah sakit. dan temani putraku, rawat dia sampai dia sembuh, semua investigasi serahkan kepada Edward. aku akan mengirim Nona Angel dan beberapa pengawal lain. tetapi sebelum itu kamu suruh Edward untuk menyewa beberapa pengalawal untuk melindungi kalian di rumah sakit. jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam ruangan Jino dan mengganggu masa pemulihannya." ucap Tuan Geovandra.


"iya pak presdir, akan saya laksanakan semua perintah presdir!" ujar Nona Sani dengan suara tegas. lalu merekapun menutup telepon mereka. Nona Sani segera memberitahu Edward untuk menyewa beberapa pengawal atau polisi di Amsterdam untuk menjaga kamar rawat Jino. dan Edward menyanggupi. Endwarpun dengan segera melakukan perintah Nona Sani. Edward segera pergi ke kantor dan dalam perjalanan dia mampir ke kantor polisi terdekat dan meminta pengwalan untuk Jino. setelah itu Edward langsung ke kantor.


kedua pengawal Jino lalu menelpon Edward dan mengatakan bahwa mereka sudah berhasil menangkap snipers tersebut. ternyata mereka itu memang orang suruhannya si tua bangka Jacob. Edward sangat geram dan menyuruh pengawal mereka untuk menyembunyikan snipers itu di suatu tempat rahasia. dan pengawal itupun menyetujui semua perintah Edward.


Sesampainya dia di kantor. dia mulai memeriksa kembali berkas. dan menyimpan semua barang bukti yang dia temukan saat itu. di sisi lain Nona Sani masih berada di luar ruangan oprerasi dan masih merasa cemas dengan kondisi bos-nya.


🌺bersambung🌺

__ADS_1


__ADS_2