
Jino hari ini sudah boleh pulang dari rumah sakit. Dia merasa lebih baik, walau memang masih terasa sakit. fisik Jino lebih kuat dan tidak selemah itu. Jino hanya perlu dirawat tiga hari pasca operasi. Dan dia sudah rewel saja kepada Dokter ingin segera pulang. Dia harus segera menyelesaikan masalah yang mendera.
Nona Sani mempersiapkan semua barang Jino di rumah sakit dan berkemas untuk kembali ke hotel. Jino sendiri sudah ingin segera ke kantor. Kini penjagaan lebih ketat dari biasanya. Jino sekarang pergi hendak ke sebuah gudang tua yang sudah di sewa Edward.
"Nona Sani, pergilah ke kantor dan bantu Angel, terus suruh Edward menyusul saya ke gudang!" ucap Jino sambil berjalan masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah di siapkan oleh pengawalnya.
"Baik, Direktur!" Nona Sani mengangguk dengan senyumannya. Lalu mereka menaiki mobil yang berbeda dikarena tujuan mereka pun berbeda. Nona Sani berangkat ke kantor sedang Jino ke berangkat sebuah gudang tua yang sudah Edward sewa. Dalam perjalanan Jino lalu melihat ponselnya dan menatap sebuah poto wanita cantik dan seorang bayi. Siapa lagi kalau hukan foto istri dan anaknya.
Kisya dan Baby Vano adalah penyemangat untuk Jino agar segera bisa menuntaskan masalah di kantor cabang. Supaya dia bisa segera pulang ke indonesa. Pria itu sudah sangat merindukan biru langit depan mansion-nya. Rasanya keindahan Amsterdam tidak pernah sebanding dengan keindahan Negara asalnya.
Apalagi disana ada seirang wajah cantik dan lugu yang selalu tersenyum menyambut kepulangannya. Karena itu keindahan Amsterdam tidak sebanding dengan keindahan Negara asalnya karena memang disana ada wanita yang sangat dia cintai membuat hidupnya lebih indah dan berwarna.
Jino menghela nafas berat karena rasa rindunya kepada sang istri. Dia sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan sosok manusia yang cantik bak bidadari itu. Benar sekali, di mata Jino saat ini hanya Kisya lah yang tercantik, termanis dan terlucu. Jino membayangkan betapa manjanya istri cantiknya itu.
Masih ingat rengekan manja sang istri, dan dia masih merasakan gelinya ketika sang istri merajuk padanya. Saat ini tujuan utamanya adalah membongkar semua kejahatan Jacob dan memulihkan perusahaan. Lalu dia segera pulang dan kembali berkumpul bersama dengan keluarganya.
Dalam perjalanan Jino lalu mengirim pesan. Kepada sang istri mengungkapkan bahwa dirinya begitu merindukan Kisya. Dan Kisya begitu girang mendapatkan pesan singkat dari sang suami tercinta. Saat ini Jino belum bisa menelepon karena dia sudah mau sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1
Benar saja, kini Jino sudah berada di halaman gudang itu. Dia keluar dari mobilnya. Kini Jino memiliki beberapa pengawal. Dan dia pun segera masuk ke gudang itu. Tanpa di sangka ternyata Edward sudah berada di sana bersama dengan beberapa anak buahnya yang Papa kirim dari Indonesia.
"Direktur , apa anda sudah baikan?" Edward terlihat senang melihat Jino dalam kondisi sehat dan baik-baik saja. Jino hanya nengangguk dan tersenyum dengan tipis. Kini mata Jino sudah terfokus pada pria yang telah terikat dan duduk di sebuah kursi kayu. Pria itu tidak bisa bergerak karena ikatannya begitu kuat.
"Apa dia orangnya?" Tanya Jino dengan mata yang memicing, menatap Edward.
"Iya pak, kita dan dia sudah berhasil berbicara. Kami sudah merekam semua pengakuan dia, untuk barang bukti di pengadilan kelak."
"Baguslah," Jino lalu mendekati pria tersebut. Badannya lumayan besar dan tinggi. Dia berkulit putih dengan rambut berwarna coklat tua. Dia adalah sniper suruhan Jacob untuk membunuh Jino.
Jino menatap wajah pria itu dengan tatapan mata membunuhnya. Pria itu bahkan hanya menunduk saja. Wajahnya sudah babak belur karena di siksa oleh anak buahnya Jino dan Edward. Tujuanya penyiksaan itu supaya pria itu mau mengakui suruhan siapa. Dan benar saja pria itu sudah lemah karena siksaan dan sekarang sudah mengakui perbuatannya dan mengatakan semua tentang rencananya juga bossnya.
"Vergeef me baas, laat me leven, ik beloof dat ik alles later voor de rechtbank zal onthullen." (ampuni aku bos, biarkan aku hidup, aku berjanji akan mengungkapkan semuanya di pengadilan nanti). Pria itu memohon dengan sangat. Sambil menahan rasa sakit karena Jino menjambak rambutnya dengan sangat kuat.
Jino lalu melepaskan jambakan rambutnya dan duduk di kursi di hadapan pria itu. Jino terseyum sinis kepada pria itu. Lalu Jino memperlihatkan sebuah foto seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun. Jino memperlihatkan foto itu kepada pria yang kini masih terikat dengan tali.
"Goh baas, doe mijn dochter geen pijn!" (Ampun bos jangan sakiti putriku). Pria itu memohon dengan ketakutan ketika jino memperlihatkan foto anaknya. Jino terkekeh lalu berbisik di telinga sniper tersebut.
__ADS_1
"Putrimu cantik." Jino lalu tertawa kembali.
Pria itu tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Jino. Pria itu terus memohon agar Jino tidak melukai putrinya. Pria itu salah sangka. Dia berfikir Jino akan berbisik dan akan membunuh putrinya. Padahal Jino hanya berbisik mengatakan bahwa putrinya cantik. Karena pria itu tidak mengerti bahasa Indonesia maka pria itu salah sangka.
Pria itu sungguh ketakutan putrinya di apa-apa kan. Karena itu dia sampai menangis memohon dan meratap kepada Jino. Sedang Jino hanya terkekeh melihat aksi si Sniper gagah itu.
"Dia ternyata seorang Ayah yang penyayang!" Jino terseyum menatap Edward. Dan Edward mengangguk sambil membalas senyuman dari bos-nya.
"Dia sudah tidak bisa berkutik bos, dia sangat menyayangi keluarganya, dia pasti akan menurut kepada kita!" ucap edward.
"Iya betul, tapi jaga dia baik-baik, karena si Jacob tua bangka itu pasti akan membunuhnya sebelum dia sampai di pengadilan. Karena itu upayakan untuk menyebar rumor bahwa penjahat yang menambakku belum juga tertangkap!" tutur Jino.
"Siap bos, penjaga kita sudah banyak sekarang, pak presdir sudah mengirim banyak anak buahnya kesini, jadi kita bisa bernafas dengan lega." ujar Edward dengan senyuman manisnya. Dan Jino pun mengangguk dengan senyum senangnya. Jino lalu bergegas pergi menuju ke kantor bersama dengan Edward. Meninggalkan si Sniper tak berdaya itu bersama beberapa anak buahnya.
"Jaga dia baik-baik, jangan sampai kabur!" Jino berkata kepada salah satu anak buahnya. Lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Bersambung