Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Sebuah Perdebatan


__ADS_3

"Mama mau ke mana?" tanya Jeff kepada sang ibu.


"Jeff, besok kan hari pernikahanmu sedangkan baby Vano sepertinya tidak bisa ikut bersama kita, mengantarmu ke Bandung. Jadi Mama ingin menemani baby Vano bersama ibunya di rumah dia. Mama sebenarnya sangat sedih Kisya tidak bisa ikut bersama kita, tetapi ini demi kebaikanmu sendiri, agar kamu bisa yakin, dan segera melupakan Kisya selamanya," tutur sang mama kepada Jeffan.


"Baiklah kalau begitu berhati-hatilah di jalan," ucap Jeff kepada sang ibu. Lalu Mama Murni pun tersenyum. Mama Murni segera pergi naik ke dalam mobilnya diantar oleh Pak Sopir melaju ke arah kediaman Jino dan kisya.


Jeff sendiri hanya bisa termenung, dia tidak tahu kenapa sampai saat ini bahkan dia belum bisa melupakan wanita tersebut. Padahal sudah jelas Kisya kini sudah bahagia bersama keluarga kecil mereka, dia harus secepatnya move on dan memiliki keluarga sendiri agar semuanya lebih indah dan bahagia.


Pria itu menghela napas kasar, lalu merebahkan tubuhnya di sofa, di dalam kamarnya. Dia hanya ingin memejamkan mata saja, sambil menikmati momen-momen indahnya sore hari. Hari ini adalah hari terakhir dia sebagai pria yang lajang, karena esok dia bahkan akan segera meminang wanita yang bagaikan malaikat untuknya.


πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„


Sedang Mama Murni kini sudah sampai di kediaman Jino dan Kisya, mama Murni membawakan banyak sekali makanan untuk keluarga Kisya. Dari kejauhan baby Vano sudah berlari mengejar sang nenek yang berjalan ke arahnya, balita itu benar-benar sangat merindukan neneknya, karena tidak dipungkiri kasih sayang mama Murni untuk baby Vano sangat besar, karena memang selama ini dia lah yang selalu merawat baby Vano dikala Kisya dan Jino sedang ada keperluan.


"Ya ampun tampan sekali Cucu Omma. Sudah mandikah baby?" tanya mama Murni kepada baby Vano. Balita tersenyum sambil mengangguk, dia tidak henti memeluk sang nenek. Mama Murni langsung menggendong cucu kesayangannya dengan pelukan yang sangat manis.


"Mama bawa apa? Kenapa banyak sekali bawaannya?" Kisya terkekeh melihat sang ibu mertua membawa banyak sekali barang entah apa itu isinya.


"Sayang itu adalah makanan. Ayo sekarang kita makan bersama, Jino mana? Ayo kita makan," kata Mama Murni kepada sang menantu.

__ADS_1


"Kak Jino ada di kamar Ma, sebentar Kikis panggilkan dulu ya," kata Kisya menorehkan senyum yang manis kepada sang Mama, lalu mama Murni mengangguk. Mama Murni langsung bermain bersama baby Vano. Mama Murni sungguh bahagia bisa bercengkrama seperti ini bersama cucu kesayangannya.


Sedang Kisya kini berjalan menaiki tangga menuju ke arah kamar mereka, sore itu Jino baru saja pulang dari kantor, dia baru selesai mandi dan sekarang sedang berganti pakaian, Kisya masuk tanpa mengetuk pintu, dan membuat Jino benar-benar merasa terkejut.


"Sayang, ada apa?" Kisya terkekeh melihat sang suami merasa terkejut atas kedatangannya.


"Aku kan sedang berganti baju, Sayang. Jadi wajar saja kalau aku terkejut. Ada apa? Rindu ya?" tanya Jino dengan menorehkan senyum yang manis kepada istrinya, istri yang benar-benar cantik yang sangat dia cintai.


"Sayang, Mom kesini mau mengajak Daddy makan malam, mama Murni sudah ada di bawah, bersama baby Vano, Mom juga sudah lapar," Kisya menorehkan senyum yang manis kepada suaminya, kini Jino sudah lengkap dengan pakaian yang dikenakan, lalu Jino pun mengangguk dan menggenggam tangan sang istri dengan lembut.


Pria itu menggandeng sang istri berjalan menuju ke lantai bawah, hendak melakukan makan malam bersama dengan mama Murni.


"Papa mana Ma?" tanya Jino kepada mama Murni.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi?" Jino mengerutkan keningnya.


"Nak, papa mencoba untuk membebaskan Rosaline, bagaimana pun Rosaline adalah keponakan papa dan dia adalah sepupumu, dia memang telah membuatku terluka tetapi gadis itu melakukannya tanpa disengaja, jadi Mama mohon Kisya dan Jino bisa memaafkan Rosaline dan membiarkan rosaline bebas dari penjara," kata mama Murni berharap kisya dan Jino bisa memaafkan Rosaline.


Jino sendiri hanya terdiam. Dia hanya bisa menatap sang istri tanpa bisa berkata apapun.

__ADS_1


"Rosaline sudah pembunuh anaku dan apakah dengan memaafkan dia anakku bisa kembali?" kata Kisya dengan tubuh yang bergetar, wanita itu mengingat kembali masa-masa di mana dia kehilangan janin di dalam rahimnya.


"Sabarlah Sayang, kita akan mendapatkan anak kembali, setelah ini. Aku tidak memaksamu untuk memaafkan Rosaline, itu semua tergantung kepada keputusanmu, bahkan Mama dan papa tidak akan bisa mengubah keputusanmu Sayang. Tenanglah aku akan selalu mendukungmu, mendukung semua keinginanmu," ungkap Jino kepada sang istri, pria itu langsung memeluk lembut sang istri memberikan dukungan kepada istri kesayangannya.


"Benar sekali Kisya, kalau memang kamu tidak setuju papa membebaskan rosaline tidak apa-apa. Mama akan segera menelepon papa agar menggagalkan niatnya. Mama sebenarnya merasa kasihan juga kalau Rosaline harus dipenjarakan selama itu," kata mama Murni dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maksudku sebaiknya Mama urungkan saja niat Papa, untuk mengeluarkan Rosaline," kata Jino kepada mama Murni. Pria itu tidak tega melihat Kisya yang terdiam pilu, tubuhnya sangat bergetar tidak bisa berkata apapun. Jino paling tidak suka melihat istrinya bersedih.


"Tapi kamu harus ingat Jino, Rosaline adalah yang membantu kita, membantu Perusahaan kita kembali berjaya seperti ini lagi, masih ada saham Rosaline di perusahaan kita, dan itu sangat membantu, apalagi saham gadis itu terhitung banyak. Karena itulah papa memutuskan untuk membebaskan Rosaline sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu Perusahaan kita," kata mama Murni dengan suara yang pelan, namun tetap saja terdengar begitu menyakitkan di telinga Kisya.


"Kenapa sih Mama selalu mengungkit perusahaan itu terus, Jino yang akan mengatur perusahaan, agar kembali bangkit tanpa bantuan Rosaline. Jino akan mengembalikan saham Rosaline dan semua aset milik Rosaline," kata Jino dengan suara yang lantang, pria itu benar-benar tak suka istrinya meneteskan air mata, benar saja memang, Kisya sudah meneteskan air matanya.


"Tapi Jino, kamu harus mengerti!"


"Sudahlah Ma! Itu urusan Jino, kenapa Mama bersikeras," bentak Jino dengan kemarahannya.


Mama Murni begitu terkejut, begitu pula dengan Kisya. Mama Murni akhirnya menundukkan wajahnya, dan meneteskan air mata. Kisya sangat gugup saat itu, dia tidak tahu harus berbuat apa, tetapi melihat mama Murni yang menangis seperti itu, membuat Kisya harus mengubah pendiriannya, dia harus menerima dan memaafkan Rosaline. Kisya tidak bisa membiarkan Jino dan mama Murni bertengkar karena dirinya, karena keegoisannya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Halo kak sesuai permintaan di kolom komentar bahwa aku akan memberikan aroma baru di rumah tangga Jino dan Kisya. bersiaplah.


Jangan lupa like dan vote ya kak.


__ADS_2